Veda Ega Pratama kini memegang satu pencapaian yang belum pernah dibuat pembalap Indonesia lain di Grand Prix. Pebalap asal Wonosari, Gunungkidul, itu menjadi orang Indonesia pertama yang naik podium Kejuaraan Dunia Moto3 setelah finis ketiga di Grand Prix Brasil.
Prestasi itu datang saat usianya baru 17 tahun dan mempertegas statusnya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di balap motor dunia. Di musim 2026, ia membela Honda Team Asia dengan nomor balap #9 dan terus bersaing di papan atas klasemen.
Dari Gunungkidul ke level dunia
Veda lahir pada 23 November 2008 di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah asalnya tidak dikenal sebagai penghasil talenta motorsport kelas dunia, tetapi perjalanan Veda menunjukkan arah yang berbeda.
Ia mulai mengendarai minibike pada usia 5 tahun dan sudah turun balapan pada usia 6 tahun. Pada 2019, saat berusia 10 tahun, ia juga sudah meraih gelar Kejuaraan Nasional Balap Underbone.
Dorongan terbesar datang dari ayahnya, Sudarmono, mantan pembalap yang pernah berkompetisi di Kejuaraan Nasional Supersport 600. Selain itu, Veda juga menjadikan Casey Stoner sebagai idolanya dan menyebut legenda MotoGP asal Australia itu sebagai pembalap favorit sepanjang masa.
Jalur cepat menuju panggung Grand Prix
Langkah Veda ke level internasional mulai terlihat ketika ia mendapat kesempatan wildcard di Asia Talent Cup 2021 di Mandalika saat berusia 12 tahun. Ajang itu menjadi pengalaman balap internasional pertamanya dan membuka jalan menuju level yang lebih tinggi.
Asia Talent Cup, yang kini bernama Idemitsu Moto4 Asia Cup, merupakan seri junior unggulan di Asia untuk mencari dan mengembangkan talenta muda. Veda langsung menunjukkan kemajuan pesat dengan finis ketiga pada musim penuh pertamanya di 2022.
Pada 2023, ia tampil dominan dan memenangi 9 dari 12 balapan untuk menjadi pembalap Indonesia pertama yang merebut titel Asia Talent Cup. Kemenangan di Sepang sekaligus mengantarnya promosi ke Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Berubah jadi pemenang di Eropa
Red Bull MotoGP Rookies Cup dikenal sebagai salah satu seri junior paling kompetitif di dunia. Para pembalap bertarung dengan motor KTM identik di depan penonton pada event Grand Prix, sehingga hasil balapan sangat mencerminkan kemampuan murni.
Pada musim debutnya di 2024, Veda finis kedelapan klasemen akhir. Setahun kemudian, ia naik kelas menjadi pemenang balapan setelah meraih kemenangan perdana di Mugello, Italia, lalu menambah dua kemenangan lain di sirkuit yang sama dan di Sachsenring, Jerman.
Kemenangan di Mugello menjadi momen bersejarah karena Veda tercatat sebagai pembalap Indonesia pertama yang menang di Red Bull MotoGP Rookies Cup. Ia menutup musim 2025 sebagai runner-up dengan 181 poin, enam podium, dan tujuh kali finis empat besar.
Di musim yang sama, ia juga tampil di JuniorGP World Championship dan finis di peringkat ke-10 klasemen akhir. Pada akhir 2025, ia tampil di FIM MotoGP Awards di Valencia sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya di Rookies Cup.
Debut Moto3 yang langsung mencuri perhatian
Veda memulai petualangan Moto3 pada 2026 bersama Honda Team Asia. Debutnya di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, berlangsung impresif karena ia langsung lolos ke Q2 dan meraih start dari posisi kelima.
Pada balapan pertamanya di Moto3, ia sempat bertarung di kelompok podium sepanjang 19 lap dan finis kelima. Hasil itu menjadi pencapaian terbaik pembalap Indonesia di kelas Moto3 pada saat itu.
Perhatian paddock pun langsung tertuju kepadanya. Carlo Merlini dari Gresini Racing menyebut Veda sebagai “talenta Asia terkuat saat ini”, sementara Alex Marquez juga ikut menyoroti bakat pembalap muda Indonesia tersebut.
Di Grand Prix Brasil, Veda kembali tampil kuat dengan menempati posisi keempat di grid. Saat balapan berlangsung, bendera merah dikibarkan setelah terjadi kecelakaan yang melibatkan pembalap lain.
Setelah restart, Veda sempat turun hingga posisi ketujuh, tetapi ia bangkit pada empat lap terakhir. Ia menyalip dengan efektif dan mengamankan podium ketiga pada lap terakhir, sekaligus mencatat sejarah baru untuk Indonesia.
Mengapa Veda cepat menonjol
Kekuatan Veda terlihat dari beberapa aspek penting di lintasan. Ia dikenal stabil saat pengereman keras, agresif saat menyalip, cepat beradaptasi di sirkuit baru, dan cukup kuat secara mental saat menghadapi tekanan balapan.
Ia juga punya kebiasaan mempelajari trek baru lewat video game MotoGP dan menonton rekaman balapan. Di luar lintasan, ia suka memancing dan bersepeda untuk menjaga kebugaran.
Veda menyebut Motegi sebagai sirkuit favoritnya karena menantang dan teknis. Di sekolah, mata pelajaran favoritnya adalah olahraga, sejalan dengan kesehariannya sebagai atlet muda.
Ia juga tercatat sebagai atlet resmi Red Bull sejak awal 2026. Status itu membuatnya menjadi pembalap Indonesia pertama dan satu-satunya pembalap Grand Prix Asia yang memiliki kontrak penuh dengan Red Bull pada 2026.
Harapan besar untuk MotoGP Indonesia
Indonesia punya basis penggemar motor yang sangat besar dan sudah menjadi pasar sepeda motor penting di dunia. Kehadiran Pertamina Mandalika Circuit di Lombok juga ikut mendukung perkembangan talenta balap nasional.
Jejak pembalap Indonesia di Grand Prix sebelumnya sudah diisi Mario Suryo Aji, Doni Tata Pradita, dan Afridza Munandar yang dikenang sebagai inspirasi generasi berikutnya. Namun, posisi Veda terasa berbeda karena ia meraih tempat di grid Moto3 lewat prestasi dan langsung naik podium hanya dalam balapan keduanya.
Setelah dua putaran, Veda berada di peringkat ketiga klasemen Kejuaraan Dunia Moto3 2026 dengan 27 poin. Ia kembali menempati posisi ketiga setelah Ronde 7 di Mugello, dan balapan kandang di Mandalika pada Oktober mendatang diperkirakan jadi momen yang sangat dinanti publik Indonesia.
