FIFA kembali jadi sorotan setelah harga tiket laga Meksiko versus Inggris di babak 16 besar Piala Dunia 2026 melonjak ke level yang dianggap tak masuk akal. Untuk satu tiket resale, pembeli bisa diminta membayar hingga Rp 620,79 juta.
Laga di Stadion Azteca itu menjadi salah satu pertandingan yang paling diburu pendukung Inggris. Justru tingginya minat itu membuka ruang spekulasi, dengan tiket yang semula dijual murah berubah menjadi barang dagangan bernilai puluhan kali lipat.
Harga awal ratusan dolar, resale tembus puluhan ribu
Asosiasi Sepak Bola Inggris, The Football Association (FA), mengonfirmasi tiket tersebut awalnya dibeli penggemar lewat undian England Supporters’ Travel Club atau ESTC pada Desember 2025. Tiket termahal yang tercatat adalah empat tiket dengan harga awal 605 dolar AS, atau sekitar Rp 10,8 juta.
Tiket itu kemudian masuk ke pasar resale resmi FIFA setelah Inggris memastikan lolos ke 16 besar usai menang 2-1 atas RD Kongo. BBC Sport melaporkan, tiket yang awalnya 605 dolar AS itu dipasarkan lagi sampai 30.000 dolar AS atau sekitar Rp 539,82 juta.
Biaya akhir bahkan lebih tinggi karena FIFA menambahkan potongan 15 persen kepada pembeli. Dengan biaya itu, total yang harus dibayar menjadi 34.500 dolar AS atau Rp 620,79 juta per tiket.
FIFA tetap memungut biaya dari dua sisi
Masalahnya tidak berhenti di harga jual kepada pembeli. FIFA juga mengambil potongan 15 persen dari penjual, setara 4.500 dolar AS, sehingga penjual masih mengantongi keuntungan 25.500 dolar AS per tiket atau sekitar Rp 458,84 juta.
Skema itu membuat FIFA dikritik karena mendapat pemasukan dari dua arah dalam satu transaksi. The Football Supporters’ Association (FSA) menyebut sistem tersebut sebagai bentuk keserakahan dan menilai bursa daring yang disediakan justru memudahkan tiket dijual pada harga yang sangat tinggi.
Permintaan tinggi, kuota terbatas
Antusiasme terhadap laga ini memang besar. ESTC mendapat jatah 3.000 tiket untuk pertandingan di Stadion Azteca yang berkapasitas 80.824 penonton, sementara peminatnya mencapai 4.373 anggota.
Untuk masuk ke ESTC, suporter harus membayar 65 pound sterling per tahun, sekitar Rp 1,5 juta. Anggota juga mengumpulkan caps dengan menghadiri laga kandang dan tandang, dan mereka yang punya caps terbanyak mendapat prioritas untuk pertandingan terbaik serta tiket termurah.
Tiket kuota ESTC hanya bisa dibeli oleh pengguna yang menyatakan diri sebagai penggemar Inggris saat mendaftar di FIFA. Hingga Jumat (3/7/2026), tersedia 76 tiket resale, meski BBC Sport tidak bisa memastikan apakah tiket-tiket itu dijual kembali oleh pembeli asli atau sudah berpindah tangan lebih dulu.
Kritik ke FIFA dan ke sesama suporter
FSA tidak hanya menyorot FIFA, tetapi juga para pendukung Inggris yang ikut menjual tiket dengan harga tinggi. Organisasi itu menilai para suporter seharusnya tidak memanfaatkan sesama pendukung dalam laga yang sangat dinantikan tersebut.
FSA juga mendorong agar FA mendapat kendali lebih besar atas tiket kuota resmi, seperti yang berlaku pada tiket kategori empat. Menurut mereka, langkah itu bisa mencegah eksploitasi terhadap pendukung Inggris di tengah tingginya permintaan.
FA sendiri tidak bisa membatasi penjualan kembali tiket-tiket itu karena FIFA mengizinkannya. Namun, tiket termurah seharga 60 dolar AS di kategori empat memang tidak bisa dijual kembali.
FIFA membela kebijakan harga variabel
Di tengah kritik, FIFA membela sistem penjualan kembali tiket Piala Dunia. FIFA menyatakan pendekatan harga variabel mereka sejalan dengan tren di berbagai sektor olahraga dan hiburan, karena harga disesuaikan untuk mengoptimalkan penjualan dan kehadiran penonton.
FIFA juga menegaskan bahwa kebijakan itu bertujuan memastikan nilai pasar yang adil untuk acara-acara tersebut. Namun, mahalnya tiket Piala Dunia 2026 bukan pertama kali dikeluhkan penggemar, dan FIFA tetap bergeming dengan alasan harga itu mencerminkan permintaan pasar.
Source: www.kompas.id






