Film Lastri: Arwah Kembang Desa segera tayang di bioskop dengan cerita yang tak hanya membawa unsur horor, tetapi juga menyimpan kisah emosional di balik proses produksinya. Film ini menjadi karya terakhir almarhum Gary Iskak sebelum wafat, sekaligus meninggalkan jejak pengabdian yang kini baru terungkap ke publik.
Produser Joe Richard mengungkapkan bahwa Gary sebenarnya sudah dalam kondisi kurang sehat saat syuting berlangsung di Lumajang. Menurut Joe, sang aktor tetap memaksakan diri bekerja profesional meski setiap malam harus membawa tabung oksigen untuk membantu pernapasan.
Perjuangan Gary Iskak di Lokasi Syuting
Dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/7), Joe menceritakan bahwa tim bahkan harus mencari pengisian oksigen ketika tabung yang dibawa Gary habis. Situasi itu membuat proses syuting berjalan dengan perhatian ekstra, tetapi Gary tetap menjaga komitmennya untuk menyelesaikan peran dengan baik.
Joe juga menegaskan bahwa Gary adalah sosok yang sangat tidak enakan kepada orang lain. Karena itu, meski kondisi fisiknya tidak prima dan jalan pun kadang terasa sulit, ia tetap hadir ketika proses pengambilan gambar dimulai.
| Fakta Produksi | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi syuting | Lumajang |
| Kondisi Gary saat syuting | Kurang sehat dan membutuhkan tabung oksigen |
| Tantangan di lokasi | Tim harus mencari pengisian oksigen saat tabung habis |
| Peran Gary | Turenggo |
Meski harus bergantung pada oksigen, Gary tetap mampu tampil kuat saat kamera mulai merekam. Joe menyebut, di depan kamera Gary bisa menutupi rasa sakitnya dan menunjukkan karakter Turenggo sebagai sosok yang tegas dan kuat.
Film Horor yang Mengandalkan Suasana
Sutradara Hendri Tivo menyampaikan bahwa sejak awal ia ingin menghadirkan Lastri: Arwah Kembang Desa sebagai horor yang berbeda. Ia tidak memilih jalur horor yang sepenuhnya bergantung pada jumpscare atau kemunculan hantu seperti pocong dan kuntilanak.
Menurut Hendri, kekuatan utama film ini ada pada suasana mencekam yang dibangun perlahan. Unsur horor dipakai untuk menguatkan atmosfer, sementara nyawa cerita tetap bertumpu pada drama yang kuat dan menyentuh hati.
Mediaindonesia.com mencatat bahwa pendekatan itu membuat film ini tidak hanya menjual ketegangan, tetapi juga menawarkan konflik emosional yang lebih dalam. Karena itu, penonton diharapkan tidak sekadar merasakan takut, melainkan juga mengikuti lapisan dramanya.
Sinopsis Lastri: Arwah Kembang Desa
Cerita film ini berpusat pada Atmi, yang mengalami teror gaib dari arwah yang menuntut balas atas perbuatan masa lalu. Arwah itu dikenal luas oleh masyarakat di sekitar makamnya, terutama saat ada orang yang lewat dengan niat buruk.
Arwah tersebut adalah Lastri, yang dulu dikenal sebagai kembang desa di kampung Bandeng. Ia menikah muda pada usia 18 tahun dengan juragan tambang pasir, Turenggo, sementara banyak lelaki di kampung memendam iri, termasuk Darman yang menjadi saingan Turenggo.
Rasa iri itu kemudian membentuk lingkungan yang menyiksa bagi Lastri. Pada masa itu, Atmi yang berusia 20 tahun juga mencintai Turenggo, lalu bersama Darman menyebarkan rumor buruk tentang Lastri kepada warga kampung dan kepada Turenggo sendiri.
Lastri: Arwah Kembang Desa kini membawa dua sisi penting sekaligus, yakni kisah produksi yang menyentuh dan cerita film yang berlapis konflik. Di balik nuansa horornya, film ini meninggalkan catatan tentang dedikasi terakhir Gary Iskak di layar lebar.
Source: mediaindonesia.com






