Qatar Buka Kembali Ruang Udara Secara Terbatas, Siasat Darurat Hadapi Serangan Drone dan Rudal Iran di Teluk

Qatar secara bertahap membuka kembali ruang udaranya setelah serangan rudal dan drone Iran terus melanda kawasan Teluk. Pembukaan ini dilakukan meski layanan penerbangan terjadwal ke dan dari Doha masih tetap ditangguhkan.

Otoritas Penerbangan Sipil Qatar mengumumkan pembukaan terbatas pada Jumat malam, menyatakan penerbangan akan beroperasi melalui “rute navigasi kontinjensi yang ditentukan dengan kapasitas operasional terbatas.” Langkah ini dilakukan bekerja sama dengan angkatan bersenjata Qatar demi menjamin keamanan penerbangan.

Pembatasan Penerbangan dan Prioritas Evakuasi
Pembukaan ruang udara ini hanya berlaku untuk penerbangan evakuasi penumpang dan layanan kargo udara. Penumpang dengan tiket konfirmasi diminta untuk selalu mengikuti pengumuman terbaru dari maskapai sebelum berangkat ke bandara.

Qatar Airways menyatakan akan mengoperasikan penerbangan repatriasi pada tanggal 7 Maret menuju beberapa kota besar dunia seperti London, Paris, Madrid, Roma, dan Frankfurt. Prioritas diberikan bagi penumpang terdampak dengan keluarga, lansia, dan kebutuhan perjalanan medis atau kemanusiaan mendesak.

Qatar menutup ruang udara sejak 28 Februari sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi konflik di kawasan. Dalam kurun tujuh hari terakhir, negara ini menjadi sasaran lebih dari 14 rudal balistik dan empat drone yang diluncurkan dari Iran. Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi serangan yang membuat negara memperkuat pertahanan udara dengan interceptor dan mengaktifkan angkatan udaranya.

Dampak Serangan pada Infrastruktur dan Operasi Penerbangan di Teluk
Sejak awal konflik, lebih dari 2.000 penerbangan di bandara internasional Hamad Doha dibatalkan. Situasi serupa dialami berbagai bandara di Teluk yang terdampak serangan Iran sebagai balasan atas operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang disebut Operation Epic Fury.

Maskapai Emirates menjalankan jadwal penerbangan terbatas dengan sekitar 30.000 penumpang diberangkatkan hanya dalam sehari. Pada Sabtu, Emirates mengoperasikan 106 penerbangan pulang-pergi ke 83 destinasi, sekitar 60 persen dari total jaringannya, dan berharap kembali penuh dalam beberapa hari mendatang.

Bandara Internasional Dubai yang merupakan bandara tersibuk untuk penumpang internasional terpaksa dievakuasi dan mencatat hampir 4.000 pembatalan penerbangan sejak Senin. Bandara Zayed di Abu Dhabi juga mengalami pembatalan lebih dari 1.000 penerbangan dan beroperasi dengan kapasitas terbatas.

Kuwait mengalami kerusakan infrastruktur akibat serangan drone yang menimbulkan luka ringan pada beberapa pekerja. Ruang udara Kuwait hingga kini masih ditutup untuk penerbangan komersial, dan Kuwait Airways mengalihkan penerbangannya melalui Jeddah, Arab Saudi.

Menurut analisis dari Cirium, telah terjadi sekitar 23.000 pembatalan penerbangan di seluruh kawasan Teluk sejak akhir Februari, memperlihatkan dampak serius dari ketegangan militer di wilayah ini.

Situasi ini menandai krisis keamanan signifikan di Teluk yang belum menunjukkan tanda mereda. Kebijakan pembukaan ruang udara Qatar secara parsial sekaligus menjadi upaya pertama menjaga konektivitas udara dan keamanan penerbangan di tengah eskalasi konflik regional yang belum usai.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.aljazeera.com

Berita Terkait

Back to top button