Harga emas di Banda Aceh stabil di angka Rp7,6 juta per mayam pada awal Januari. Level harga ini bertahan selama empat hingga lima hari terakhir setelah sempat mengalami fluktuasi di akhir Desember.
Pedagang Toko Emas Italy Pasar Aceh, M. Dava Farah Sabirah, menjelaskan bahwa harga emas sempat melonjak dari Rp7,2 juta ke Rp7,7 juta per mayam akibat permainan harga di akhir tahun. Penurunan harga dari Rp7,7 juta ke Rp7,6 juta terjadi karena aksi ambil untung oleh investor asing yang menjual emas dalam jumlah besar.
Dava memprediksi harga emas akan kembali naik secara signifikan jika investor besar membeli emas kembali secara borongan. “Prediksi ke depan, harga emas bisa tembus Rp8 juta per mayam,” ungkapnya.
Aktivitas jual beli emas di Banda Aceh menunjukkan 70 persen masyarakat lebih memilih membeli, sementara 30 persen menjual. Permintaan emas di kota besar seperti Jakarta sangat tinggi hingga stok emas di butik emas besar pada sejumlah kota dilaporkan kosong.
Berbeda dengan Jakarta, stok emas di Banda Aceh masih tersedia meskipun permintaan tidak seramai itu. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat Banda Aceh masih terjaga meski harga emas relatif tinggi.
Penjualan emas di Banda Aceh juga dipicu oleh kebutuhan ekonomi masyarakat dari berbagai daerah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, Takengon, dan Pidie Jaya yang datang untuk menjual emas mereka. Hal ini termasuk mahasiswa dan anak kos yang menjual emas demi biaya pulang kampung.
Beberapa toko emas di daerah masih banyak yang tutup, sehingga masyarakat lebih memilih menjual emas di Banda Aceh. Dava menambahkan bahwa kebutuhan mendesak menjadi alasan utama penjualan emas di awal tahun.
Memasuki musim pernikahan, daya beli mahar emas tercatat naik sekitar 15 persen. Namun, jumlah emas yang dijadikan mahar justru menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena harga emas semakin mahal.
Dahulu mahar rata-rata mencapai 20 sampai 40 mayam, tetapi saat ini jumlah tersebut berkurang secara signifikan. Sekarang, penentuan mahar emas lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kemampuan calon mempelai pria.
Menurut Dava, fleksibilitas ini penting mengingat satu mayam emas sudah memiliki nilai cukup tinggi. Oleh karena itu, standar mahar yang kaku seperti dulu saat ini jarang dipakai lagi.
Data ini menunjukkan bahwa harga emas di Banda Aceh tetap menjadi instrumen penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Kendati terjadi penyesuaian harga dan jumlah transaksi, emas masih menjadi aset pilihan sekaligus kebutuhan simbolis dalam tradisi lokal.
Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan aksi investor besar yang berpengaruh signifikan di pasar lokal. Kondisi ini perlu terus dipantau terutama oleh pembeli dan penjual emas agar dapat mengambil keputusan tepat sesuai situasi pasar terkini.
