Sepintas, lembar uang kuno itu tampak seperti koleksi numismatik biasa. Namun, di balik gambar dua figur wayang orang yang saling berhadapan, tersimpan jejak sejarah, budaya, dan politik yang membentuk zamannya.
Uang kertas 10 gulden De Javasche Bank terbitan 31 Agustus 1939 menjadi salah satu sorotan dalam pameran temporer In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia. Lembaran ini memperlihatkan bagaimana mata uang bisa memuat makna yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai alat pembayaran.
Wayang di atas uang
Pameran tersebut menampilkan seri uang wayang yang diterbitkan De Javasche Bank pada 1933–1939. Di ruang pamer, pengunjung dapat melihat delapan nominal lengkap, dari 5 hingga 1.000 gulden, beserta sejumlah replika yang membantu menjelaskan konteks sejarahnya.
Selain seri wayang, museum juga memamerkan mata uang Hindia Belanda yang beredar sebelumnya. Ada pula uang pendudukan Jepang yang menunjukkan bahwa simbol budaya pernah digunakan dalam desain mata uang pada periode yang berbeda.
Latar di balik pemilihan tema
Pemilihan wayang tidak muncul begitu saja. Museum Bank Indonesia menempatkan tema ini sebagai pintu masuk untuk membaca salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO melalui medium uang.
Untuk merangkai pameran, tim kurator menelusuri latar sejarah, sosial, dan budaya yang melingkupi penerbitan uang tersebut. Penelusuran itu juga melibatkan berbagai lembaga budaya serta perjalanan ke Yogyakarta dan Solo.
Kepala Museum Bank Indonesia Rio Wardhanu mengatakan, “Pameran ini tujuannya melestarikan, mengedukasi, dan membangun sinergi lintas budaya.”
Jejak L.C.J. Burting Houwink
Salah satu temuan penting dari penelusuran itu adalah peran Presiden DJB saat itu, L.C.J. Burting Houwink. Menurut kurator pameran, Ide Nada Imandiharja, Burting Houwink memiliki minat terhadap kebudayaan Nusantara dan pertunjukan wayang.
Ide juga menyebut Burting Houwink punya hubungan dekat dengan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Kedekatan itu disebut ikut membuatnya akrab dengan lingkungan budaya Jawa, yang kemudian memengaruhi kehadiran figur wayang pada mata uang DJB.
“Burting Houwink memang memiliki minat terhadap kebudayaan Nusantara dan pertunjukan wayang,” kata Ide Nada Imandiharja.
Di balik desain, ada strategi
Kisah uang wayang tidak berhenti pada ketertarikan personal seorang pejabat kolonial. Pada masa itu, pemerintah kolonial juga menghadapi tekanan akibat krisis ekonomi dunia dan meningkatnya gejolak sosial di masyarakat.
Dalam kondisi seperti itu, simbol yang dekat dengan publik menjadi penting. Wayang dipilih karena memiliki kedekatan budaya yang kuat dengan masyarakat, sehingga kehadirannya di uang diharapkan dapat menumbuhkan penerimaan terhadap mata uang yang beredar.
“Wayang sangat dekat dengan masyarakat pada masa itu. Karena itu, kemunculannya di uang dapat menjadi daya tarik agar masyarakat mau menggunakan uang tersebut,” ujar Ide.
Uang sebagai media politik dan budaya
Pola serupa juga terlihat pada masa pendudukan Jepang. Pada awal kedatangannya, Jepang menggunakan gambar pemandangan umum Asia Tenggara pada mata uang yang diedarkan di wilayah jajahannya.
Setelah memahami kondisi masyarakat setempat, mereka mulai menampilkan simbol-simbol budaya Nusantara seperti Gatotkaca, rumah adat, dan figur masyarakat daerah. Langkah itu menunjukkan bahwa uang dapat dipakai sebagai media komunikasi yang memuat pesan politik sekaligus upaya membangun kedekatan dengan masyarakat.
Bagi Museum Bank Indonesia, pesan itu penting untuk dibaca ulang oleh publik. “Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa setiap uang punya cerita,” ujar Ide.
Melalui pameran In Lakon: Wayang Orang Dadi Saksi, lembar 10 gulden itu tidak lagi hanya dipahami sebagai uang lama bergambar wayang. Ia menjadi saksi bagaimana budaya pernah dipakai untuk membangun kepercayaan, membentuk identitas, dan memperkuat strategi kekuasaan pada masanya.
Source: lifestyle.bisnis.com






