
Pasar saham Asia-Pasifik dibuka campuran pada perdagangan Selasa, di tengah harapan meredanya konflik di Timur Tengah meski ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih tinggi. Fokus investor tertuju pada pergerakan diplomasi dan sinyal eskalasi militer, yang ikut memengaruhi arah aset berisiko di kawasan.
Pernyataan keras dari Iran dan ancaman balasan dari Presiden Donald Trump menambah kehati-hatian pelaku pasar. Di saat yang sama, kontrak berjangka minyak bergerak melemah, memberi sedikit ruang bagi sentimen pasar yang sempat tertekan oleh risiko geopolitik.
Ketegangan Iran-AS masih membayangi pasar
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Trump ingin mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan” atau pembenaran untuk perang baru. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak menerima negosiasi “di bawah bayang-bayang ancaman”.
Trump sebelumnya mengatakan pada Senin bahwa “lots of bombs [will] start going off” jika kesepakatan tidak tercapai sebelum gencatan senjata yang rapuh dengan تهران berakhir pada Selasa malam. Ancaman itu muncul saat delegasi Amerika bersiap kembali ke Pakistan untuk kemungkinan putaran kedua pembicaraan damai.
Bursa Asia bergerak beragam
Di Jepang, Nikkei 225 naik 1,15 persen, sementara Topix bergerak sedikit lebih tinggi. Korea Selatan mencatat penguatan lebih besar, dengan Kospi naik 2,11 persen, meski Kosdaq yang berkapitalisasi kecil justru turun tipis.
Sebaliknya, pasar Australia melemah setelah sempat dibuka menguat. S&P/ASX 200 tergelincir 0,24 persen, sedangkan CSI 300 China daratan turun 0,21 persen dan Hang Seng Hong Kong naik 0,46 persen.
Saham Hong Kong mendapat dorongan dari debut IPO besar
Perhatian di Hong Kong juga tertuju pada debut Victory Giant, salah satu pemasok papan sirkuit tercetak Nvidia. Saham perusahaan itu melesat lebih dari 50 persen dari harga penawaran awal HK$209,88.
Victory Giant menghimpun dana sebesar $2,24 miliar melalui penawaran umum perdana tersebut. Nilai itu menjadikannya IPO terbesar di Hong Kong sejak Zijin Gold pada September lalu, menandakan minat pasar yang masih kuat pada emiten terkait rantai pasok teknologi.
Minyak melemah, indeks berjangka Wall Street menguat tipis
Kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei turun 1,51 persen menjadi $88,26 per barel pada pukul 9.34 malam waktu New York. Brent untuk pengiriman Juni juga turun 0,48 persen ke $95,01 per barel.
Sementara itu, indeks berjangka Wall Street dibuka hijau tipis. Futures S&P 500 naik 0,1 persen, Nasdaq 100 menguat 0,2 persen, dan kontrak Dow Jones Industrial Average naik 70 poin atau 0,2 persen.
Pasar global menimbang risiko geopolitik dan kondisi ekonomi
Pada sesi reguler Senin di Wall Street, S&P 500 turun 0,24 persen ke 7.109,14, Nasdaq Composite terkoreksi 0,26 persen ke 24.404,39, dan Dow Jones Industrial Average melemah 4,87 poin atau 0,01 persen ke 49.442,56. Penurunan Nasdaq memutus reli 13 hari beruntun, yang merupakan rekor positif terpanjang sejak 1992.
Di tengah volatilitas geopolitik, sejumlah pelaku pasar masih melihat prospek ekonomi jangka pendek relatif stabil. Ohsung Kwon, chief equity strategist di Wells Fargo, mengatakan di CNBC bahwa, “I think the economy is going to be fine for the next three months,” yang ikut membantu menjaga optimisme atas aset ekuitas meski sentimen jangka pendek tetap sensitif terhadap perkembangan Iran, AS, dan hasil perundingan berikutnya.
Source: www.cnbc.com








