Serial Every Year After menarik perhatian karena membawa kisah novel terlaris Every Summer After karya Carley Fortune ke layar dengan pendekatan yang tetap emosional dan dekat dengan pengalaman hidup banyak orang. Tayang eksklusif di Prime Video, serial ini mengikuti perjalanan Percy dan Sam dari masa remaja hingga fase ketika keputusan-keputusan besar membentuk arah hidup mereka.
Latar Barry’s Bay memberi nuansa musim panas yang kuat, sementara alur yang bergerak antara masa lalu dan masa kini menjaga cerita tetap hangat sekaligus menyisakan ruang untuk nostalgia. Bagi penonton yang mencari drama romantis dengan kedalaman emosional, Every Year After menawarkan lebih dari sekadar kisah cinta biasa.
Chemistry pemeran terasa meyakinkan
Kekuatan utama serial ini terletak pada interaksi para pemain yang terasa natural. Matt Cornett sebagai Sam dan Sadie Soverall sebagai Percy membangun dinamika yang meyakinkan, sehingga hubungan keduanya terasa hidup sejak awal.
Daya tarik itu juga muncul lewat relasi keluarga dan pertemanan yang digambarkan dengan detail. Matt Cornett dan Michael Bradway, misalnya, menghadirkan hubungan kakak-beradik Sam dan Charlie yang hangat, namun tetap memiliki sisi rumit.
Di sisi lain, hubungan Percy dengan Chantal yang diperankan Aurora Perrineau, serta usahanya memperbaiki relasi dengan Delilah yang diperankan Abigail Cowen, memberi lapisan emosi tambahan. Serial ini menunjukkan bahwa persahabatan yang retak bisa meninggalkan luka yang sama beratnya dengan patah hati.
Romansa masa muda yang mudah memicu nostalgia
Cerita cinta pertama tetap menjadi salah satu tema yang paling kuat di layar, dan Every Year After memanfaatkannya dengan efektif. Serial ini memperlihatkan euforia jatuh cinta, rasa kehilangan, dan harapan untuk kesempatan kedua melalui alur yang bolak-balik antara masa lalu dan masa kini.
Nuansa musim panas dan petualangan di tepi danau membuat kisahnya terasa akrab. Serial ini mengingatkan bahwa ada orang-orang yang, sekalipun sudah jauh, tetap meninggalkan jejak emosional yang sulit dihapus.
Pendekatan tersebut juga membuat romansa Percy dan Sam terasa relevan bagi banyak penonton. Kisahnya tidak hanya soal bertemu orang baru, tetapi juga tentang kemungkinan kembali pada seseorang yang pernah sangat berarti.
Tidak berhenti di kisah cinta
Every Year After memang menempatkan romansa sebagai pusat cerita, tetapi isi dramanya jauh lebih luas. Serial ini juga mengangkat tema kehilangan, keluarga, pengampunan, persahabatan, dan konsekuensi dari pilihan-pilihan hidup.
Karakter-karakternya tidak dibuat sempurna, sehingga konflik terasa lebih dekat dengan realitas. Mereka membuat kesalahan, menyimpan penyesalan, lalu berusaha berdamai dengan masa lalu yang terus memengaruhi masa kini.
Pendekatan ini membuat serial tersebut lebih dari sekadar drama romantis. Ceritanya bergerak sebagai kisah tentang tumbuh dewasa, menerima kenyataan, dan tetap berani melangkah maju meski luka belum sepenuhnya hilang.
Musik ikut membangun emosi cerita
Selain visual dan akting, Every Year After juga menonjol lewat pilihan lagu yang memperkuat suasana. Musiknya tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut mengiringi momen cinta, patah hati, dan reuni yang menjadi inti perjalanan Percy dan Sam.
Beberapa lagu yang hadir dalam serial ini antara lain:
| Judul Lagu | Artis |
|---|---|
| Northern Attitude | Noah Kahan |
| Light On | Maggie Rogers |
| Badlands | Mumford & Sons (feat. Gracie Abrams) |
| Island in the Sun | Weezer |
| Fine Line | Harry Styles |
| Ocean Eyes | Billie Eilish |
| Here You Come Again | Dolly Parton |
Pemilihan lagu-lagu tersebut membantu menjaga konsistensi emosi di setiap adegan. Dengan kombinasi cerita, akting, dan soundtrack yang kuat, Every Year After menjadi drama romantis yang layak masuk daftar tontonan di Prime Video.
