Lorna Hajdini Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual dan Ancaman Karier, Kasus JPMorgan Mengguncang Lingkungan Kerja

Lorna Hajdini, seorang eksekutif di divisi Leveraged Finance JPMorgan Chase, dilaporkan digugat oleh seorang rekan kerja pria yang lebih muda atas tuduhan pelecehan seksual, pelecehan rasial, dan paksaan profesional. Dalam gugatan yang diajukan ke New York County Supreme Court, Hajdini disebut memanggil korban sebagai “Brown boy Indian”, diduga membiusnya, lalu mengancam kariernya ketika korban menolak melakukan tindakan seksual yang tidak disetujui.

Dalam dokumen perkara itu, korban yang diidentifikasi sebagai “John Doe” menyebut rangkaian pelecehan dimulai pada musim semi 2024 setelah keduanya bekerja bersama. Gugatan tersebut menggambarkan adanya tekanan, ancaman terhadap promosi, hingga upaya memanfaatkan posisi kerja untuk memaksa korban tunduk.

Awal dugaan pelecehan

Salah satu peristiwa yang dikutip dari laporan Daily Mail menyebut Hajdini menjatuhkan pena di dekat meja korban, lalu saat membungkuk untuk mengambilnya, ia diduga menggosok kaki dan mencengkeram betis korban. Setelah itu, Hajdini disebut melontarkan komentar bernada seksual tentang pemain basket.

Gugatan itu juga menyatakan Hajdini mengajak korban minum, tetapi ketika ditolak, ia diduga mengancam akan menghancurkan kariernya. Kalimat ancaman yang tercantum dalam berkas perkara menunjukkan tekanan langsung agar korban menuruti kemauannya.

Ancaman promosi dan unsur rasisme

Pada September 2024, menurut gugatan, Hajdini kembali mengancam korban jika tidak berhubungan seks dengannya. Ia juga disebut merendahkan kinerja profesional korban dan menyinggung ras serta identitas etnisnya dalam konteks jabatan di perusahaan.

Pernyataan yang dicantumkan dalam gugatan menggambarkan ancaman terhadap posisi kerja korban, termasuk referensi bahwa manajemen tidak menginginkan “Brown boy Indian” memimpin originations. Gugatan itu menempatkan unsur rasisme dan intimidasi karier sebagai bagian dari pola tekanan yang diduga dilakukan Hajdini.

Dugaan pemaksaan dan penggunaan obat

Korban mengatakan akhirnya menyerah karena takut pembalasan, dan penolakannya didengar oleh saksi yang berada di kamar sebelah. Dalam dokumen perkara juga disebut Hajdini mengakui memberikan Rohypnol, obat yang kerap dikenal sebagai “roofies” atau date-rape drug, serta zat farmasi untuk membantu ereksi agar korban dapat melakukan hubungan seksual yang dipaksakan.

Dalam salah satu kejadian di apartemen korban, Hajdini disebut datang dan melakukan pendekatan seksual secara paksa. Gugatan itu menyatakan ia membuka pakaian atas, menyentuh bagian tubuhnya sendiri, lalu mengucapkan komentar menghina istri korban dengan muatan rasis.

Kejadian di apartemen dan tuduhan kekerasan seksual

Berkas perkara menyebut Hajdini lalu memaksa melepas celana korban dan melakukan oral seks tanpa persetujuan. Saat korban menangis, ia diduga justru memarahinya karena tidak ereksi.

Ucapan yang dikutip dalam gugatan menunjukkan penghinaan dan upaya merendahkan korban di tengah dugaan kekerasan seksual tersebut. Tuduhan ini menjadi inti dari klaim bahwa korban mengalami pelecehan yang berlapis, baik secara fisik maupun verbal.

Laporan ke JPMorgan dan respons bank

Pada Mei 2025, John Doe mengajukan keluhan tertulis ke JPMorgan Chase, yang memuat dugaan diskriminasi berbasis ras dan gender, pelecehan, serta pola “severe sexual abuse”. Namun, bank menyatakan tidak menemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut setelah melakukan penyelidikan internal.

Juru bicara JPMorgan mengatakan banyak karyawan telah bekerja sama dalam penyelidikan, tetapi pengadu disebut menolak ikut serta dan tidak memberikan fakta penting yang dapat mendukung klaimnya. Pihak bank mempertahankan bahwa tuduhan itu tidak memiliki dasar yang cukup.

Dampak bagi korban dan posisi Hajdini

Pengacara korban, Daniel J Kaiser, mengatakan kliennya terdampak berat secara pribadi maupun profesional akibat perlakuan yang diduga dialaminya. Menurut keterangan itu, Hajdini masih bekerja di perusahaan, sementara korban kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

Kaiser menyebut kliennya menuntut ganti rugi atas kehilangan pendapatan, tekanan emosional, kerusakan reputasi, serta punitive damages dan perubahan kebijakan di bank. Gugatan ini menambah sorotan terhadap dugaan penyalahgunaan kuasa di lingkungan kerja, terutama ketika relasi atasan dan bawahan diduga dimanfaatkan untuk tekanan seksual dan profesional.

Latar belakang singkat Lorna Hajdini

Berdasarkan profil LinkedIn yang dikutip dalam laporan, Hajdini meraih gelar Bachelor of Science di bidang Finance and Statistics dari NYU Stern School of Business. Ia disebut telah hampir 15 tahun berkarier di JPMorgan dan saat ini menjabat Executive Director di divisi Leveraged Finance.

Sebelumnya, ia memegang posisi vice president dengan akses ke sektor consumer, retail, pharma/medtech, logistics, serta aerospace and defence. Ia juga mengikuti program Private Equity and Venture Capital di Harvard Business School Executive Education, sementara pengalaman awalnya mencakup magang di kantor medical director, Glazer Capital Management, dan Tudor Investment Corporation.

Source: www.ndtv.com
Terkait