Tertunda 90 Menit Di Specteve, Efek Rumah Kaca Bawa Emosi Munir Lewat Di Udara

Efek Rumah Kaca tampil sebagai salah satu penampil di festival musik Specteve 2026 yang digelar di Summarecon Mall Bekasi, Sabtu (30/5/2026) malam. Penampilan mereka sempat tertunda sekitar 90 menit karena kendala teknis yang tidak terduga, namun antusiasme penonton tetap terjaga hingga band ini akhirnya naik panggung.

Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, menyampaikan rasa terima kasih kepada para penonton yang sabar menunggu. Ia mengatakan, “Terima kasih buat teman-teman semua yang sudah sabar menanti di tengah, mmm ketidakpastian, tapi akhirnya kami bisa main di sini,” saat menyapa penonton di lokasi acara.

Penampilan yang sempat mundur

Jadwal awal penampilan ERK sebenarnya tercatat pada pukul 17.00 WIB. Namun, gangguan teknis membuat mereka baru memulai aksi panggung pada pukul 18.30 WIB, sehingga penonton harus menunggu lebih lama dari rencana semula.

Meski situasi sempat molor, Cholil tetap memberi doa agar festival berjalan lancar sampai acara berakhir. Ia menyampaikan harapan itu dengan singkat, “Semoga acara berjalan lancar sampai malam,” ujarnya di atas panggung.

Membawa lagu-lagu yang akrab di telinga penggemar

Saat tampil di Infinite Stage, Efek Rumah Kaca membawakan lima lagu yang sudah dikenal luas oleh para pendengarnya. Beberapa di antaranya adalah “Ballerina”, “Sebelah Mata”, “Cinta Melulu”, dan “Di Udara” yang langsung mendapat sambutan antusias.

Lagu “Di Udara” menjadi salah satu momen paling emosional dalam penampilan tersebut. Lewat lagu itu, Efek Rumah Kaca menampilkan wajah Munir, aktivis HAM yang meninggal dunia karena diracun, sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang wafat pada 7 September 2004.

Resonansi yang dirasakan penonton

Pesan di balik lagu-lagu Efek Rumah Kaca juga dirasakan kuat oleh penonton yang hadir. Salah satunya Haidar, penggemar yang datang dari Depok, yang menilai band tersebut kerap menyuarakan keresahan masyarakat.

Menurut Haidar, “Iya memang menyuarakan keresahan rakyat,” dan ia juga menyebut “Ballerina” sebagai lagu favorit karena liriknya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengaku sempat kesal karena jadwal tampil mundur, tetapi tetap memahami bahwa masalah teknis bisa terjadi dalam sebuah acara musik.

Respons seperti itu memperlihatkan bahwa penampilan Efek Rumah Kaca di Specteve 2026 bukan hanya soal hiburan, tetapi juga ruang bagi musik yang membawa pesan sosial dan emosional. Kombinasi antara lagu-lagu populer, simbol penghormatan lewat “Di Udara”, dan kedekatan lirik dengan pengalaman pendengar membuat aksi panggung mereka meninggalkan kesan kuat bagi penonton yang bertahan hingga mereka tampil.

Source: www.suara.com
Terkait