Cicada Menyebar Di 25 Negara Bagian, Gejala Yang Perlu Diwaspadai Kini Terungkap

Varian baru COVID-19 bernama BA.3.2, yang dijuluki “cicada”, kini dilaporkan menyebar di sedikitnya 25 negara bagian di Amerika Serikat. Varian ini menarik perhatian karena membawa banyak perubahan genetik pada protein spike, yang berpotensi membuatnya lebih mudah lolos dari kekebalan tubuh akibat vaksinasi atau infeksi sebelumnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut BA.3.2 sebagai garis keturunan baru yang berbeda secara genetik dari varian-varian yang dominan dalam beberapa tahun terakhir. Meski begitu, para ahli menegaskan belum ada bukti bahwa varian ini memicu penyakit yang lebih berat atau lonjakan rawat inap di wilayah yang kasusnya meningkat.

Apa yang membuat BA.3.2 jadi sorotan

BA.3.2 pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024 sebagai turunan dari BA.3, subvarian omicron yang sempat beredar pada 2022. Varian itu kemudian berkembang perlahan sebelum kembali naik pada periode berikutnya dan mulai terdeteksi lebih luas di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Virolog Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, mengatakan varian ini memiliki banyak mutasi yang dapat membuat sistem kekebalan lebih sulit mengenalinya. Dalam laporan terbaru CDC dan studi yang dimuat di Morbidity and Mortality Weekly Report, perubahan pada spike protein BA.3.2 juga dinilai berpotensi menurunkan perlindungan dari infeksi sebelumnya maupun vaksin.

Sebaran BA.3.2 di Amerika Serikat

CDC mencatat BA.3.2 telah terdeteksi di sedikitnya 25 negara bagian per 11 Februari. Berikut daftar wilayah yang disebutkan dalam data tersebut.

  1. California
  2. Connecticut
  3. Florida
  4. Hawaii
  5. Idaho
  6. Louisiana
  7. Maine
  8. Maryland
  9. Massachusetts
  10. Michigan
  11. Missouri
  12. Nevada
  13. New Hampshire
  14. New Jersey
  15. New York
  16. Ohio
  17. Pennsylvania
  18. Rhode Island
  19. South Carolina
  20. Texas
  21. Utah
  22. Vermont
  23. Virginia
  24. Wyoming

Selain itu, CDC dan basis data GISAID mencatat BA.3.2 sudah menyebar ke sedikitnya 23 negara. Sebagian besar kasus internasional dilaporkan berasal dari Denmark, Jerman, dan Belanda.

Temuan di pengawasan limbah dan kasus perjalanan

Di Amerika Serikat, BA.3.2 pertama kali terdeteksi pada seorang pelancong yang kembali dari Belanda melalui Bandara Internasional San Francisco pada Juni 2025. Sejak saat itu, varian ini juga ditemukan pada pelancong internasional lain, pasien COVID-19, dan sampel air limbah.

Data pemantauan air limbah CDC menunjukkan BA.3.2 ditemukan dalam setidaknya 11 persen sampel nasional pada pekan yang berakhir 21 Maret. Program WastewaterSCAN milik Stanford University juga melaporkan peningkatan deteksi di sampel limbah di berbagai wilayah.

Apakah varian ini lebih berbahaya

Sejauh ini, para ahli belum melihat tanda bahwa BA.3.2 menyebabkan penyakit yang lebih parah. Direktur global health and emerging pathogens institute di Mt. Sinai, Adolfo García-Sastre, mengatakan tidak ada bukti bahwa varian ini meningkatkan keparahan sakit atau angka rawat inap di negara-negara yang kasusnya lebih banyak.

Pekosz juga menilai BA.3.2 “terlihat mengkhawatirkan di atas kertas”, tetapi belum menunjukkan dampak besar terhadap pola penyakit di banyak tempat. WHO pada Desember 2025 mengklasifikasikan BA.3.2 sebagai “variant under monitoring” karena perlu pengawasan lebih lanjut.

Gejala yang perlu diwaspadai

Gejala BA.3.2 disebut serupa dengan varian COVID-19 lain yang masih beredar. CDC mencatat gejala umum COVID-19 pada 2026 sebagai berikut.

Gejala umum
Batuk
Demam atau menggigil
Sakit tenggorokan
Hidung tersumbat
Sesak napas
Hilang penciuman atau perasa
Lemas
Sakit kepala
Diare atau muntah

Gejala bisa berbeda pada tiap orang dan umumnya membaik dengan perawatan suportif. García-Sastre mengatakan varian baru ini juga masih sensitif terhadap obat antivirus COVID-19 yang telah dikembangkan.

Bagaimana dengan vaksin

Perhatian terhadap BA.3.2 muncul karena perubahan pada spike protein bisa memengaruhi efektivitas vaksin. Namun, CDC dan WHO menyebut vaksin COVID terbaru yang menargetkan garis keturunan JN.1 tetap diperkirakan memberi perlindungan terhadap penyakit berat.

Dalam uji laboratorium, vaksin yang ada dinilai kurang efektif terhadap BA.3.2 dibandingkan terhadap varian lain, tetapi riset tambahan masih dibutuhkan. WHO juga menegaskan vaksin COVID saat ini “diharapkan tetap memberikan perlindungan terhadap penyakit parah”.

Langkah pencegahan yang masih dianjurkan mencakup tes saat bergejala, tetap di rumah ketika sakit, dan memakai masker di ruang dalam yang padat atau berisiko tinggi. Bagi kelompok rentan, termasuk orang berusia di atas 65 tahun, orang dengan imunitas lemah, dan penderita kondisi medis tertentu, diskusi dengan tenaga kesehatan soal booster tetap penting karena vaksinasi masih dinilai membantu menekan kasus.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.today.com

Berita Terkait

Back to top button