Misi Artemis II menjadi penanda kembalinya manusia ke lintasan Bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak Apollo 17. NASA meluncurkan empat astronot dari Pusat Antariksa Kennedy, Florida, untuk menjalani penerbangan berawak yang mengelilingi Bulan tanpa mendarat di permukaannya.
Peluncuran ini juga menempatkan tiga warga Amerika Serikat dan satu astronot Kanada dalam perjalanan yang dirancang berlangsung hampir 10 hari. Misi tersebut diposisikan sebagai uji penting sebelum NASA melanjutkan ambisi pendaratan manusia di Bulan melalui program Artemis.
Peluncuran bersejarah dari Kennedy Space Center
Roket Space Launch System yang membawa kapsul Orion lepas landas dari Kompleks Peluncuran 39B di Kennedy Space Center. Ribuan penonton menyaksikan momen itu secara langsung saat mesin roket menyala dan wahana bergerak meninggalkan Florida menuju orbit Bumi.
Keempat awak yang ikut dalam misi ini adalah Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, Christina Koch sebagai spesialis misi, dan Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada. Mereka menjadi kru pertama yang dikirim NASA untuk terbang mengitari Bulan sejak era Apollo.
Tahapan penerbangan Artemis II
Setelah lepas landas, kru akan menghabiskan satu hingga dua hari pertama di orbit tinggi Bumi. Pada fase ini, tim akan memeriksa sistem pendukung kehidupan, propulsi, navigasi, dan komunikasi yang ada di kapsul Orion.
Berikut tahapan utama misi Artemis II:
- Orbit tinggi Bumi untuk pemeriksaan sistem.
- Mesin translunar injection dinyalakan untuk keluar dari orbit Bumi.
- Penerbangan menuju orbit sisi jauh Bulan.
- Pemanfaatan gravitasi Bulan untuk membantu lintasan kembali.
- Tes sistem selama perjalanan pulang sebelum reentry ke atmosfer Bumi.
Setelah semua sistem dinyatakan siap, Orion akan menyalakan mesin translunar injection untuk mendorong wahana menuju Bulan. Langkah ini penting karena menentukan akurasi lintasan dan kesiapan wahana selama perjalanan antariksa jangka panjang.
Menggunakan gravitasi Bulan sebagai jalur pulang
Saat mencapai sisi jauh Bulan, Orion tidak akan melakukan pendaratan. Wahana justru akan melintas pada lintasan yang memanfaatkan gaya gravitasi Bulan agar bisa berbelok kembali menuju Bumi dengan penggunaan bahan bakar yang lebih efisien.
Strategi ini dipilih untuk menghemat propelan dan menguji perilaku kapsul dalam kondisi yang lebih menyerupai misi antariksa dalam jangka panjang. Setelah melewati Bulan, kru akan menghabiskan beberapa hari tambahan untuk menjalankan uji sistem daya, kontrol panas, dan operasi awak.
Kapsul Orion kemudian dijadwalkan masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 40.233 kilometer per jam. Pendaratan direncanakan terjadi di Samudra Pasifik, jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana.
Mengapa misi ini penting bagi NASA
Artemis II bukan sekadar penerbangan uji, tetapi batu loncatan untuk misi berikutnya dalam program Artemis. NASA ingin memastikan bahwa sistem roket, kapsul, dan prosedur keselamatan benar-benar layak sebelum mengirim manusia ke tujuan Bulan yang lebih ambisius.
Misi ini juga membawa nilai simbolik karena menjadi penerbangan berawak paling jauh dari Bumi bagi manusia dalam setidaknya setengah abad terakhir. Peluncuran tersebut sekaligus menegaskan bahwa eksplorasi Bulan kembali menjadi prioritas besar dalam persaingan antariksa global.
Program Artemis selama ini dipandang sebagai upaya NASA untuk membangun kembali kehadiran manusia di sekitar Bulan secara berkelanjutan. Jika Artemis II berhasil, langkah berikutnya akan menjadi dasar bagi misi yang berpotensi membawa astronaut turun ke permukaan Bulan lagi setelah jeda panjang sejak era Apollo.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.kompas.id