Piala Dunia kali ini belum benar-benar bersahabat untuk tim Asia. Dari sembilan wakil AFC, peluang terbesar justru mengarah pada hanya tiga tim yang bisa menembus babak 32 besar, dengan Jepang dan Australia sudah memastikan tempat lebih dulu.
Situasi itu membuat sorotan tertuju pada dua jalan yang berbeda. Jepang langsung menghadapi Brasil, sementara Australia mendapat laga yang dinilai lebih seimbang saat berjumpa Mesir.
Awal yang menjanjikan, lalu persaingan mengeras
Tim-tim Asia sebenarnya membuka turnamen dengan modal kuat. Enam wakil AFC tidak terkalahkan pada laga pertama, termasuk Jepang yang menahan Belanda 2-2, Korea Selatan yang menang 2-1 atas Ceko, serta Australia yang menundukkan Turki 2-0.
Qatar dan Arab Saudi juga mencuri hasil imbang 1-1 melawan Swiss dan Uruguay. Namun, Irak, Uzbekistan, dan Jordania gagal mengikuti tren itu karena langsung kalah dari lawan masing-masing.
Memasuki laga kedua penyisihan grup, situasinya berubah lebih berat. Kualitas lawan membuat banyak wakil Asia kesulitan menjaga momentum.
Iran dan Korea Selatan masih menggantung
Iran dan Korea Selatan masih harus menunggu laga terakhir penyisihan grup. Iran saat ini berada di peringkat keenam klasemen sementara peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dan selisih gol nol setelah bermain imbang 1-1 melawan Mesir.
Korea Selatan berada dalam posisi paling rawan. Tim itu menempati peringkat kedelapan atau posisi terakhir peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dan selisih gol minus 1, sementara sejumlah tim masih bisa menggusur mereka.
Aljazair masih bisa menyalip Korsel jika bermain imbang melawan Austria. DR Congo juga masih punya peluang lewat kemenangan atas Uzbekistan yang sudah tersingkir.
Jepang dapat ujian terberat
Di antara wakil Asia yang sudah lolos, Jepang mendapat undian yang paling berat. Tim berjulukan Samurai Biru itu langsung bertemu Brasil, juara Grup C, pada Senin (29/6/2026) di Houston, Texas.
Secara permainan, Jepang datang dengan modal yang tidak kecil. Mereka berhasil menahan Belanda 2-2 di laga pembuka dan menunjukkan mentalitas yang berani saat menghadapi tim unggulan.
Kedisiplinan taktis dan kerja sama tim menjadi kekuatan utama Jepang. Gaya kolektif itu kerap menyulitkan tim yang bertumpu pada talenta individu besar, termasuk jika pressing Jepang mampu menahan kreativitas serangan Brasil.
Jepang juga punya memori positif. Dalam laga persahabatan internasional pada 14 Oktober 2025, mereka menang 3-2 atas Brasil.
Brasil tetap unggul di atas kertas
Meski demikian, duel kali ini punya konteks berbeda. Brasil datang sebagai favorit juara dan lolos dengan meyakinkan, sehingga kualitas individu mereka tetap menjadi ancaman besar.
Vinicius Junior menjadi nama yang paling menonjol. Ia sudah mencetak empat gol dan satu asis, sementara Brasil juga masih punya Matheus Cunha untuk menambah daya gedor.
Dari sisi statistik, kedua tim sama-sama mencetak tujuh gol di Piala Dunia kali ini. Namun, Brasil lebih agresif dengan 40 tembakan berbanding 27 milik Jepang, sementara xG Brasil mencapai 6,19, jauh di atas Jepang yang hanya 2,92.
Penguasaan bola Brasil juga sedikit lebih tinggi, yakni 49 persen berbanding 46 persen milik Jepang. Angka itu memperlihatkan bahwa Jepang butuh efisiensi tinggi bila ingin memperpanjang kiprah Asia di turnamen ini.
Australia punya jalan yang lebih terbuka
Jika Jepang menghadapi rintangan paling berat, Australia justru dinilai punya peluang lebih baik untuk melaju. Runner-up Grup D itu akan bertemu Mesir di Arlington, Texas, Jumat (3/7/2026).
Di atas kertas, kedua tim juga tidak terlalu jauh. Australia berada di peringkat ke-28 FIFA, sedangkan Mesir di peringkat ke-26.
Australia mengandalkan keunggulan fisik, stamina, dan organisasi pertahanan yang disiplin. Mereka juga berbahaya dalam situasi bola mati, baik saat bertahan maupun menyerang.
Kekuatan Socceroos bukan pada satu atau dua megabintang. Mereka mengandalkan kerja sama tim, kerja keras, dan transisi cepat, dengan Nestory Irankunda sebagai salah satu senjata untuk membuka pertahanan lawan.
Mesir tidak mudah ditembus
Mesir tetap datang dengan reputasi kuat. Skuad ini dikenal memiliki perpaduan pemain yang merumput di kompetisi elite Eropa dan pilar dari klub domestik besar seperti Al Ahly dan Zamalek.
Mohamed Salah tetap menjadi figur utama. Ia masih termasuk salah satu penyerang sayap terbaik di dunia, sehingga Australia harus siap menghadapi ancaman yang datang dari berbagai sisi.
Dengan komposisi itu, peluang wakil Asia di fase gugur tetap bergantung pada detail kecil. Jepang butuh tampil nyaris sempurna untuk menantang Brasil, sementara Australia punya jalur yang sedikit lebih realistis untuk menjaga peluang Asia tetap hidup.
Source: www.kompas.id






