Di TikTok, lagu viral tidak selalu naik karena mesin rekomendasi semata. Ada sosok lain yang ikut menentukan lagu mana yang layak didengar banyak orang, yaitu kurator musik.
Mereka bukan penyanyi, produser, atau orang label rekaman. Mereka justru pengguna biasa yang rajin mencari lagu menarik, lalu membagikannya ke ribuan hingga ratusan ribu pengikut lewat konten singkat yang mudah dicerna.
Kurator musik jadi jembatan baru bagi lagu independen
Fenomena ini makin terlihat ketika sebuah lagu diputar berulang kali setelah muncul di video belasan detik. Di balik tren itu, kurator musik sering berperan sebagai pintu masuk awal agar sebuah lagu mendapat perhatian yang lebih luas.
Banyak dari mereka menampilkan potongan lagu, menjelaskan siapa penyanyinya, asal negaranya, dan alasan mengapa lagu itu layak masuk playlist. Cara ini membuat pendengar tidak hanya mengenal lagunya, tetapi juga konteks di balik karya tersebut.
Dampaknya cukup besar bagi musisi independen. Lagu yang sebelumnya sulit menjangkau audiens luas bisa ikut dikenal setelah mendapat sorotan dari akun kurator yang punya basis pengikut aktif.
Jorden Smith dan cara kerja kurator di TikTok
Salah satu nama yang menonjol adalah Jorden Smith, kreator asal Amerika Serikat yang mengelola akun TikTok @infiernosz. Akunnya banyak menampilkan lagu dari musisi independen dan genre yang jarang muncul di halaman For You.
Jorden tidak berhenti pada cuplikan lagu. Ia juga kerap menjelaskan asal-usul genre, pengaruh budaya, dan alasan mengapa sebuah lagu terasa istimewa bagi pendengar.
Ia menilai masih banyak musik berkualitas yang tidak pernah ditemukan audiens hanya karena tidak terbaca oleh algoritma. Jorden mengatakan, ia pernah beralih dari hanya mendengar musik dari negaranya sendiri ke eksplorasi lagu dari Indonesia, Thailand, dan Brasil, lalu menemukan banyak karya bagus yang tidak pernah muncul di playlist-nya karena algoritma tidak mengenal lagu-lagu itu.
Pernyataan itu memperlihatkan ada celah besar dalam cara orang menemukan musik di platform digital. Lagu yang berkualitas belum tentu otomatis terlihat jika tidak lebih dulu diprioritaskan oleh sistem.
Berbeda dari playlist editorial platform streaming
Selama ini, platform seperti Spotify atau Apple Music dikenal mengandalkan playlist editorial untuk memperkenalkan lagu ke pendengar. Playlist itu memang disusun oleh tim khusus, tetapi proses pemilihannya tidak selalu terbuka bagi publik.
Kondisi tersebut membuat peluang musisi independen untuk masuk ke daftar unggulan menjadi lebih terbatas. Di sisi lain, TikTok memberi ruang yang jauh lebih terbuka karena siapa pun bisa menjadi kurator selama punya selera musik yang kuat dan konsisten membagikan temuan baru.
Model ini membuat proses kurasi terasa lebih cair. Tidak dibutuhkan jabatan di industri musik atau jaringan khusus untuk ikut menentukan lagu yang berpotensi viral.
Bukan hanya promosi, tetapi juga masukan untuk musisi
Peran kurator musik di TikTok tidak berhenti pada rekomendasi. Sejumlah kreator, termasuk Jorden, juga memberi masukan kepada musisi independen tentang mixing, struktur lagu, dan peluang karya mereka di pasar.
Bagi musisi yang belum memiliki akses ke produser atau tim A&R, masukan seperti ini bisa membantu mereka membaca kekuatan dan kekurangan karya sendiri. Di tengah banjir konten musik di platform digital, saran dari kurator sering menjadi masukan awal yang relevan.
Keberadaan mereka juga membantu pendengar. Alih-alih hanya melihat lagu yang sudah populer, pengguna bisa menemukan karya yang mungkin tidak pernah disodorkan algoritma.
Kenapa peran kurator manusia masih dibutuhkan
Selama algoritma cenderung mengangkat lagu yang lebih dulu populer, kurator manusia masih punya tempat penting. Mereka menjadi penyaring yang membantu audiens menemukan musik berkualitas di tengah banyaknya pilihan.
Peran ini juga membuka peluang yang lebih besar bagi musisi independen untuk bertemu pendengar baru. Dalam praktiknya, satu rekomendasi singkat bisa membuat sebuah lagu yang sebelumnya sepi perhatian berubah menjadi pembicaraan di linimasa.
Di tengah jutaan lagu yang tersedia di platform digital, kurator musik memastikan masih ada ruang bagi karya yang belum besar untuk didengar. Mereka menjadi pihak yang mengingatkan bahwa viral tidak selalu lahir dari sistem, tetapi juga dari orang-orang yang mau berkata, “coba dengarkan lagu ini.”
