PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) sama-sama memulai perjalanan bursa dengan lonjakan harga yang langsung menyentuh auto-reject atas (ARA). Namun, arah penggunaan dana IPO keduanya kini memperlihatkan fokus yang sangat berbeda.
JELI bersiap memperkuat lini produk dan distribusi, sementara JECX menyiapkan ekspansi fasilitas layanan mata di sejumlah wilayah. Keduanya memberi sinyal bahwa dana hasil penawaran umum bukan hanya untuk memperkuat neraca, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan bisnis setelah pencatatan saham perdana.
JELI Fokus Tambah Produk dan Kapasitas
Harga saham produsen Inaco Jelly itu naik 25% ke level Rp1.125 pada akhir sesi I perdagangan Selasa (7/7), dari harga IPO Rp900 per lembar. Lonjakan itu terjadi setelah perseroan melepas 226 juta saham dengan nilai penawaran umum mencapai Rp239,4 miliar.
Dalam penggunaan dananya, 56,7% dialokasikan untuk anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS) guna meningkatkan kapasitas produksi gummy dan jelly. Sebesar 10,04% lainnya dipakai sebagai modal kerja JELI untuk memperkuat logistik dan distribusi.
Direktur JELI Adhi Siswaya Lukman mengatakan perseroan akan meluncurkan sejumlah produk baru pada akhir kuartal III dan IV 2026. “Kita konsisten memperbaiki mutu, terus menambah SKU, dan kita tahun ini ada launching beberapa produk baru. Nanti September ada, di November ada,” ujarnya, Selasa (7/7).
Manajemen juga membidik pertumbuhan pendapatan hingga 26% pada 2026, dengan laba bersih yang diharapkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Target itu datang setelah pendapatan JELI turun 4,5% secara tahunan menjadi Rp753,05 miliar hingga akhir 2025, meski laba bersih tahun berjalan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp39,02 miliar.
JECX Siapkan Dua Klinik Baru dan Ekspansi Layanan Mata
Saham JECX juga menguat tajam di hari pertama, naik 24,8% dari Rp1.250 menjadi Rp1.560 pada akhir sesi I. Dari penawaran 487,98 juta saham, emiten rumah sakit dan klinik mata ini meraup dana IPO sebesar Rp609,98 miliar.
Perseroan mengalokasikan 22,95% dana IPO untuk membayar utang bank, lalu 30,32% untuk tiga anak usaha, yakni PT Nitra Sanata Bali di Bali, PT Orbita di Makassar, dan PT JEC Candi Sejahtera di Semarang. Sisanya, 46,72%, digunakan sebagai modal kerja untuk operasional, termasuk gaji dan tunjangan karyawan.
Prof. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, Sp.M(K), Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group, mengatakan perseroan akan mulai menggencarkan ekspansi dua fasilitas tambahan mulai bulan depan. Saat ini, JECX mengelola 5 rumah sakit mata dan 11 klinik mata di seluruh Indonesia.
Melansir laman resminya, JECX juga merencanakan pembukaan dua cabang baru di Kediri, Jawa Timur, dan Tangerang, Banten, tahun ini. Selain itu, fase groundbreaking JEC Bali @ Sanur telah dimulai pada Februari 2026.
JEC Group juga menegaskan rencana pendirian rumah sakit JEC di KEK Sanur, Bali. “Ini, dalam tanda kutip, ya, tugas dari pemerintah,” kata Tjahjono, seraya menyebut JEC sebagai satu-satunya rumah sakit berjenama Indonesia di KEK Sanur tanpa menggandeng perusahaan asing.
Untuk 2026, pengelola jaringan Jakarta Eye Center ini menargetkan pendapatan di kisaran Rp900 miliar hingga Rp1 triliun dengan laba bersih Rp320 miliar. Direktur Keuangan JEC Group Budi Djatmiko menyebut target itu masih bisa naik atau turun 10% tergantung tekanan biaya operasional dan upaya efisiensi.
Menurut prospektus IPO final, pendapatan JECX tumbuh 4% secara tahunan pada 2025 menjadi Rp926,76 miliar, sedangkan laba bersih tahun berjalan naik 16,05% menjadi Rp72,5 miliar. Dua emiten ini kini sama-sama memasuki fase pembuktian setelah euforia IPO mereda.
| Emiten | Fokus Dana IPO | Rencana Lanjutan |
|---|---|---|
| JELI | Kapasitas produksi, logistik, dan distribusi | Peluncuran produk baru pada September dan November |
| JECX | Pelunasan utang, dukungan anak usaha, modal kerja | Ekspansi dua fasilitas tambahan dan dua cabang baru |







