
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Ahmad Mahendra menegaskan bahwa ruang budaya dan art space tidak perlu dipisahkan dari masyarakat maupun dari modernitas. Ia menilai ruang-ruang semacam itu justru harus menyatu dengan kehidupan publik agar lebih dekat, relevan, dan mudah diakses.
Pandangan itu sejalan dengan munculnya ruang kreatif yang menggabungkan budaya, kuliner, dan aktivitas harian masyarakat. Salah satu contoh terbarunya adalah The Banjoemas Resto & Cafe di kawasan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, yang memadukan sajian khas Banyumas dengan nuansa ruang budaya.
Budaya yang hadir di ruang publik
Ahmad Mahendra menyebut Kementerian Kebudayaan tengah mendorong tempat-tempat agar punya daya guna bagi pemajuan kebudayaan. Dalam acara grand opening The Banjoemas Resto & Cafe di TIM, ia menyebut inisiatif seperti ini sebagai langkah yang “jenius” karena membawa budaya lebih dekat ke publik.
Pendekatan seperti ini dianggap efektif karena tidak selalu menempatkan budaya dalam ruang formal yang kaku. Sebaliknya, budaya bisa hadir lewat pengalaman sehari-hari yang ringan, akrab, dan tidak terasa jauh dari kehidupan masyarakat kota.
Kuliner sebagai pintu masuk budaya
Dalam pandangan Kemenbud, pengenalan budaya dapat dimulai lewat pendekatan yang lebih lunak atau soft approach. Kuliner menjadi salah satu jalur yang dinilai paling mudah karena masyarakat bisa langsung merasakan identitas daerah melalui makanan.
Banyumas disebut memiliki kekayaan cita rasa yang kuat, mulai dari sroto, mendoan, hingga cimplung. Dari sana, apresiasi terhadap budaya daerah bisa berkembang lebih luas ke bentuk kesenian lain yang juga lahir dari wilayah tersebut.
Dari makanan ke seni pertunjukan
Ahmad Mahendra menjelaskan bahwa pengenalan budaya tidak berhenti pada makanan. Dari kuliner, publik bisa diarahkan untuk mengenal seni pertunjukan seperti tari ronggeng dan lengger, sekaligus karya budaya lain seperti film Gowok.
Ia juga menyinggung nama-nama seniman Banyumas yang telah dikenal luas, seperti Ahmad Tohari dan Rianto. Rangkaian itu menunjukkan bahwa satu identitas daerah memiliki banyak lapisan yang saling terhubung, dari rasa, seni, hingga tokoh kreatifnya.
Art space tidak harus terpusat
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Mahendra mendorong adanya sesi khusus yang menghadirkan pertunjukan budaya di ruang publik. Ia menilai lengger, misalnya, bisa tampil lebih sering di ruang-ruang terbuka dan tidak hanya di tempat yang selama ini sudah dikenal sebagai pusat aktivitas seni.
Gagasan itu juga berkaitan dengan upaya memperkuat posisi art space di Jakarta. Ruang budaya dinilai tidak perlu terpusat pada lokasi tertentu saja, melainkan dapat tumbuh di berbagai titik yang lebih dekat dengan masyarakat.
Identitas Banyumas di tingkat nasional
The Banjoemas Resto & Cafe dibentuk oleh para alumni Universitas Jenderal Soedirman dan berada di bawah koperasi bernama Koperasi Bebrayan Akshaya Soedirman. Ketua Umum Keluarga Alumni Unsoed Abdul Kholik mengatakan pihaknya ingin membawa identitas Banyumas ke tingkat nasional.
Ia menilai budaya lokal perlu dihargai dari banyak sisi, bukan hanya dari kuliner, tetapi juga estetika dan nilai etos yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, cara pandang seperti ini penting agar budaya daerah tidak hanya dikenali sebagai produk rasa, tetapi juga sebagai bagian dari karakter masyarakat.
Memori daerah yang terus hidup
Abdul Kholik juga menjelaskan bahwa perkumpulan alumni tersebut telah tersebar di berbagai daerah. Meski tidak semua anggotanya berasal dari Banyumas, mereka tetap memiliki keterikatan dan memori terhadap daerah itu, terutama lewat kuliner seperti mendoan.
Harapan serupa juga muncul agar semakin banyak orang mengenal budaya daerah melalui makanan dan ruang kreatif. Mendoan khas Banyumas sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan, sementara tempe masih terus diupayakan untuk memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Dengan begitu, ruang budaya, kuliner, dan aktivitas publik bisa berjalan bersama sebagai pintu masuk untuk mengenalkan identitas daerah. Model seperti The Banjoemas Resto & Cafe menunjukkan bahwa art space dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat tanpa kehilangan nilai kebudayaannya.
Source: lifestyle.bisnis.com








