Seabad Dardanella, Pementasan Mait Idoep Menguak Akar Realisme Teater Indonesia

Pementasan ulang Mait Idoep membuka kembali satu bab yang kerap terlewat dalam sejarah teater Indonesia. Lakon karya Kwee Tek Hoay itu menunjukkan bagaimana Dardanella berani menggeser panggung dari kisah fantasi menuju persoalan sosial yang nyata.

Perayaan 100 tahun Dardanella melalui pertunjukan ini bukan sekadar nostalgia terhadap kelompok sandiwara keliling era Hindia Belanda. Pementasan tersebut juga mengajak penonton melihat kembali akar realisme yang tumbuh dari keberanian membaca perubahan masyarakat.

Dari Fantasi ke Persoalan Sosial

Dardanella berdiri pada 1926 dan dikenal sebagai salah satu pelopor teater modern di Hindia Belanda. Kelompok ini pernah membawa pertunjukannya berkeliling hingga Singapura, Malaya, serta sejumlah negara lain di Asia.

Dalam perjalanan artistiknya, Dardanella tidak hanya mengandalkan cerita-cerita fantasi ala Seribu Satu Malam. Kelompok tersebut mulai menangkap persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada masanya dan mengolahnya menjadi drama panggung.

Mait Idoep, yang ditulis pada 1931, menjadi salah satu penanda perubahan tersebut. Ceritanya berpusat pada Tjung Yang Bwe, seorang pemuda yang mengabaikan larangan dokter untuk tidak menikah sebelum pulih dari sifilis.

Keputusan tokoh itu berakhir tragis karena penyakitnya turut berdampak pada istri dan anak-anaknya. Kisah tentang penyakit, keluarga, serta konsekuensi mengabaikan nasihat medis membuat lakon ini terasa jauh dari pola hiburan fantasi yang sebelumnya dominan.

Sutradara pertunjukan Irfan Hakim menyebut pemilihan Mait Idoep dilakukan karena naskah ini memperlihatkan fase penting dalam kerja artistik Dardanella. “Yang terkenal dari Dardanella itu Dokter Samsi. Kami justru mencari naskah yang tidak terlalu dikenal, tetapi menggambarkan praktik kerja Dardanella saat beralih dari stamboel menuju teater modern,” ujarnya.

Menurut Irfan, keberanian untuk terus berubah merupakan ciri penting kelompok tersebut. “Dardanella itu reform terus. Mereka selalu mencari bentuk yang berbeda,” tandasnya.

Panggung Seabad yang Dibaca Ulang

Studi pertunjukan Mait Idoep dibawakan oleh para pemenang Festival Teater Jakarta di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa (23/6/2026). Pertunjukan dibuka dengan rekaman lagu orkes stamboel dan suara Miss Riboet Doewa, penyanyi yang lekat dengan panggung hiburan era Hindia Belanda.

Saat lampu meredup, kelir di latar panggung menampilkan judul naskah dalam aksara lama. Adegan kemudian berpindah ke ruang praktik dokter, ketika Tjung Lan Gie membawa putranya yang terbaring lemas untuk diperiksa.

Pementasan ini tidak berupaya menyeragamkan cara aktor memainkan tokoh-tokohnya. Irfan justru memberi ruang bagi para pemain untuk membawa tradisi akting dari kelompok teater masing-masing.

Ia menyebut pendekatan itu sebagai spektrum antara “berlagak dan menjadi”. Pilihan tersebut membuat para aktor perlu menemukan posisi permainan yang sesuai dengan karakter, bahasa, dan situasi dramatik dalam naskah.

Aktor Ifqie Dzikrullah atau Acim, yang memerankan Tjung Yang Bwe, menghadapi tantangan lain melalui dialog berbahasa Melayu Pasar. Ia mengatakan bahwa pada dua sampai tiga kali pembacaan awal, para pemain masih mencari ritme karena struktur bahasanya berbeda dari bahasa Indonesia saat ini.

Posisi Kwee Tek Hoay dalam Sejarah Teater

Pengamat seni pertunjukan Seno Joko Suyono menilai karya-karya Kwee Tek Hoay berangkat dari kehidupan masyarakat Hindia Belanda. Dalam pembacaannya, lakon seperti Mait Idoep membantu Dardanella meninggalkan tradisi Komedi Stamboel yang didominasi cerita fantasi.

Seno juga melihat hukum sebab-akibat atau karma sebagai inti tragedi dalam naskah tersebut. Tokoh yang melanggar larangan dokter harus menanggung akibatnya, termasuk dampak yang menimpa keluarganya.

“Prinsip-prinsip itu sering muncul dalam naskah Kwee Tek Hoay. Di Mait Idoep, hukum sebab-akibat menjadi inti tragedinya,” ujar Seno.

Menurut lifestyle.bisnis.com, Seno menilai Kwee Tek Hoay belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya dalam Melayu Pasar lama dipinggirkan karena dikelompokkan sebagai sastra Melayu Rendah.

Padahal, Kwee Tek Hoay disebut sebagai salah satu tokoh awal yang mempelajari struktur drama realis Henrik Ibsen dan menerapkannya dalam karya-karyanya. Pengaruh tersebut kemudian turut mewarnai lakon-lakon yang dibawa Dardanella ke panggung.

Bagi Seno, jejak itu menempatkan Dardanella pada posisi penting dalam perkembangan teater nasional. “Kalau menurut saya, akar realisme Indonesia itu justru dari Dardanella. Sayangnya, itu jarang disebut dalam sejarah teater Indonesia,” katanya.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait