Kisah Oh Mi Ja di Doctor on the Edge menarik perhatian karena keputusan yang ia ambil justru berlawanan dengan harapan orang-orang di sekitarnya. Saat warga Pyeondongdo mengetahui bahwa ia mengidap kanker stadium akhir, banyak pihak langsung mendorongnya menjalani pengobatan.
Namun, Mi Ja memilih menolak. Ia bahkan sengaja tidak menghadiri jadwal pengobatan yang sudah disusun oleh cucunya sendiri, Yuk Ha Ri. Keputusan itu bukan sekadar bentuk penolakan biasa, melainkan hasil dari ketakutan, kelelahan, dan cara pandangnya terhadap sisa hidup yang ia miliki.
Ketakutan terhadap efek samping jadi alasan pertama
Mi Ja sebenarnya sempat setuju untuk menjalani pengobatan. Ia datang ke rumah sakit pusat untuk menjalani serangkaian tes sebelum berbicara dengan Do Ji Ui, dokter yang juga pacar Ha Ri.
Dalam percakapan itu, Ji Ui menjelaskan efek samping yang mungkin terjadi. Penjelasan tersebut justru membuat Mi Ja semakin ragu karena ia membayangkan pengobatan bisa berakhir buruk dan merenggut nyawanya.
Yang paling ia takuti bukan hanya rasa sakit, tetapi juga dampak emosional yang akan diterima Ha Ri. Mi Ja merasa, jika pengobatan gagal, cucunya akan menjadi orang yang paling terluka.
Mi Ja juga sudah lelah menjalani pengobatan
Alasan kedua datang dari pengalaman panjang Mi Ja menghadapi kanker. Penyakit itu ternyata sudah ada cukup lama, dan ia pernah menjalani rangkaian pengobatan agar bisa sembuh total.
Upaya itu sempat berhasil. Dokter bahkan pernah menyatakan bahwa Mi Ja sudah sembuh total dari kanker.
Situasi berubah ketika penyakit tersebut muncul lagi. Kondisi itu membuat Mi Ja kembali takut, tetapi pada saat yang sama ia juga mengingat betapa menyiksanya pengobatan yang pernah ia jalani dulu.
Ia merasa proses itu penuh rasa sakit dan menguras tenaga. Karena itulah, Mi Ja tidak ingin kembali melalui rangkaian perawatan yang menurutnya menyakitkan.
Yang ia kejar bukan perawatan, melainkan waktu bersama cucunya
Dari semua pertimbangannya, Mi Ja kini hanya punya satu harapan besar. Ia ingin menjalani hidup normal bersama Yuk Ha Ri tanpa harus terus berada di rumah sakit.
Mi Ja menyadari bahwa waktu yang tersisa tidak banyak. Ia tidak ingin membuangnya untuk pengobatan, karena yang paling berharga baginya justru momen bersama cucunya.
Setiap kali melihat pasien lain meninggal, pikirannya langsung tertuju pada Ha Ri. Ia membayangkan cucunya juga akan merasakan kesedihan yang sama kelak, dan itu membuatnya semakin yakin untuk tidak memaksa diri menjalani pengobatan.
Mi Ja ingin meninggal sebagai nenek Ha Ri, bukan sebagai pasien rumah sakit. Baginya, kebersamaan singkat yang tersisa jauh lebih penting daripada harapan sembuh yang belum tentu bisa ia raih.
Sikap ini membuat penolakan Mi Ja terasa lebih kompleks daripada sekadar ketidakpatuhan terhadap saran dokter. Do Ji Ui pun tidak bisa memaksanya, karena ia memahami sepenuhnya alasan di balik keputusan sang nenek.
Di sisi lain, pilihan Mi Ja juga membuka pertanyaan baru tentang bagaimana Ha Ri akan menerima keputusan tersebut. Hubungan keluarga, rasa takut kehilangan, dan harapan untuk tetap dekat menjadi inti emosional yang membuat kisah Oh Mi Ja begitu kuat di Doctor on the Edge.
