Tropical Aliens Eko Nugroho Menyindir Keterasingan Warga lewat Humor dan Warna

Author: Qoo Media

Figur alien berwarna cerah menjadi cara seniman kontemporer Eko Nugroho membicarakan kegelisahan sosial di Indonesia. Melalui pameran tunggal Tropical Aliens, ia menyoroti rasa asing masyarakat terhadap negara sekaligus renggangnya hubungan antarsesama.

Pameran ini berlangsung di Nadi Gallery, Jakarta, hingga 2 Agustus 2026. Sebanyak 35 karya lintas medium ditampilkan, mencakup mural, bordir, patung, serta lukisan di atas kertas.

Alien sebagai metafora keterasingan

Eko memilih alien bukan sekadar sebagai karakter imajinatif, melainkan metafora atas situasi sosial yang ia rasakan. Figur-figur hibrida dalam karyanya merefleksikan masyarakat yang semakin jauh dari pemegang kekuasaan dan lingkungan sosialnya.

“Keadaan masyarakat Indonesia saat ini saya rasakan seperti teralienasi oleh negara. Semua pendapat, suara, kritik, dan keterbukaan untuk berdiskusi seolah-olah ditutup dan diabaikan,” kata Eko.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat semakin merasa asing dengan pihak yang memegang kekuasaan. Di sisi lain, kehidupan modern juga dinilai membuat orang makin sulit mendengar, berdialog, serta bekerja sama.

Gagasan itu dihadirkan melalui bahasa visual yang tidak muram. Eko justru menempatkan kritik sosial di balik karakter jenaka, bentuk-bentuk ganjil, dan komposisi warna yang mencolok.

Humor untuk membuka ruang kritik

Pendekatan yang ringan menjadi bagian penting dari cara Eko mengajak publik masuk ke isu yang lebih serius. Humor dipilih agar karya tidak berhenti sebagai sindiran, tetapi dapat membuka percakapan yang lebih luas.

“Komedi atau hal-hal yang lucu bisa membuka orang untuk masuk ke dalam topik inti, sebuah diskusi, sebuah kritik, sebuah demokrasi,” ujarnya. Dengan cara itu, pengunjung diajak melihat kritik sosial tanpa harus berhadapan dengan bahasa yang menggurui.

Warna-warna dominan dalam karya juga membawa lapisan makna lain. Eko memandang keberagaman warna sebagai metafora demokrasi yang tumbuh dari latar belakang, identitas, dan cara pandang masyarakat Indonesia yang beragam.

Lifestyle.bisnis.com melaporkan, salah satu karya yang dipamerkan berjudul Feeding to Silence. Karya tersebut lahir dari kegelisahan Eko terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG, yang menurutnya tetap perlu membuka ruang kritik dan evaluasi.

Perjalanan bahasa visual selama dua dekade

Tropical Aliens juga menampilkan perkembangan bahasa visual Eko yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade. Praktiknya memadukan unsur komik, tradisi lokal, budaya populer, hingga seni jalanan dalam berbagai medium.

Eko dikenal sebagai seniman kontemporer Indonesia yang banyak mengeksplorasi komik, mural, bordir, dan budaya populer. Karyanya juga telah dipamerkan di berbagai museum serta galeri seni internasional.

Kurator Wahyudin menilai pameran ini melanjutkan eksplorasi artistik Eko yang berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, figur alien berkembang menjadi bahasa visual yang terus bergerak dalam praktik berkesenian sang seniman.

“Setiap pameran Eko Nugroho bercerita. Kali ini, Tropical Aliens ingin bercerita tentang makhluk-makhluk alien,” tulis Wahyudin.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru