Di tengah perdebatan soal peran kecerdasan buatan dalam industri kreatif, Slank justru memilih memakainya untuk dua video musik lagu terbaru mereka, PPN 12% dan Rusak Ancur. Langkah ini menunjukkan bahwa band rock legendaris tersebut melihat AI sebagai alat bantu kreatif, bukan ancaman bagi proses berkarya.
Bimbim menegaskan pemanfaatan AI tidak dilakukan sekadar mengikuti tren. Menurutnya, Slank terbiasa terbuka terhadap teknologi baru dan melihat AI sebagai “mainan baru” yang bisa memperluas kemungkinan visual dalam musik.
Dua pendekatan visual yang berbeda
Pada video musik PPN 12%, Slank memakai AI secara penuh tanpa pengambilan gambar konvensional. Video ini disutradarai Okka Putra dan dirancang untuk menampilkan visual yang sepenuhnya dibangun melalui teknologi kecerdasan buatan.
Sementara itu, Rusak Ancur mengambil jalur berbeda dengan konsep hibrida. Video garapan Bayu Poetra ini memadukan rekaman video asli dengan elemen visual yang dihasilkan AI, sehingga hasilnya tetap menyisakan sentuhan real footage.
Perbedaan pendekatan itu memperlihatkan bahwa AI tidak dipakai Slank sebagai formula tunggal. Teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan cerita dan karakter lagu yang ingin disampaikan.
AI sebagai alat, bukan pengganti ide
Bimbim menilai teknologi seperti AI tidak pantas diperlakukan sebagai ancaman. Ia menyebut perkembangan teknologi justru bisa membantu musisi menjangkau bentuk ekspresi baru yang sebelumnya sulit diwujudkan lewat produksi biasa.
Ia juga menekankan bahwa kualitas hasil AI sangat dipengaruhi oleh orang yang mengoperasikannya. Dalam pandangannya, ide yang kuat, kreativitas, dan instruksi yang tepat akan menghasilkan keluaran yang lebih baik.
Kutipan Bimbim memperjelas pandangan itu: “Kalau kita pinter, dia juga jadi lebih bagus.” Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinan Slank bahwa teknologi tetap bergantung pada kualitas gagasan manusia.
Visual besar untuk gagasan yang lebih liar
Pemakaian AI juga memberi ruang bagi Slank untuk menggarap ide yang lebih bebas dan imajinatif. Dalam PPN 12%, misalnya, Bimbim menyebut mereka ingin menghadirkan sosok pahlawan ala Robin Hood versi masa kini.
Konsep itu digambarkan lewat narasi visual tentang merampok “dark business” lalu menyebarkan hasilnya kepada rakyat. Bagi Slank, ide semacam ini lebih leluasa diterjemahkan melalui AI dibandingkan produksi video yang sepenuhnya konvensional.
Bimbim menilai teknologi tersebut bisa menjadi medium untuk mengeksekusi gagasan yang luas tanpa terlalu banyak batas teknis. Karena itu, AI dilihat sebagai sarana untuk memperkuat imajinasi, bukan menggantikan peran manusia di balik ide kreatif.
Tetap berpijak pada realitas sosial
Meski mengandalkan AI dalam proses visual tertentu, Slank menegaskan bahwa sumber utama karya mereka tetap berasal dari realitas sosial. Inspirasi lagu dan video musik mereka lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat dan pemberitaan.
Dengan kata lain, AI hanya berfungsi sebagai medium penyampai pesan. Isi kritik, sudut pandang, dan energi sosial di dalam karya tetap bertumpu pada pengalaman dan kepekaan Slank terhadap keadaan sekitar.
Bagi band yang digawangi Kaka, Bimbim, Ridho, Ivanka, dan Abdee itu, teknologi bisa berubah mengikuti zaman, tetapi sikap kritis terhadap realitas tetap menjadi inti dari karya yang mereka hasilkan. Dalam konteks itu, AI hadir sebagai alat kerja yang membantu Slank memperluas cara bercerita tanpa melepaskan identitas musikal dan sikap sosial mereka.
Source: lifestyle.bisnis.com