Visinema Pictures menghadirkan kisah nyata atlet e-sport Filipina, Kairi Onic, ke layar lebar lewat film Nobody Loves Kay. Film ini menyoroti perjalanan seorang remaja yang ingin menjadi pro player, tetapi harus berhadapan dengan penolakan keluarga dan dinamika pertemanan di sekitarnya.
Bima Azriel dipercaya memerankan tokoh Kay, sosok anak sederhana yang tinggal bersama eyang dan memiliki keterbatasan ekonomi. Karakter itu digambarkan tetap gigih mengejar mimpi di dunia game online meski jalan yang ditempuh tidak mudah.
Perjuangan Kay di tengah penolakan keluarga
Kay digambarkan punya cita-cita besar sebagai atlet esports profesional. Namun, keinginan itu tidak langsung mendapat restu dari ibunya yang bekerja di luar negeri.
Penolakan tersebut berangkat dari pandangan umum orang tua terhadap anak yang bermain game online. Film ini lalu mengulas bagaimana Kay berusaha membuktikan bahwa kemampuan di dunia gim juga bisa membuka jalan sukses.
Bima Azriel menyebut tokohnya melalui proses panjang menuju tujuan yang diinginkan. Ia menegaskan bahwa perjuangan Kay menjadi inti cerita yang ditampilkan dalam film.
Persahabatan, cinta, dan konflik yang ikut membentuk cerita
Nobody Loves Kay tidak hanya berfokus pada ambisi menjadi pro player. Film ini juga membawa unsur persahabatan, romansa remaja, dan hubungan anak dengan orang tua sebagai bagian dari konflik utama.
Dalam lingkaran pertemanan Kay, ada Ido yang diperankan Reybong dan Aurelio yang diperankan Joshia Frederico. Di tengah hubungan tiga sahabat itu, hadir pula Bebe yang diperankan Ayastrophiile.
Kehadiran Bebe disebut memunculkan konflik baru di antara mereka. Aya, nama akrab Ayastrophiile, memberi isyarat bahwa karakter Bebe menyimpan lapisan sikap yang belum bisa langsung ditebak penonton.
Amanda jadi pengingat soal pendidikan dan mimpi
Di sisi romansa, Aurora Ribero memerankan Amanda, teman sekolah Kay di SMA. Karakter ini hadir sebagai sosok yang mengingatkan Kay agar tetap menjaga keseimbangan antara pendidikan dan cita-cita menjadi pro player.
Kehadiran Amanda memperkuat sisi remaja dalam cerita, sekaligus memberi konteks bahwa perjalanan Kay tidak hanya soal game. Film ini memadukan mimpi, tekanan keluarga, dan relasi sosial dalam satu alur yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Cerita Nobody Loves Kay juga memperlihatkan bagaimana dunia e-sport dipandang dari sudut yang lebih personal. Dengan latar perjuangan seorang remaja sederhana, film ini mencoba menunjukkan bahwa keberhasilan di dunia game tidak selalu datang tanpa pertentangan, terutama saat mimpi harus berhadapan langsung dengan harapan keluarga dan lingkungan.
Source: www.suara.com