Issa Diop lama berada di persimpangan karier internasional. Hampir tujuh setengah tahun berlalu sejak laga internasional terakhirnya, dan pada November 2018 ia masih bermain untuk tim U-21 Prancis, bukan Maroko.
Nama bek kelahiran Toulouse itu sempat dipandang sebagai salah satu prospek besar Equipe Tricolore. Ia menempuh semua jenjang tim nasional junior Prancis, lalu naik daun bersama FC Toulouse sebelum pindah ke West Ham pada 2018 dengan nilai transfer 25 juta euro.
Namun, jalan yang semula terlihat mulus berubah pelan-pelan. Di Premier League, ia sempat menjalani dua tahun yang bagus, tetapi kemudian kehilangan tempat utama dan pada 2022 pindah ke Fulham dengan biaya transfer hampir 18 juta euro.
Di klub barunya pun, status starter belum benar-benar kembali. Perkembangan Diop terhenti, sementara di timnas Prancis persaingan di posisi bek tengah semakin ketat.
Upamecano dan Saliba menutup jalan
Di level tim nasional senior, dua nama seperti Dayot Upamecano dan William Saliba ikut mendorong Diop makin jauh dari skuad utama. Meski pernah mendapat banyak pujian, ia tak pernah sekalipun tampil dalam pertandingan internasional senior untuk Prancis.
Situasi itu membuat latar belakang Diop terasa kontras dengan reputasi awalnya. Bek yang dulu disebut punya masa depan cerah di Prancis justru kini muncul sebagai pahlawan tak terduga Maroko di Piala Dunia.
Perjalanan yang berbelok jauh
Kisah Diop menunjukkan bagaimana karier pemain belakang bisa berubah cepat ketika persaingan di klub dan tim nasional sama-sama ketat. Dari talenta muda yang dibesarkan sistem Prancis, ia harus menerima kenyataan bahwa nama-nama lain lebih dulu menguasai panggung terbesar.
Karena itu, sorotan terhadap Diop bukan hanya soal pergantian tim, tetapi juga soal betapa sulitnya menembus hierarki yang sudah diisi pemain seperti Upamecano dan Saliba. www.goal.com menyoroti bahwa meski sempat dipuji sebagai bintang masa depan, Diop belum pernah punya kesempatan di level senior bersama Prancis.
Source: www.goal.com






