Iqbaal Ramadhan Hadapi Tekanan Syuting di Pestapora, Tak Bisa Mengulang Momen

Author: Qoo Media

Syuting film biasanya memungkinkan adegan diatur ulang sampai sesuai kebutuhan kamera. Namun, Iqbaal Ramadhan harus menghadapi situasi berbeda saat menjalani pengambilan gambar Operasi Pesta Copet di tengah kerumunan nyata Pestapora.

Ribuan penonton, musik yang keras, dan momen yang berlangsung sekali membuat para pemain dituntut merespons keadaan secara spontan. Mereka tidak dapat meminta penonton mengulangi reaksi atau aktivitas yang telah terjadi di area festival.

Mengandalkan Respons Spontan di Tengah Festival

Iqbaal memerankan Ijal, salah satu dari empat sahabat yang nekat menjadi pencopet karena tekanan ekonomi. Karakternya berada dalam kelompok yang juga dihuni Adut, Tia, dan Melodi.

Menurut Iqbaal, proses syuting di Pestapora berbeda dari produksi film pada umumnya yang dapat membangun situasi sesuai penempatan pemain dan kebutuhan dialog. Di festival, pemain justru perlu menyesuaikan diri dengan momen yang sedang berjalan di sekitar mereka.

Ia mencontohkan penonton yang sedang menyaksikan penampilan Sal Priadi hingga menangis tidak mungkin diminta untuk mengulang reaksinya. Keterbatasan waktu membuat koordinasi antarpemain dan kru menjadi faktor penting selama pengambilan gambar berlangsung.

Pengalaman tersebut menjadi tantangan baru bagi Iqbaal karena tekanan di lokasi datang dari situasi yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Setiap adegan harus memanfaatkan kondisi nyata tanpa mengganggu jalannya festival musik.

Pemain Karakter Pengalaman Produksi yang Disorot
Iqbaal Ramadhan Ijal Merespons momen spontan di tengah festival
Kristo Immanuel Adut Syuting dalam suasana Pestapora yang direka ulang
Zulfa Maharani Tia Menjalani adegan drama dan dialog sebelum hari festival
Kawai Labiba Melodi Syuting langsung di tengah penonton pada hari penyelenggaraan

Dua Metode Syuting untuk Menghidupkan Pestapora

Tim produksi Operasi Pesta Copet menggunakan dua metode untuk membangun suasana festival dalam film. Sejumlah adegan direkam langsung saat Pestapora 2025 berlangsung, sementara adegan lain dibuat ulang dengan panggung, tata visual, dan sekitar 500 pemeran pendukung.

Metode pertama memberi atmosfer yang sulit direplikasi karena pemain benar-benar berada di antara penonton yang tidak mengetahui adanya syuting. Metode kedua memberi ruang lebih besar bagi produksi untuk mengatur adegan dan mengulang pengambilan gambar.

Kawai Labiba mengaku merasakan tekanan saat harus menyatu dengan penonton asli pada hari festival. Selain menjaga akting, para pemain juga perlu memastikan kostum serta alur cerita tidak bocor kepada publik.

Komunikasi menjadi lebih rumit karena musik terdengar sangat keras di area konser. Pengulangan adegan juga terbatas, sebab penampilan musisi di panggung terus berjalan dan tidak dapat dihentikan untuk kepentingan produksi film.

Rekreasi Festival dengan Ratusan Extras

Kristo Immanuel lebih banyak menjalani bagian yang direka ulang ketimbang adegan konser secara langsung. Meski demikian, ia menilai suasana yang dibangun terasa nyata karena ratusan extras didandani untuk menyerupai penonton Pestapora.

Dalam proses pengulangan take, para extras harus kembali ke posisi awal agar kesinambungan adegan tetap terjaga. Situasi itu membuat proses produksi terasa seperti waktu diputar kembali, sebelum adegan dimulai lagi dari awal.

Kristo juga merasakan ketegangan yang sesuai dengan cerita film saat harus menjalankan adegan mencopet di tengah kerumunan. Rasa takut ketahuan saat berinteraksi dengan extras membuat suasana adegan terasa lebih imersif.

Sementara itu, Zulfa Maharani menilai jadwal syuting sebelum hari festival penting untuk menggarap adegan drama dan dialog. Adegan semacam itu sulit dilakukan ketika konser berlangsung karena kondisi teknis di lokasi tidak memungkinkan percakapan direkam dengan leluasa.

Ia juga menghadapi tantangan menjaga ritme tubuh dalam beberapa adegan yang sebelumnya dipandu oleh musik. Setelah musik panduan dimatikan ketika dialog dimulai, pemain tetap harus bergerak seolah lagu masih terdengar.

Kisah Empat Sahabat yang Terdesak Ekonomi

Operasi Pesta Copet mengikuti Ijal, Adut, Tia, dan Melodi yang tinggal di kawasan pinggiran kota. Kesulitan mendapatkan pekerjaan layak di tengah biaya hidup yang meningkat mendorong mereka memilih jalan pintas sebagai pencopet di konser musik.

Film produksi Imajinari ini menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod. Para pemain membagikan pengalaman proses produksinya dalam jumpa pers di XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada 22 Juli 2026, seperti dilaporkan www.medcom.id.

Dengan kombinasi pengambilan gambar di festival asli dan rekreasi berskala besar, film ini berusaha menghadirkan tekanan yang dialami para tokohnya di tengah lautan penonton. Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026.

Source: www.medcom.id
Terbaru