Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa, dengan pelemahan mencapai 0,11% di pasar spot yang membawa kurs ke level Rp 16.758 per dolar AS. Data Bank Indonesia melalui Jisdor juga mencatat penurunan sebesar 0,08% menjadi Rp 16.762 per dolar AS, memperlihatkan tren pelemahan yang cukup konsisten di pasar valuta asing.
Menurut analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan rupiah ini sangat dipengaruhi oleh kinerja data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan. Ekspor Indonesia pada November mencatatkan penurunan signifikan sebesar 6,60% secara tahunan, turun dari US$ 24,11 miliar menjadi US$ 22,52 miliar. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi dalam jangka pendek.
Dampak Data Ekonomi Terhadap Rupiah
Penurunan kinerja ekspor yang cukup besar ini menjadi indikator utama yang menekan nilai rupiah. Ekspor yang melemah mengindikasikan permintaan global yang menurun, sehingga berpengaruh pada arus devisa negara. Rupiah yang lemah cenderung memperbesar biaya impor, sehingga berpotensi memicu inflasi dalam negeri.
Selain itu, sentimen global yang bergejolak membuat rupiah sulit untuk menguat, terutama saat data domestik menunjukkan sinyal menurun. Hal ini memperlihatkan bahwa faktor internal ekonomi masih menjadi penentu utama pergerakan kurs tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Faktor-faktor Penahan Rupiah
- Penurunan ekspor yang mencapai 6,60% yoy, menekan pasokan devisa.
- Ketidakpastian global akibat kebijakan moneter AS yang masih ketat.
- Permintaan investor asing yang menurun terhadap aset-aset rupiah.
- Tekanan terhadap neraca perdagangan yang cenderung melemah.
Bank Indonesia dan pemerintah perlu terus memantau situasi ini agar tidak berisiko memperburuk kondisi makroekonomi. Kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif sangat dibutuhkan untuk menahan laju pelemahan rupiah.
Pergerakan rupiah ke depan diprediksi masih akan menghadapi volatilitas tinggi. Pasar fokus pada rilis data ekonomi selanjutnya, serta keputusan bank sentral AS yang akan menentukan arah sentimen investor. Indonesia perlu memperkuat sektor ekspor dan menjaga stabilitas keuangan agar nilai tukar rupiah bisa lebih solid.
Baca selengkapnya di: insight.kontan.co.id