Komika Marshel Widianto, yang pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, kini menegaskan bahwa ia kapok terjun ke dunia politik. Dalam sebuah wawancara dengan Raditya Dika, yang dipublikasikan pada Kamis, 23 Juli 2025, Marshel mengungkapkan pengalamannya yang menyakitkan dan tekanan mental yang dihadapinya sebagai calon politikus. Ia menyatakan, “Bukan kapok, tapi sempat gila kemarin,” menggambarkan betapa sulitnya ia menghadapi komentar pedas dan hujatan dari warganet.
Pengalaman yang dialami Marshel menunjukkan bahwa dunia politik bukan sekadar arena kompetisi, tetapi juga membawa beban mental yang berat. Ia menceritakan bahwa hujatan yang diterimanya bahkan sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. “Semua orang yang ada di komentar saya dan juga DM, itu semua orang pengen saya mati, Bang,” ucapnya dengan wajah serius. Hal ini menandakan bahwa kritik dan tekanan dari masyarakat dapat berdampak serius pada kesehatan mental seorang calon.
Marshel mengakui bahwa keputusan awalnya untuk terjun ke politik diambil dengan terburu-buru, tanpa banyak pertimbangan. Ia beranggapan dapat belajar sambil memahami seluk-beluk politik. Namun, kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan. “Ketika saya berangkat ke politik, saya pikir saya bisa untuk belajar,” paparnya. Pengalaman pahit ini akhirnya mengajarinya untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan di masa depan.
Dari kritik yang diterima, Marshel merasakan adanya tantangan yang lebih besar, baik secara mental maupun emosional. Ia bahkan membandingkan pengalamannya dengan para calon legislatif yang gagal dalam pemilihan. Tekanan yang dirasakannya membuatnya tidak hanya berpikir ulang tentang keputusan tersebut, tetapi juga menilai dampaknya terhadap kehidupan pribadinya yang lebih luas.
Di tengah ketidakpastian dan tekanan, perhatian dari para kolega dan masyarakat juga menjadi faktor penting. Beberapa komika, termasuk Pandji Pragiwaksono, turut memberikan kritik terhadap keputusan Marshel terjun ke politik. Tanggapan-tanggapan seperti ini menunjukkan bahwa masukan dari rekan-rekan seprofesi turut berperan dalam pembentukan pandangan Marshel tentang dunia politik.
Cristina Aisah, seorang psikolog, berpendapat bahwa hujatan dan tekanan sosial yang diterima Marshel merupakan hal yang biasa bagi seseorang yang melangkah ke dunia politik. “Banyak orang yang belum memahami taps dan tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal kritik publik,” jelas Cristina. Hal ini menandakan bahwa penting bagi publik untuk berpikir dua kali sebelum menghujat tanpa memahami perjalanan seseorang.
Setelah merenungkan pengalamannya, Marshel menekankan pentingnya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, terutama yang berhubungan dengan karier politik. “Pelajarannya adalah, jangan cepat mengambil keputusan,” tuturnya. Kesadaran ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi dirinya dan orang lain yang ingin mengeksplorasi dunia yang sama.
Marshel juga menyampaikan bahwa meskipun pengalamannya cukup berat, ia akan terus menjalani karier di dunia hiburan yang menjadi passion-nya. Aktivitasnya di bidang komedi dan film masih akan menjadi fokus utamanya, dan ia tidak akan meninggalkan pengaruh positif yang bisa ia bawa melalui platform tersebut.
Bagi Marshel Widianto, pengalaman pahit dalam politik menyisakan pelajaran berharga yang tidak hanya berbicara tentang keputusan, tetapi juga tentang kesehatan mental dan tanggung jawab pribadi sebagai publik figur. Dalam konteks ini, ia berupaya untuk memulai babak baru dalam kariernya, dengan mengedepankan kebijaksanaan dan pertimbangan yang lebih matang. Pengalaman ini bisa menjadi cermin bagi banyak orang, terutama para calon pemimpin, untuk mempertimbangkan secara mendalam sebelum memasuki arena politik.
