Film Anak yang Menggerakkan Industri, Dari Petualangan Sherina hingga Jumbo

Author: Qoo Media

Film anak masih jarang diproduksi di Indonesia, tetapi genre ini terbukti punya daya dorong yang besar saat hadir dengan cerita yang kuat dan dekat dengan keluarga. Di tengah dominasi horor dan drama, sejumlah film anak justru pernah menjadi penanda bangkitnya kembali industri film nasional.

Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), Edwin Nazir, menilai film anak bukan sekadar pelengkap dalam perfilman Indonesia. lifestyle.bisnis.com mencatat, Edwin melihat genre ini beberapa kali muncul sebagai titik balik ketika industri berada dalam fase sulit.

Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi Jadi Contoh Penggerak Pasar

Edwin mencontohkan masa ketika industri film Indonesia sempat mati suri pada era 1990-an. Kebangkitan mulai terasa pada awal 2000-an lewat Petualangan Sherina garapan Riri Riza dan Mira Lesmana, yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan hingga kini masih dikenang banyak penonton.

Keberhasilan film musikal anak itu disebut menjadi salah satu pemantik bergairahnya kembali perfilman Indonesia. Setelahnya, lahir berbagai karya baru, termasuk Laskar Pelangi pada 2008 yang juga menciptakan fenomena tersendiri dan mendorong minat menonton film Indonesia di bioskop.

Film Peran dalam Industri Keterangan
Petualangan Sherina Pemantik kebangkitan Hadiah hangat dari publik dan masih dikenang hingga kini
Laskar Pelangi Mendorong minat menonton Menjadi fenomena tersendiri pada 2008
Jumbo Penggerak baru Menembus jajaran film Indonesia terlaris sepanjang masa

Jumbo Menunjukkan Pasar Film Anak Masih Kuat

Pola yang sama, menurut Edwin, terlihat lagi lewat film animasi Jumbo garapan Ryan Adriandhy. Film itu berhasil menembus jajaran film Indonesia terlaris sepanjang masa dan kini menempati posisi kedua, sebuah capaian yang menunjukkan kekuatan film anak dan keluarga di pasar domestik.

Dalam acara Netflix Family Festival 2026: World of Wonder di Jakarta beberapa waktu lalu, Edwin menyebut dari 15 film terlaris sepanjang masa di box office Indonesia, ada tiga film yang mendapat klasifikasi Semua Umur dari LSF. Salah satunya adalah Jumbo, yang ia sebut sangat fenomenal.

Capaian tersebut menjadi alasan bagi APROFI untuk mendorong dukungan lebih luas dari ekosistem industri. Edwin menilai sineas yang mampu menghasilkan karya berkualitas perlu mendapat ruang agar bisa terus menghadirkan film untuk penonton keluarga.

Masih Ada Stereotip yang Perlu Diubah

Di sisi lain, sutradara Ryan Adriandhy berharap pandangan masyarakat terhadap film anak ikut berubah. Ia menilai masih ada anggapan bahwa konten untuk anak adalah karya kelas dua atau punya standar kualitas lebih rendah dibanding film untuk penonton dewasa.

Ryan menyoroti cara sebagian penonton memaklumi film keluarga yang dianggap kurang memuaskan hanya karena targetnya anak-anak. Menurut dia, sikap itu sekaligus meremehkan cara berpikir anak-anak sebagai penonton.

Ia juga melihat reaksi lain yang tak kalah bermasalah. Saat sebuah film anak berhasil kuat secara cerita, karakter, dan konflik, respons yang muncul sering justru terlalu kagum karena dianggap lebih pantas untuk orang dewasa.

Bagi Ryan, cara pandang itu menunjukkan film anak masih sering ditempatkan di bawah film dewasa. Ia menegaskan bahwa konten anak dan keluarga yang baik lahir dari orang dewasa yang benar-benar peduli, bukan dari anggapan bahwa materi itu lebih mudah dibuat.

Ryan menilai membuat film untuk anak bukan pekerjaan yang lebih sederhana dibanding genre lain. Karena itu, ia berharap publik tidak lagi memandang konten anak sebagai produksi kelas dua, terutama saat industri justru membutuhkan lebih banyak karya keluarga yang berkualitas.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru