Hal yang paling mengusik dari Upah dari Takhayul dan Cerita-Cerita Lainnya bukanlah kemunculan dunia yang sepenuhnya ajaib. Fernando Sorrentino justru membuat keganjilan terasa masuk akal, seolah pembaca sedang menyaksikan kebiasaan sehari-hari yang bergeser sedikit demi sedikit.
Kumpulan cerpen ini mengajak pembaca meninjau ulang alasan manusia mudah mempercayai sesuatu. Keyakinan yang diwariskan, diterima ramai-ramai, atau terus diulang dapat tampak wajar meski tidak pernah benar-benar diuji.
Dalam buku ini, takhayul tidak berhenti sebagai kepercayaan mistis. Ia menjadi metafora bagi kebiasaan dan keyakinan yang diterima begitu saja tanpa pertanyaan.
Sorrentino memulai banyak kisah dari situasi yang dekat dengan kehidupan biasa. Tokoh-tokohnya pun bukan figur luar biasa, melainkan orang-orang dengan keseharian yang mudah dikenali pembaca.
Dari pijakan yang akrab itu, kemustahilan masuk perlahan ke dalam cerita. Keanehan lalu diterima sebagai bagian dari kewajaran, sehingga logika dunia cerita bergeser tanpa terasa.
Humor Datar yang Menyimpan Ironi
Gaya Sorrentino dapat mengingatkan pembaca pada tradisi sastra Amerika Latin yang akrab dengan absurditas. Namun, ia tidak membangun cerita dengan simbol yang berlapis-lapis atau alur yang sengaja dibuat rumit.
Kalimat-kalimatnya mengalir sederhana dan nyaris datar. Justru cara bertutur itu memberi ruang bagi humor tipis serta ironi untuk bekerja lebih tajam, sering kali melalui penutup cerita yang sulit diduga.
Efeknya bukan sekadar kelucuan dari peristiwa yang ganjil. Pembaca didorong tertawa lebih dahulu, lalu menyadari bahwa logika absurd tersebut dapat menjadi cermin bagi kenyataan yang dekat.
Ulasan lifestyle.bisnis.com menempatkan kekuatan buku ini pada cara Sorrentino memelintir realitas yang dikenal pembaca. Yang mula-mula tampak mustahil perlahan berubah menjadi gambaran tentang manusia yang terbiasa memberi makna pada hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan.
Satire Kekuasaan dan Paradoks Kebaikan
“Buku Catatan Insinyur Sismondi” menjadi salah satu cerpen terpanjang dalam kumpulan ini. Cerita tersebut mengikuti seorang insinyur yang menunggu hukuman mati setelah menolong perempuan yang dicintainya.
Melalui situasi itu, Sorrentino menyisipkan satire tentang kekuasaan. Cerpen tersebut juga menampilkan paradoks ketika tindakan baik justru berbalas pengingkaran.
Latar Republik Otonom dalam cerita itu pada awalnya dapat terasa seperti negeri rekaan bagi pembaca Indonesia. Namun, latar tersebut bekerja sebagai cermin yang dipelintir, sehingga persoalan yang ganjil tetap memiliki kedekatan dengan kenyataan.
Nada serupa hadir dalam “Rawa Pesisir Cubeli”. Mitologi raja dan ratu buaya di Laguna Kaiman Penari dipakai untuk mempermainkan logika sekaligus menunjukkan kecenderungan manusia membangun kepercayaan dari sesuatu yang sulit diterangkan.
18 Cerpen yang Dapat Dibaca Terpisah
Edisi Indonesia buku ini menerjemahkan langsung 18 cerpen dari bahasa Spanyol. Sebagian cerita Sorrentino memang telah tersedia dalam bahasa Inggris melalui laman pribadinya, tetapi pilihan terjemahan langsung ini menjaga nuansa, ritme, dan kelucuan khas sang pengarang.
Setiap cerpen berdiri sendiri sehingga buku ini dapat dibaca secara acak. Satu cerita dapat selesai dalam beberapa menit, tetapi gagasannya berpotensi tinggal lebih lama setelah halaman terakhir ditutup.
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Judul | Upah dari Takhayul dan Cerita-Cerita Lainnya |
| Penulis | Fernando Sorrentino |
| Penerjemah | Astrid Wasistyanti, Fransiskus Pascaries, dan Ronny Agustinus |
| Tahun terbit | Juni 2026 |
| Jumlah halaman | 152 halaman |
| Penerbit | Marjin Kiri |
| QRCBN | 62-6771-4050-671 |
Pada akhirnya, kumpulan cerita ini tidak hanya menawarkan absurditas sebagai permainan imajinasi. Melalui humor dan satire, Sorrentino memperlihatkan bahwa banyak hal yang dianggap normal mungkin hanya kebiasaan yang terus dipercaya karena tidak pernah digugat.
