Aktivis lingkungan dan hak asasi manusia asal Swedia, Greta Thunberg, mengumumkan kesiapan dirinya untuk kembali berlayar menuju Gaza dengan misi utama mematahkan blokade yang diberlakukan Israel. Inisiatif ini merupakan bagian dari gerakan Global Sumud Flotilla, yang bertujuan mendukung warga Palestina dan mengakhiri genosida yang terus berlangsung di wilayah tersebut. Rencananya, pelayaran ini akan dimulai pada 31 Agustus 2025, dengan keberangkatan dari Spanyol, diikuti oleh puluhan kapal lain yang berlayar dari Tunisia dan pelabuhan lain pada 4 September 2025.
Misi Terbesar Mematahkan Blokade Israel
Melalui akun Instagramnya, Greta menjelaskan bahwa pelayaran kali ini adalah upaya terbesar dalam sejarah yang pernah dilakukan untuk mematahkan pengepungan ilegal Israel terhadap Gaza. Ia menyebutkan bahwa Global Sumud Flotilla akan menggabungkan puluhan kapal dari berbagai negara, sekaligus menggalang dukungan melalui demonstrasi dan aksi solidaritas yang melibatkan 44 negara di seluruh dunia. "Ini adalah upaya solidaritas internasional terbesar sejak pengepungan mulai diberlakukan 18 tahun lalu," ungkap Greta dalam postingannya.
Video yang diunggahnya memberikan gambaran serius tentang situasi di Gaza. Dalam narasinya, disebutkan bahwa genosida terhadap warga Palestina di Gaza telah meningkat selama 22 bulan terakhir. Serangan Israel diklaim setara dengan ledakan delapan bom atom yang menghantam sasaran sipil seperti rumah sakit, sekolah, dan fasilitas penampungan, menewaskan ribuan korban termasuk banyak anak-anak. Pengepungan berdampak pada kelaparan, kekurangan obat-obatan, dan kerusakan infrastruktur yang parah.
Sejarah Pelayaran dan Konfrontasi dengan Israel
Pelayaran yang akan datang ini bukanlah upaya pertama Greta untuk membantu Gaza. Pada Mei 2025, ia bersama kelompok Freedom Flotilla berlayar dengan kapal “Conscience”, namun gagal mencapai Gaza setelah kapal tersebut diserang oleh dua pesawat nirawak di perairan internasional dekat Malta. Kelompok yang mengorganisasi pelayaran tersebut menyalahkan Israel atas serangan ini, yang menyebabkan kerusakan parah di bagian depan kapal.
Bulan berikutnya, pada Juni 2025, Greta kembali bergabung dengan 11 aktivis lainnya yang berlayar menggunakan kapal layar Madleen, yang dioperasikan oleh Freedom Flotilla Coalition. Mereka membawa bantuan berupa makanan dan obat-obatan langsung ke Gaza dari pelabuhan Catania, Sisilia. Namun, pelayaran ini berakhir dengan konfrontasi serius ketika militer Israel membajak kapal dan menculik awak kapal, termasuk Greta yang kemudian ditahan sebelum dideportasi kembali ke Swedia.
Konsistensi Suara untuk Palestina
Selain aksi berlayarnya, Greta Thunberg dikenal aktif menyuarakan dukungan bagi rakyat Palestina. Pada September 2024, ia ikut berdemo bersama ribuan orang di Stockholm untuk mengutuk tindakan genosida Israel. Dalam aksi tersebut, Greta menegaskan bahwa diam terhadap pelanggaran hak asasi Gaza sama saja dengan berkompromi dengan kejahatan, dan menyerukan boikot terhadap Israel serta institusi yang terlibat.
Tidak hanya itu, awal September 2024, Greta dan sejumlah aktivis juga melakukan aksi okupasi di gedung Universitas Kopenhagen, menuntut boikot akademik terhadap universitas-universitas Israel yang dianggap terus berkolaborasi dengan institusi di Israel. Akibat aksi tersebut, mereka sempat ditangkap polisi sebelum akhirnya dilepaskan.
Global Sumud Flotilla sebagai Simbol Solidaritas Global
Gerakan Global Sumud Flotilla kini menjadi simbol solidaritas internasional yang kuat terhadap rakyat Palestina, mempertemukan organisasi-organisasi koalisi dan masyarakat dari berbagai belahan dunia. Dengan melibatkan lebih dari 44 negara dalam berbagai demonstrasi dan aksi serentak, upaya ini berusaha menarik perhatian dunia untuk menghentikan pengepungan dan pembantaian terus-menerus di Gaza.
Thunberg secara konsisten menggunakan pengaruhnya sebagai aktivis muda global untuk mengkampanyekan perdamaian dan keadilan, menjadikannya figur utama dalam perlawanan internasional terhadap blokade Israel. Melalui pelayarannya yang akan datang, ia memproyeksikan upaya langsung untuk membawa bantuan dan tekanan global sekaligus meningkatkan kesadaran di tengah dunia tentang kepedihan warga Gaza.
Persiapan pelayaran Global Sumud Flotilla masih berlangsung intensif menjelang tanggal keberangkatan, dengan harapan bisa membuka jalur kemanusiaan dan menembus pengepungan yang telah berlangsung hampir dua dekade. Aksi ini diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas dunia terhadap hak asasi dan kebebasan rakyat Palestina.
