Film “Comic 8: Revolution” menjadi perhatian publik setelah sembilan tahun berlalu dari kesuksesan film sebelumnya, “Comic 8”. Sekuel terbaru ini tidak lagi dikerjakan oleh sutradara Anggy Umbara, melainkan oleh Fajar Bustomi, yang mengambil alih tongkat estafet untuk melanjutkan kisah yang sudah dikenal banyak penonton. Keputusan ini cukup mengejutkan mengingat Anggy adalah sosok di balik kesuksesan tiga film sebelumnya dalam franchise ini, yaitu “Comic 8” (2014), “Comic 8: Casino Kings Part 1” (2015), dan “Comic 8: Casino Kings Part 2” (2016).
Fajar Bustomi mengungkapkan bahwa ia awalnya merasa ragu ketika mendapatkan tawaran dari Falcon Pictures. Rasa ragu ini muncul karena proyek tersebut sangat erat kaitannya dengan Anggy Umbara, yang telah sukses menciptakan waralaba komedi terbesar di Indonesia. Menurut Bustomi, Anggy telah berhasil menggarap tiga film sebelumnya dengan baik, yang membuat penggantian sosok sutradara menjadi suatu tantangan tersendiri.
Untuk meredakan keraguan tersebut, Fajar memutuskan untuk menghubungi Anggy Umbara secara langsung. “Terus saya bilang, ‘Kenapa harus diganti Mas Anggy?’ Saya bilang, ‘Kan sudah bagus’,” ujarnya saat berbincang di Cimanggis, Depok. Dari percakapan tersebut, ia mengetahui bahwa Anggy harus fokus pada proyek film lainnya, sehingga tidak dapat melanjutkan “Comic 8: Revolution”.
Setelah mengetahui alasan di balik pergantian sutradara, Fajar tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ia menganggap penting untuk membaca skenario sebelum membuat keputusan. “Karena sekarang di waktu saya yang semakin tua ini, bikin film tuh skenario tuh paling penting buat saya,” jelasnya. Bustomi menegaskan bahwa ia lebih mengutamakan kekuatan cerita ketimbang nama besar pemeran atau potensi keuntungan film.
Setelah membaca naskah, Fajar menemukan banyak hal menarik dan tantangan baru dalam cerita “Comic 8: Revolution”. Ia terpesona dengan elemen baru yang dihadirkan dalam skenario. “Nah ketika saya baca, ada hal-hal yang menarik dari skenario ini yang menurut saya saya harus ambil gitu,” ungkapnya.
Salah satu karakteristik unik dari film ini adalah kombinasi genre yang lebih luas dibandingkan dengan pendahulunya. “Comic 8 itu kan action comedy, ya. Nah, ini sekarang action, comedy, laga, dan horornya gitu, jadi komplit,” tuturnya. Bustomi menjelaskan bahwa hal ini adalah tantangan baru yang menarik baginya.
Kemampuan Bustomi dalam menangani film dengan genre yang berbeda juga menjadi sorotan. Ia dikenal sebelumnya lewat film “Buya Hamka”, yang menunjukkan kemampuannya dalam menggarap cerita yang mendalam. Adanya elemen horor dalam “Comic 8: Revolution” memberikan nuansa baru yang diharapkan dapat diterima dengan baik oleh penonton.
Falcon Pictures sebagai rumah produksi berharap bahwa perpindahan kursi sutradara ini dapat menghadirkan kesegaran dalam franchise yang telah dikenal luas ini. “Comic 8: Revolution” ditargetkan untuk ditayangkan dalam waktu dekat, dan pihak studio optimistis film ini akan kembali sukses di box office seperti pendahulunya.
Melihat antusiasme penggemar dan inovasi yang dibawa oleh Fajar Bustomi, banyak yang menantikan bagaimana film ini akan disambut oleh publik. Dengan penggantian sutradara yang penuh pertimbangan dan visi baru, diharapkan “Comic 8: Revolution” bisa menjadi salah satu film yang turut memperkaya industri perfilman komedi di Indonesia.







