Film Venom: Let There Be Carnage menempatkan Tom Hardy kembali sebagai Eddie Brock, jurnalis yang masih harus hidup berdampingan dengan simbiot Venom. Sekuel ini menghadirkan lawan yang lebih seimbang lewat Carnage, monster merah yang lahir dari Cletus Kasady dan membuat konflik terasa jauh lebih berbahaya.
Di Trans TV, film ini tayang pada Selasa, 30 Juni 2026, pukul 20.00 WIB. Bagi penonton yang mencari aksi cepat, duel ini menawarkan pertarungan visual intens sekaligus komedi ganjil dari hubungan Eddie dan Venom.
Eddie Brock yang tak pernah benar-benar sendirian
Cerita bergerak dari upaya Eddie menjalani hidup normal sambil terus berdebat dengan Venom di dalam tubuhnya. Hubungan keduanya digambarkan seperti pasangan yang sering bertengkar, karena Eddie ingin tenang sebagai jurnalis sementara Venom tetap ingin memangsa penjahat.
Dari dinamika itu, film membangun identitas yang berbeda dari sekadar kisah superhero biasa. Dialog mereka sering memancing tawa dan memberi warna buddy-comedy di tengah ancaman yang semakin keras.
Kemunculan Carnage yang mengubah skala ancaman
Pusat konflik muncul ketika Eddie mendapat kesempatan mewawancarai Cletus Kasady, pembunuh berantai yang menunggu hukuman mati. Situasi berubah kacau saat Kasady menggigit tangan Eddie dan tanpa sengaja menelan sebagian kecil simbiot Venom.
Dari insiden itu lahirlah Carnage, simbiot merah yang disebut lebih besar, lebih kuat, dan lebih haus darah dibanding Venom. Setelah kabur dari penjara, Kasady bergerak dengan satu tujuan, yakni menghancurkan Eddie sambil berusaha menyelamatkan Frances Barrison alias Shriek, kekasih masa kecilnya yang punya kekuatan suara ultrasonik.
Tom Hardy dan Woody Harrelson saling dorong ketegangan
Tom Hardy kembali jadi pusat perhatian karena memerankan Eddie dan Venom dengan dua karakter yang saling bertabrakan. Ia menjaga ritme dialog agar komedi tetap hidup, tanpa menghilangkan rasa frustrasi yang terus membayangi hidup Eddie.
Di sisi lain, Woody Harrelson tampil sebagai Cletus Kasady dengan aura psikopat yang kuat. Penampilan rambut merah berantakan dan tatapan yang liar membuat karakter ini terasa mengganggu sejak awal kemunculannya.
Michelle Williams juga kembali hadir sebagai Anne Weying dan memberi lapisan emosional pada cerita. Meski porsinya tidak sebesar di film pertama, kehadirannya tetap membantu menjaga sisi manusiawi di tengah rangkaian kekacauan.
Andy Serkis menonjolkan gerak Carnage
Sebagai sutradara, Andy Serkis memberi perhatian besar pada tampilan visual dan pergerakan Carnage. Hasilnya, transformasi Kasady menjadi monster merah bertentakel banyak tampak cair, cepat, dan mematikan.
Pendekatan itu membuat Carnage tampil sebagai ancaman yang benar-benar berbeda dari Venom. Pertarungan final di katedral tua lalu menjadi puncak ketegangan yang ditunggu dalam film ini, terutama bagi penonton yang menyukai aksi dengan tempo cepat.
Film yang mengandalkan hiburan murni
Dengan durasi sekitar 97 menit, film ini bergerak singkat dan tidak bertele-tele. Sejumlah kritik memang menilai ceritanya terlalu sederhana, tetapi film ini tetap menawarkan kombinasi yang jelas: aksi tanpa henti, humor yang pas, dan konflik yang langsung ke sasaran.
Formula itu membuat Venom: Let There Be Carnage cocok bagi penonton yang ingin melihat Tom Hardy berhadapan dengan musuh yang seimbang. Dalam paket yang sama, film ini juga menampilkan pertengkaran Eddie dan Venom sebagai daya tarik utama yang menjaga cerita tetap ringan di tengah kekerasan Carnage.
Source: www.suara.com






