Reality Club menjadikan rilis vinyl untuk album Presents… sebagai bagian dari rencana panjang yang sudah dipikirkan sejak beberapa tahun lalu. Album yang awalnya meluncur pada 2023 itu akhirnya hadir dalam format piringan hitam setelah band menemukan waktu dan dukungan yang tepat untuk mewujudkannya.
Langkah tersebut juga memperlihatkan perubahan cara musisi memandang rilisan fisik di tengah dominasi layanan digital. Bagi Reality Club, vinyl bukan sekadar format nostalgia, tetapi medium yang memberi pengalaman lebih personal bagi pendengar sekaligus membuka peluang baru dalam pengembangan karya mereka.
Mimpi rilisan fisik yang disusun sejak lama
Faiz Novascotia Saripudin menjelaskan bahwa keinginan memiliki album dalam bentuk vinyl sudah muncul sejak penggarapan Never Get Better pada 2017. Menurut dia, proses itu tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan kesiapan produksi yang matang.
Faiz menegaskan bahwa keputusan merilis vinyl bukan langkah mendadak. Ia menyebut gagasan tersebut sudah dibahas dari album pertama ke album kedua, lalu baru bisa direalisasikan bersama Universal Music Indonesia.
Nugi Wicaksono juga menekankan bahwa perilisan vinyl masuk ke dalam strategi bisnis yang disusun bersama label. Dari sudut pandang band, langkah itu tidak hanya mengikuti tren, tetapi menjadi bagian dari pengembangan karier yang lebih terarah.
Kenapa Presents… dipilih lebih dulu
Fathia Izzati, atau Chia, menyebut Presents… sebagai album yang paling cocok untuk debut format vinyl. Ia menilai album tersebut punya karakter sinematik, baik dari tema maupun cara promosi yang dibangun.
Album itu juga memuat unsur musikal yang lebih kaya karena Reality Club menggandeng Bilal Indrajaya dan Budapest Scoring Orchestra. Total terdapat 11 lagu di dalamnya, dan unsur orkestrasi membuat album ini terasa selaras dengan medium piringan hitam.
Vinyl Presents… dirilis pada 11 Juni 2026 dan habis terjual dalam waktu dua hari. Respons itu menunjukkan bahwa minat terhadap rilisan fisik masih kuat, terutama ketika formatnya dipadukan dengan konsep album yang dianggap punya nilai koleksi.
Daya tarik vinyl bagi pendengar muda
Faiz melihat minat generasi Milenial dan Gen Z terhadap vinyl tidak lepas dari keinginan memiliki musik dalam bentuk nyata. Ia menilai piringan hitam menawarkan pengalaman yang berbeda karena penggemar bisa memegang langsung karya yang mereka dengarkan.
Menurut Faiz, aspek visual dan sensasi mendengar suara dari vinyl juga memberi kesan yang lebih personal. Artwork berukuran besar dan karakter audio yang berbeda dari format digital menjadi daya tarik tambahan bagi pendengar.
Chia berharap perilisan vinyl tidak berhenti di Presents… saja. Ia membuka peluang agar album lain Reality Club juga bisa hadir dalam format serupa, termasuk kemungkinan edisi khusus dengan warna piringan yang berbeda.
Makna baru setelah tiga tahun
Bagi para personel, merilis ulang album dalam format vinyl juga memberi ruang untuk melihat karya lama dari sudut pandang baru. Setelah tiga tahun sejak perilisan awal, beberapa lagu terasa memiliki lapisan makna yang berbeda bagi mereka.
Era Patigo mencontohkan lagu “Love Epiphany” yang kini ia pandang sebagai catatan perjalanan hidup bersama pasangan. Perubahan tafsir itu menunjukkan bahwa karya musik bisa terus berkembang maknanya seiring waktu berjalan.
Agenda berikutnya: panggung Asia
Setelah vinyl dirilis, Reality Club mulai menyiapkan kegiatan berikutnya yang berfokus pada panggung internasional. Band ini ingin membawa konser perayaan satu dekade perjalanan musik mereka ke lebih banyak kota.
Nugi mengatakan rencana itu mencakup sejumlah kota di Indonesia dan juga beberapa negara di Asia. Dengan begitu, momentum perilisan vinyl tidak berhenti pada produk fisik semata, tetapi juga menjadi pintu menuju rangkaian aktivitas panggung yang lebih luas.
Source: lifestyle.bisnis.com






