Harga emas dan perak mulai bergerak berlawanan arah setelah pasar membaca ulang risiko geopolitik di Timur Tengah. Emas sempat melemah tipis, sementara perak justru terus menguat tajam dan memperlebar jarak kinerja di antara keduanya.
Perubahan arah ini muncul setelah beredar laporan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Di saat yang sama, pasar juga memantau sinyal kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat menahan penguatan emas di perdagangan intraday.
Emas kembali naik, tapi sentimennya belum solid
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (7/5/2026) ditutup di posisi US$ 4685,18 per troy ons. Harga itu melandai 0,09%, meski pada perdagangan Jumat (8/5/2026) pukul 06.36 WIB emas naik 0,21% ke US$ 4695 per troy ons.
Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, mengatakan emas bisa menembus US$ 5.000 per ounce jika gencatan senjata bertahan dan Selat Hormuz kembali terbuka. Ia menambahkan, pasar kini fokus pada situasi di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS.
Kebijakan The Fed dan harga energi ikut menentukan arah
Di pasar, kenaikan biaya energi masih menjadi perhatian karena biasanya memicu inflasi. Dalam kondisi seperti itu, pembuat kebijakan cenderung enggan memangkas suku bunga untuk menahan tekanan harga.
Emas sebenarnya dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, logam mulia itu cenderung kurang menarik saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Perak justru melaju lebih kencang
Berbeda dengan emas, harga perak masih bergerak kuat. Refinitiv mencatat perak ditutup di US$ 78,48 per troy ons pada Kamis (7/5/2026), naik 1,5%.
Dalam tiga hari terakhir, harga perak sudah melesat 7,92%. Pada Jumat (8/5/2026) pukul 06.39 WIB, perak kembali naik 0,76% ke US$ 79,07 per troy ons.
Prediksi berikutnya masih condong bullish
TD Securities menilai harga emas masih berpotensi naik di atas US$ 5.200 per ounce setelah konflik dan tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak mulai mereda. Dalam catatannya, TD Securities menyebut perubahan arah kebijakan The Fed yang lebih fokus pada pasar tenaga kerja dapat membantu tren bullish emas.
Faktor lain yang ikut mendukung menurut TD Securities adalah penurunan imbal hasil obligasi, pelemahan dolar AS, serta kembali meningkatnya permintaan investor dan bank sentral. Laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat juga menjadi acuan pasar untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed tahun ini.
Permintaan bank sentral masih jadi penopang
Di sisi permintaan, data menunjukkan bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya selama 18 bulan berturut-turut pada April. Aktivitas pembelian ini menambah dukungan bagi harga emas di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan ekspektasi suku bunga.
Pasar kini juga menunggu kepastian arah negosiasi antara AS dan Iran. Sejumlah sumber dan pejabat terkait menyebut kedua pihak semakin mendekati kesepakatan sementara untuk menghentikan perang, tetapi isu-isu paling sensitif belum selesai dibahas.
Source: www.cnbcindonesia.com






