Ami Nakai Dominasi Short Program Olimpiade Dengan Triple Axel Sempurna Sementara Skater AS Terpuruk dan Medali Jadi Taruhan

Dominasi Jepang di Program Pendek Figure Skating Olimpiade Milan-Cortina

Ami Nakai dari Jepang memimpin dengan skor 78,71 pada program pendek figure skating di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina. Rekan setimnya, Kaori Sakamoto, peraih medali perunggu Olimpiade sebelumnya dan juara dunia tiga kali, berada di posisi kedua dengan skor 77,23.

Alysa Liu, yang mewakili Amerika Serikat dan juara dunia tahun lalu, menempati posisi ketiga dengan 76,59 poin. Meski demikian, Liu menegaskan bahwa target utamanya bukanlah mengalahkan para skater Jepang, melainkan fokus pada penampilan pribadi dan cerita yang ingin ia sampaikan saat berlomba.

Performa Skater Amerika yang Terhambat

Beberapa skater Amerika lainnya mengalami kesulitan. Isabeau Levito, yang tampil kurang maksimal pada langkah sekuensinya, menempati posisi kedelapan dengan 70,84 poin. Amber Glenn, juara nasional AS tiga kali berturut-turut, mendapati peluangnya untuk meraih medali memudar setelah gagal dalam sebuah lompatan triple loop yang menghasilkan nilai nol.

Glenn tampak kecewa dan hampir menangis saat meninggalkan arena setelah penampilannya, dengan skor 67,39 poin menempatkannya di posisi ke-13. Pelatihnya, Damon Allen, tetap memberikan semangat dengan mengatakan, "Ini belum berakhir."

Potensi Podium Jepang Merata

Mone Chiba, skater Jepang ketiga, memberikan peluang bagi negaranya untuk menyapu bersih podium dengan skor 74,00 poin yang menempatkannya di posisi keempat. Ia unggul tipis dari Adeliia Petrosian, atlet netral dari Rusia, yang menunjukkan kemampuan luar biasa meski baru pertama kali tampil di panggung internasional akibat sanksi terhadap Rusia.

Petrosian, yang dibina oleh pelatih kontroversial Eteri Tutberidze, berhasil melakukan beberapa elemen teknis tinggi termasuk double axel, triple lutz, hingga kombinasi triple flip-triple toe loop dengan impresif. Ia merasa puas dan optimis untuk babak selanjutnya.

Persaingan Ketat dan Cerita Di Balik Penampilan

Event putri figure skating sempat diprediksi sebagai pertarungan utama antara Jepang dan Amerika. Namun, kehadiran Petrosian menambah dinamika kompetisi. Petrosian berharap bisa berlatih dan bertanding dalam grup yang sama dengan para favorit lain untuk mengukur kemampuan dan pengalaman.

Nakai yang berusia 17 tahun mengidolakan Mao Asada dan tampil dengan teknik triple axel yang sempurna, disusul dengan triple loop-triple toe loop dan triple loop sebagai penutup. Meski memimpin, Nakai dengan rendah hati mengatakan belum berani menandingkan diri dengan Sakamoto.

Sakamoto, yang berumur 25 tahun, menunjukkan seni yang kuat dan mengakhiri programnya dengan kombinasi yang sulit. Ekspresinya saat usai tampil menunjukkan keyakinan besar dalam penampilannya.

Kisah Kepulangan Alysa Liu

Liu sempat berhenti dari figure skating karena kelelahan dan keinginannya menjalani kehidupan biasa. Ia menikmati masa hiatus dengan mencoret beberapa hal di bucket list-nya. Namun, gairahnya untuk olahraga ini kembali setelah merasakan sensasi adrenalin saat bermain ski.

Tahun lalu, Liu menjadi wanita Amerika pertama yang memenangkan gelar dunia figure skating dalam hampir dua dekade. Ia berharap dengan penampilan luar biasa pada program bebas hari Kamis nanti bisa membawa Amerika kembali ke puncak Olimpiade putri setelah Sarah Hughes pada 2002.

Liu mengekspresikan rasa bahagianya karena bisa berlomba tanpa dibatasi pandemi dan tampil dengan program dan kostum yang membuatnya percaya diri. Ia merasa lebih kuat dan bangga dengan versi dirinya yang sekarang di atas panggung dunia.


Dengan peluang besar bagi skater Jepang untuk memenangkan emas dan Amerika yang harus berjuang keras menghadapi tekanan, babak program bebas wanita akan menjadi penentu perebutan medali di Olimpiade Milan-Cortina. Kompetisi ini diprediksi akan berlangsung sangat kompetitif dan menarik untuk disaksikan secara global.

Source: apnews.com

Berita Terkait

Back to top button