Yuzarsif Bebas dengan Syarat Berat, Zulaikha Akhirnya Mengaku di Depan Firaun

Yuzarsif akhirnya keluar dari Penjara Zafira, tetapi kebebasannya tidak datang begitu saja. Ia menolak melangkah sebelum nama baiknya dibersihkan dari tuduhan yang selama ini membayangi dirinya.

Di hadapan Firaun Amenhotep IV, kisah lama yang melibatkan Zulaikha dan para wanita bangsawan dibuka kembali. Mediaindonesia.com melaporkan bahwa momen itu menjadi titik balik penting, karena pengakuan yang selama ini tersembunyi akhirnya muncul ke permukaan.

Syarat Yuzarsif sebelum bebas

Saat Komandan Horemhop dan Inarus datang menjemput atas perintah Firaun, Yuzarsif tidak menerima pembebasan itu sebagai hadiah. Ia menegaskan bahwa seorang pengkhianat tidak punya tempat di luar penjara maupun di istana.

Karena itu, ia meminta agar kasus lama diselidiki ulang, terutama peristiwa ketika para wanita bangsawan mengiris tangan mereka sendiri saat melihatnya. Baginya, yang dibutuhkan bukan pengampunan, melainkan pemulihan nama baik secara penuh.

Pengakuan Zulaikha di hadapan Firaun

Firaun kemudian memanggil Zulaikha, istri Potifar, bersama para wanita yang hadir dalam pesta itu. Di hadapan penguasa Mesir, mereka akhirnya mengakui bahwa Yuzarsif tidak bersalah.

Para wanita menyebut Yuzarsif sosok yang sopan, suci, dan menyerupai malaikat. Zulaikha pun mengakui dirinya yang bersalah karena mencintai Yuzarsif dan mencoba menggodanya berkali-kali, tetapi ia tetap menjaga kesucian.

Potifar juga mengakui kesalahannya karena memenjarakan Yuzarsif demi meredam fitnah di masyarakat. Dalam pengakuan yang dikutip mediaindonesia.com, Zulaikha berkata, “Hari ini kebenaran terungkap. Aku mengaku bahwa aku bersalah dan Yuzarsif tidak bersalah. Aku jatuh cinta kepadanya selama bertahun-tahun, tetapi dia memutuskan untuk tetap suci.”

TokohPeranPosisi dalam peristiwa
YuzarsifMeminta rehabilitasi nama baikTolak bebas sebelum kebenaran dibuka
ZulaikhaMengakui kesalahanMengaku sebagai pihak yang bersalah
Amenhotep IVMemerintahkan pembebasanMendengar pengakuan di istana
PotifarMengakui kekeliruanMenyesali pemenjaraan Yuzarsif

Diantar dengan penghormatan tinggi

Setelah kebenaran terungkap, Amenhotep IV terkesan dengan integritas Yuzarsif. Ia memerintahkan agar para wanita yang terlibat ditahan sementara, sementara Yuzarsif dijemput dengan kereta perang untuk dibawa ke istana sebagai teman dekat Firaun.

Namun, Yuzarsif tetap menjaga sikap rendah hati. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak sempurna, karena jiwa manusia selalu memiliki potensi menuju keburukan kecuali mereka yang dirahmati Tuhan.

Ia juga menolak menjadi beban bagi orang lain. Saat akan dibawa dengan tandu, Yuzarsif memilih kereta perang dan mengatakan, “Mereka yang berdiri di atas punggung seseorang ditakdirkan untuk jatuh.”

Perpisahan di Penjara Zafira

Kepergian Yuzarsif meninggalkan kesedihan bagi para tahanan lain. Selama 10 tahun, ia menjadi pembimbing dan penopang moral di dalam penjara.

Dalam pesan perpisahannya, Yuzarsif mengingatkan bahwa penjara bisa menjadi tempat pembinaan bagi sahabat dan sarana membersihkan jiwa. Ia juga menegaskan bahwa seseorang tidak akan merasa sendirian selama memiliki Allah di sisinya.

Pertemuan dengan Firaun dan arah baru di istana

Di istana, Firaun dan permaisuri menyambut Yuzarsif dengan hangat. Firaun mengenang masa kecil ketika Yuzarsif pernah mengalungkan kalung pemberian Amenhotep III ke lehernya, dan ia mengakui kekagumannya pada ketampanan serta kebijaksanaan Yuzarsif.

Yuzarsif tetap teguh pada prinsipnya dan tidak membungkuk di hadapan Firaun. Ia menjelaskan bahwa ia hanya bersujud kepada satu Tuhan, sikap yang justru membuat Amenhotep IV semakin menghormatinya.

Firaun kemudian menyiapkan pesta besar yang dihadiri para bangsawan dan imam kuil. Tujuannya adalah menguji kemampuan Yuzarsif dalam menafsirkan mimpi, setelah para penafsir Mesir gagal memecahkannya.

Yuzarsif menegaskan bahwa kemampuannya bukan berasal dari mantra atau alat gaib, melainkan wahyu dari Tuhannya. Firaun berharap kemenangan Yuzarsif dalam debat itu dapat mengguncang pengaruh para imam kuil Amon yang selama ini dominan di Mesir.

Di sisi lain, mereka yang dahulu menjual Yuzarsif sebagai budak mulai merasakan penyesalan mendalam. Mereka baru menyadari bahwa sosok yang dulu diperlakukan buruk itu kini memiliki kedudukan tinggi di istana, sementara perjuangan untuk membersihkan namanya akhirnya sampai pada titik yang menentukan.

Source: mediaindonesia.com
Terkait