Konten permainan daring kerap dipandang sebatas hiburan, tetapi Ihsan Nurul Fajar atau Ajay memilih jalur berbeda. Kreator gaming asal Tasikmalaya ini memanfaatkan konten Free Fire untuk menyampaikan dakwah Islam sekaligus edukasi digital kepada pengikutnya.
Pendekatan Ajay menempatkan pesan kebaikan di tengah format yang dekat dengan keseharian pemain game. Di sela pembahasan permainan, ia mengingatkan penonton agar tetap menjaga akhlak, menghormati orang lain, dan tidak melupakan tanggung jawab.
Ajay lahir di Tasikmalaya pada 10 Oktober 1998 dan aktif membangun audiens di sejumlah platform digital. Jangkauan akunnya menunjukkan bahwa pesan yang dikemas ringan dapat hadir di ruang yang selama ini lekat dengan hiburan gaming.
| Platform | Akun | Jumlah Pengikut |
|---|---|---|
| TikTok | @ini.ajay | Sekitar 2 juta pengikut |
| @_ihsan.nf | Sekitar 15 ribu pengikut | |
| YouTube | ajayysundawy | Sekitar 89 ribu pelanggan |
Melalui Free Fire, Ajay tidak hanya membagikan unsur hiburan dan pembahasan strategi bermain. Ia juga mengajak pengikutnya untuk menghindari perkataan yang dapat menyakiti orang lain saat berinteraksi di dunia maya.
Pesan itu relevan dengan aktivitas bermain yang melibatkan komunikasi antarpemain. Ajay menekankan pentingnya menghargai sesama pemain dan membangun kebiasaan berinteraksi secara santun di ruang digital.
Dakwah yang Dikemas Ringan
Ajay memandang media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan pesan positif kepada generasi muda. Karena itu, dakwah yang ia sisipkan disampaikan dengan bahasa ringan, santun, dan mudah dipahami tanpa menghilangkan unsur hiburan dalam konten.
Pilihan format tersebut membuat nilai keislaman hadir berdampingan dengan pembahasan game. Pesan yang dibawa antara lain mengenai pentingnya menjaga ibadah, pendidikan, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam salah satu kontennya, Ajay menyampaikan, “Game dapat menjadi media hiburan sekaligus sarana menyampaikan pesan kebaikan apabila digunakan secara bijak.” Ia menambahkan bahwa adab, penghormatan kepada orang lain, dan kewajiban sebagai muslim maupun anggota masyarakat perlu tetap dijaga.
Pernyataan itu memperlihatkan fokus Ajay yang tidak menempatkan game sebagai sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Ia justru mendorong penggunaan permainan dan teknologi secara bertanggung jawab.
Literasi Digital untuk Pengikutnya
Selain dakwah Islam, Ajay turut mengangkat pentingnya literasi digital bagi remaja dan pengguna media sosial. Ia mengingatkan pengikutnya agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.
Penggunaan media sosial, menurut pesan yang disampaikan Ajay, perlu diarahkan pada hal-hal yang bermanfaat. Sikap bijak dalam menyikapi informasi juga menjadi bagian dari etika beraktivitas di ruang digital.
MediaIndonesia.com melaporkan bahwa Ajay secara konsisten memadukan pesan dakwah, etika bermedia sosial, dan edukasi penggunaan teknologi dalam konten Free Fire. Pengemasan yang menarik menjadi cara untuk membawa isu tersebut kepada audiens yang akrab dengan permainan daring.
Kehadirannya menunjukkan bahwa industri kreatif digital dapat menjadi ruang untuk hiburan sekaligus pembelajaran. Konten gaming pun tidak harus berhenti pada permainan, melainkan dapat memuat ajakan untuk memperkuat akhlak dan meningkatkan kesadaran digital.
Bagi pengikut Ajay, pembahasan permainan berjalan beriringan dengan pengingat mengenai cara bersikap di internet. Model konten ini menyoroti bahwa kreativitas kreator dapat menjembatani teknologi, hiburan, dan nilai-nilai kebaikan secara relevan bagi generasi muda.
