Data Center Microsoft Dilempari Bahan Kimia, Sengketa Energi Amsterdam Memanas

Author: Qoo Media

Proyek data center yang dikaitkan dengan Microsoft di Amsterdam menjadi sasaran aksi kelompok lingkungan Extinction Rebellion. Aktivis melemparkan puluhan balon berisi campuran bahan kimia ke arah fondasi bangunan dari luar pagar pembatas.

Aksi tersebut menyoroti penolakan terhadap pusat data berkapasitas besar yang dinilai menyedot listrik dan air saat warga serta pelaku usaha masih menunggu sambungan listrik. Proyek ini juga memicu perdebatan karena dibangun ketika Amsterdam dan pemerintah Belanda telah membatasi pembangunan data center hyperscale sejak 2022.

Campuran bahan kimia diarahkan ke fondasi

Menurut keterangan para aktivis, balon itu berisi asam asetat, hidrogen peroksida, garam, serta cat akrilik. Mereka menyatakan campuran tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pengikisan beton dan korosi pada baja penyangga bangunan.

Asam asetat disebut dapat menggerus permukaan beton, sedangkan garam dan hidrogen peroksida diyakini mempercepat proses karat pada bagian besi. Aksi itu terjadi pada pekan lalu, tetapi baru diumumkan kepada publik pada awal pekan ini.

Pengembang proyek, Pure Data Centers, mengonfirmasi adanya pelemparan balon dari luar area konstruksi. Namun, perusahaan menyatakan belum menemukan kerusakan berarti dan pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.

Polisi Amsterdam sedang menyelidiki peristiwa tersebut, sementara Pure Data Centers berencana menempuh langkah hukum. Hingga saat ini, Microsoft belum memberikan tanggapan resmi mengenai insiden itu.

Larangan hyperscale dan celah pembagian bangunan

Pusat sengketa bukan hanya aksi vandalisme, melainkan cara proyek tersebut memperoleh persetujuan. Amsterdam dan pemerintah Belanda sebelumnya melarang pembangunan data center hyperscale akibat keterbatasan pasokan listrik dan air.

Kompleks yang dikaitkan dengan Microsoft itu disebut dibagi menjadi tiga menara terpisah. Pembagian tersebut membuat proyek tidak masuk definisi hyperscale, meski keseluruhan kompleks tetap diproyeksikan memiliki kebutuhan sumber daya sangat besar.

Aspek Data yang disebutkan Konteks
Kebutuhan listrik Setara hampir seluruh rumah tangga Amsterdam Untuk keseluruhan kompleks
Kebutuhan air 420 juta liter per tahun Untuk sistem pendingin
Bentuk proyek Tiga menara terpisah Tidak memenuhi definisi hyperscale

Data kebutuhan listrik dan air tersebut menjadi dasar kritik terhadap pembangunan pusat data skala besar di kota itu. Di tengah kebutuhan proyek, banyak rumah tangga dan bisnis di Amsterdam dilaporkan masih menunggu giliran pemasangan sambungan listrik.

CNBC Indonesia melaporkan bahwa penolakan terhadap proyek ini juga berkaitan dengan kekhawatiran mengenai laju pembangunan infrastruktur AI yang boros energi. Bagi para pengkritik, persoalan ini bukan sekadar pembangunan gedung, tetapi soal prioritas penggunaan sumber daya publik.

Protes dikaitkan dengan isu iklim dan Gaza

Juru bicara Extinction Rebellion, Martijn Dekker, menyebut aksi tersebut berkaitan dengan krisis iklim, bahaya kecerdasan buatan, serta dukungan Microsoft terhadap operasi militer di Gaza yang disebutnya sebagai genosida. Ia menilai persoalan-persoalan itu berakar pada kekuasaan perusahaan besar dan segelintir orang kaya yang tidak bertanggung jawab.

“Krisis iklim, bahaya kecerdasan buatan, serta dukungan Microsoft terhadap operasi militer di Gaza yang disebut sebagai genosida, semuanya berasal dari kekuasaan perusahaan dan segelintir orang terkaya yang tidak bertanggung jawab,” kata Dekker. Ia juga menyerukan perlawanan terhadap kekuatan yang ia sebut anti-demokrasi.

Aksi di Amsterdam merupakan kelanjutan dari protes lain yang dilakukan kelompok tersebut. Sebelumnya, aktivis menyemprotkan asam berbau menyengat ke kantor perusahaan asuransi bahan bakar fosil dan mengunci pintu masuk pasar asuransi Lloyd’s di London.

Di sisi lain, kritikus menilai pelemparan bahan kimia dapat membahayakan pekerja dan tidak menyelesaikan persoalan utama. Peristiwa ini tetap memperlihatkan besarnya tekanan publik terhadap ekspansi data center, terutama ketika kebutuhan energi, air, hak asasi manusia, dan kebijakan korporasi bertemu dalam satu proyek.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru