Rupiah Terjepit Lagi, Sentimen Global Mendorong Tekanan ke Titik Terlemah

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat. Di pasar spot, rupiah melemah 0,45% menjadi Rp 16.980 per dolar AS, sementara data Jisdor Bank Indonesia mencatat pelemahan 0,32% ke Rp 16.957 per dolar AS.

Tekanan itu belum mereda karena sentimen global masih cenderung negatif. Penguatan dolar AS dan meningkatnya sikap risk-off di pasar internasional membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi lebih rentan.

Faktor eksternal masih dominan

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor dari luar negeri. Menurut dia, penguatan dolar AS menjadi salah satu penekan utama, disusul meningkatnya kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian pasar global.

Sentimen risk-off biasanya mendorong pelaku pasar meninggalkan aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, dolar AS kerap diburu karena dinilai lebih likuid dan stabil dibandingkan mata uang negara berkembang.

Aliran dana global ikut memengaruhi rupiah

Pergerakan rupiah juga sangat sensitif terhadap arah aliran dana asing ke pasar keuangan. Saat investor global memilih menahan risiko, permintaan terhadap aset emerging market menurun dan tekanan pada rupiah pun bertambah.

Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik. Arah kebijakan moneter Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga global, serta kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dunia ikut membentuk sentimen yang menekan mata uang Garuda.

Posisi rupiah di antara mata uang Asia

Jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang regional, rupiah masih berada dalam tekanan yang serupa dengan mata uang kawasan lain. Namun, pelemahan ke level Rp 16.980 per dolar AS di pasar spot menunjukkan bahwa rupiah masih membutuhkan dukungan sentimen yang lebih kuat agar bisa kembali stabil.

Berikut gambaran singkat faktor yang paling memengaruhi pelemahan rupiah saat ini:

  1. Penguatan dolar AS di pasar global.
  2. Meningkatnya sentimen risk-off investor.
  3. Kecenderungan dana asing masuk ke aset aman.
  4. Ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Pasar menunggu sinyal perbaikan

Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar biasanya mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, pernyataan bank sentral utama, dan arah pergerakan imbal hasil obligasi global. Sinyal yang lebih dovish dari otoritas moneter dunia dapat membantu meredakan tekanan pada mata uang emerging market.

Sampai sentimen luar negeri membaik, rupiah masih berpotensi bergerak sensitif terhadap perubahan ekspektasi pelaku pasar. Fokus utama pasar pun tetap tertuju pada kekuatan dolar AS dan arah risk appetite global yang menentukan ruang gerak rupiah dalam perdagangan berikutnya.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: insight.kontan.co.id
Exit mobile version