Dipha Barus mengatakan kolaborasinya dengan Andien untuk lagu dan album Sehidup Semusik berjalan mulus karena keduanya memiliki kedekatan lama dan selera musik yang tumbuh dari era yang sama. Ia menilai hubungan kerja itu tidak membutuhkan banyak penyesuaian karena keduanya sudah memahami karakter musikal masing-masing.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Dipha menegaskan bahwa kerja sama tersebut terasa natural. Ia menyebut mereka “terlahir dari frekuensi yang sama”, sehingga proses kreatif bisa mengalir tanpa hambatan berarti.
Kesamaan referensi musik jadi fondasi
Dipha menjelaskan bahwa rasa nyaman dalam proyek ini muncul dari sejarah pertemanan yang sudah lama terjalin. Keduanya juga dibentuk oleh referensi musik yang serupa, sehingga gagasan aransemen dan warna lagu mudah disatukan.
Ia bahkan mengaitkan sejumlah bagian lagu dalam album itu dengan memori lama yang pernah ia kenal dari perjalanan musik Andien. Menurut Dipha, beberapa karakter lagu di album baru itu mengingatkannya pada masa ketika Andien masih bersama grup BiruMuda saat duduk di bangku SMA.
“Ini dari tadi gue lagi intro dan lagu ke-7 jadi ingat dia jaman dulu BiruMuda,” ujar Dipha, yang kemudian disambut tawa Andien saat sesi konferensi pers.
Nuansa lama yang terasa dalam karya baru
Dipha menilai album Sehidup Semusik masih memunculkan ciri khas musikal Andien yang sudah dikenal selama 26 tahun berkarier. Ia menyebut progresi akor dalam beberapa lagu mampu menghadirkan harmoni yang dekat dengan identitas vokal Andien.
Dari sisi produksi, karakter itu menjadi nilai penting karena lagu tidak hanya terdengar modern, tetapi juga membawa jejak musikal yang akrab bagi pendengar lama. Perpaduan ini membuat kolaborasi Dipha dan Andien terasa bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan juga pertemuan dua selera yang sudah lama saling mengenali.
Andien ingin ajak pendengar ikut berdansa
Andien menjelaskan bahwa proyek bersama Dipha sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun lalu. Namun, agenda masing-masing sempat membuat kolaborasi itu tertunda sebelum akhirnya bisa diwujudkan dalam album barunya.
Ia menyebut hasil sentuhan Dipha pada lagu Sehidup Semusik punya energi yang kuat dan ceria. Andien menggambarkannya sebagai lagu yang “gebyar”, bersemangat, dan menyenangkan, dengan harapan pendengar ikut terbawa untuk berdansa.
Album ke-9 Andien libatkan sembilan produser
Album Sehidup Semusik menjadi album ke-9 dalam katalog musik Andien. Dalam penggarapannya, ia melibatkan sembilan produser musik, termasuk Dipha Barus, Ali Akbar Sugiri, Clara Riva, Nikita Dompas, Lafa Pratomo, Iqbal Siregar, Kevin Queency, Kareem Soenharho, dan Abenk Alter.
Album ini memuat 13 lagu dengan ragam nuansa yang disusun untuk menghadirkan warna berbeda di setiap trek. Daftar lagunya meliputi Intro, Naksir, Cosmic Romantic, Jatuh Pelan, Mata Ketiga (Tutto Bene), Nostalgia, Nonchalant, Sentil Kalau Nakal, Manusia Favorit, Merona Rasa, Ujung-ujungnya Kamu, Jika Nanti Kita Lupa, dan Sehidup Semusik.
Kehadiran Dipha di album ini menambah lapisan produksi yang mempertemukan karakter elektronik dengan vokal khas Andien. Kombinasi itu membuat Sehidup Semusik diposisikan sebagai proyek yang kuat secara musikal sekaligus dekat dengan perjalanan panjang Andien di industri musik Indonesia.
