Manchester City Raup Lebih dari £500 Juta dari Penjualan Pemain Muda, Strategi Bisnis Sukses Guardiola

Manchester City telah mengubah cara mereka memanfaatkan pemain muda yang keluar dari klub menjadi bisnis besar yang menguntungkan. Meskipun berada di puncak kejayaan dengan berusaha meraih gelar Liga Primer ketujuh dalam sepuluh musim di bawah asuhan Pep Guardiola, keberhasilan pemain yang meninggalkan Etihad Stadium tidak lantas merosot.

Banyak pemain muda yang gagal mendapatkan tempat utama di skuad Guardiola justru berkembang pesat setelah pindah ke klub lain. Contohnya, Palmer yang melakukan 19 pertandingan Liga Primer untuk City, menunjukkan bahwa karier pemain dapat tetap naik setelah meninggalkan klub.

Setelah bergabung dengan Chelsea dengan nilai transfer £42,5 juta pada September lalu, Palmer, yang kini berusia 23 tahun, berhasil menembus skuad tim nasional Inggris. Dia juga ikut membantu Chelsea meraih gelar Piala Dunia Antarklub FIFA dan Liga Konferensi UEFA. Kasus serupa terjadi pada Diaz, remaja Spanyol yang dibeli Real Madrid dari Manchester City pada 2019 dengan biaya sekitar £15 juta.

Diaz hanya tampil sebagai pemain pengganti sebanyak lima kali di Liga Primer sebelum pindah. Namun, winger kelahiran Malaga itu telah mendapatkan dua gelar La Liga dan satu gelar Liga Champions. Baru-baru ini, Diaz juga berperan penting ketika membantu timnas Maroko mencapai final Piala Afrika.

Pengembangan dan penjualan pemain muda di Manchester City tak lepas dari peran Elite Development Squad (EDS). Unit ini dibuat sebagai jembatan antara akademi dan tim utama. Selain mempersiapkan talenta berkualitas untuk skuad utama, EDS juga menjadi sumber pendapatan besar bagi klub.

Sejak kedatangan Guardiola, penjualan pemain dari EDS dan pemain yang tidak masuk skuad utama telah menghasilkan pendapatan lebih dari £500 juta. Keuntungan besar ini tercatat sebagai laba bersih, yang membantu klub memenuhi aturan ketat terkait profitabilitas dan keberlanjutan di Liga Primer.

Contoh lainnya adalah Eric Garcia, bek asal Spanyol yang pernah menjadi kapten tim U-18 City dan melakukan 35 penampilan senior selama di Etihad. Pada usia 20 tahun, Garcia pindah ke Barcelona pada 2021 dan sejak itu memenangkan dua gelar La Liga. Pemain lain dari EDS, seperti striker Delap, juga laku terjual cukup tinggi.

Delap pertama-tama dijual ke Ipswich dengan nilai sampai £20 juta pada Juli, lalu dijual lagi ke Chelsea dengan nilai £30 juta setahun kemudian. Strategi ini menunjukkan bagaimana pemain muda yang tidak mendapatkan waktu bermain banyak di City tetap menjadi aset penting secara finansial.

Beberapa pemain yang berstatus produk akademi City memulai perjalanan karier sejak usia sangat muda. Contohnya, gelandang asal Belgia Romeo Lavia pindah dari Anderlecht ke City saat berusia 16 tahun. Sedangkan Jadon Sancho, yang kini dipinjamkan ke Aston Villa dari Manchester United, pindah ke City dari Watford saat masih berumur 14 tahun.

Menariknya, Palmer yang kini sukses bersama Chelsea merupakan pendukung lama Manchester United saat kecil. Meski demikian, ia lebih dulu bergabung dengan akademi Manchester City dan memulai karier profesionalnya dari sana.

Strategi transfer pemain muda yang diterapkan Manchester City ini bukan hanya soal keberhasilan di lapangan, tapi juga menciptakan aliran pendapatan tambahan yang signifikan. Pendekatan ini membantu klub mempertahankan stabilitas finansial sembari membangun tim yang kompetitif di kompetisi domestik dan Eropa.

Exit mobile version