Kolaborasi lintas negara antara Kmy Kmo, Luca Sickta, dan Niken Salindry menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar lagu baru. Lewat “Tinggi”, rap Melayu dan vokal tradisional Jawa disatukan untuk menyuarakan pesan tentang budaya, martabat, dan budi pekerti.
Proyek ini langsung menonjol karena membawa dua dunia musik yang berbeda ke dalam satu panggung. Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, lagu ini justru mengajak pendengar kembali melihat akar budaya yang sering terlupakan.
Rap Melayu Bertemu Sinden Jawa
“Tinggi” menjadi ruang pertemuan antara karakter rap khas Kmy Kmo & Luca Sickta dengan sentuhan sinden yang dibawakan Niken Salindry. Perpaduan itu tidak hanya terdengar unik, tetapi juga dirancang sebagai simbol persatuan budaya Nusantara.
Diambil dari album terbaru Kmy Kmo & Luca Sickta yang berjudul Gong, lagu ini membawa gagasan bahwa nilai manusia tidak seharusnya diukur dari kuasa atau harta. Pesan itu ditegaskan melalui cara mereka membungkus musik modern dengan tradisi yang tetap hidup.
Menurut sang komposer, “Kami percaya musik adalah bahasa universal. Melalui ‘Tinggi’, kami ingin menegaskan bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa besar kuasa atau harta yang dimiliki, melainkan dari budi dan nilai yang ditinggalkan.”
Niken Salindry Melihat Peluang Besar untuk Sinden
Bagi Niken Salindry, ajakan ini bukan hanya soal tampil dalam kolaborasi internasional. Ia menilainya sebagai kesempatan untuk memperkenalkan seni sinden kepada audiens yang lebih luas sekaligus mempertemukan tradisi dengan musik modern.
Niken mengatakan, “Saya langsung jatuh cinta dengan konsepnya. Pesannya sangat kuat dan sejalan dengan semangat pelestarian budaya. Saya bangga bisa mempertemukan tradisi dengan musik modern dalam satu karya yang mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia.”
Kolaborasi ini juga memberi dimensi emosional yang kuat karena mempertemukan musisi Malaysia dengan penyanyi tradisional Indonesia dalam satu karya yang sama. Hasilnya bukan sekadar lagu duet, melainkan pernyataan budaya yang terasa relevan di tengah perubahan zaman.
Video Musik di TMII Dibuat Serius
Tak berhenti pada musiknya, video klip “Tinggi” juga digarap dengan skala besar. Lokasinya dipilih di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, dengan konsep produksi kolosal yang menonjolkan unsur visual tradisional.
Penonton akan melihat puluhan penari, tata artistik yang megah, dan kostum tradisional yang memadukan estetika Malaysia serta Indonesia. Setiap elemen visual disusun untuk menegaskan semangat “Serumpun Nusantara” yang menjadi roh dari karya ini.
| Elemen | Detail |
|---|---|
| Judul lagu | Tinggi |
| Kolaborator | Kmy Kmo, Luca Sickta, Niken Salindry |
| Asal musik | Rap Melayu dan vokal tradisional Jawa |
| Album | Gong |
| Lokasi video musik | Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta |
Pesan yang Ditinggalkan Lagu Ini
Di ujung lagu, “Tinggi” menekankan bahwa jejak kebaikan dan nilai luhur akan bertahan lebih lama daripada kekuasaan. Itulah yang membuat lagu ini terasa lebih sebagai pesan moral ketimbang sekadar karya hiburan.
Dengan pendekatan itu, “Tinggi” menjadi pengingat bahwa identitas dan tradisi masih punya tempat penting dalam musik populer. Lagu ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas budaya bisa dipakai untuk merawat hubungan Indonesia dan Malaysia tanpa kehilangan kekuatan artistiknya.
Source: www.suara.com






