Linda Noskova tidak hanya memenangi final Wimbledon, tetapi juga mengalahkan rasa frustrasi yang sempat membuatnya menangis di tengah pertandingan. Petenis Ceko itu akhirnya membawa pulang Venus Rosewater Dish yang besar setelah bangkit dari momen hampir kalah di set kedua.
Dalam final pertamanya di panggung Grand Slam, Noskova menaklukkan sesama petenis Ceko, Karolina Muchova, di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Sabtu (11/7/2026). Ia menang 6-2, 5-7, 6-3 dan meraih gelar tunggal putri Wimbledon pertamanya.
Hampir kehilangan kontrol sebelum bangkit
Noskova sempat unggul 5-2 pada set kedua dan mendapat tiga match point untuk menutup pertandingan. Namun, ia gagal memaksimalkan peluang itu, lalu kehilangan match point keempat karena double fault saat servis.
Kondisi itu membuat lengannya kaku dan ia menutup kepala dengan handuk sambil menangis frustrasi. Untuk menenangkan diri, Noskova meminta toilet break sebelum set ketiga dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Saat kembali ke lapangan, ia melihat dua trofi berbentuk piring Venus Rosewater Dish. Trofi yang besar disiapkan untuk juara, sedangkan yang lebih kecil untuk runner-up.
“Saat melihat trofi itu, saya berpikir tidak ingin mendapat yang kecil, saya akan membawa pulang yang besar. Momen itu sudah dekat dan saya akan patah hati jika tidak mendapatkannya. Maka, saya pun berusaha fokus kembali,” tutur Noskova.
Fokus baru yang langsung mengubah arah pertandingan
Upaya itu berbuah hasil cepat. Noskova langsung mematahkan servis Muchova pada gim pertama set ketiga, lalu unggul 3-0 dan menjaga kendali pertandingan hingga akhir.
Ketika mendapat match point kelima, ia tampil lebih tenang dan tidak lagi terjebak pada tekanan situasi. “Saat itu, saya bahkan tidak sadar dalam posisi match point karena hanya fokus pada permainan. Itu akhirnya membawa saya pada kemenangan,” katanya.
| Partai Final | Hasil | Momen Penting |
|---|---|---|
| Linda Noskova vs Karolina Muchova | 6-2, 5-7, 6-3 | Gagal pada 4 match point sebelum menang di set ketiga |
Dalam usia 21 tahun 237 hari, Noskova menjadi juara tunggal putri Wimbledon termuda setelah Petra Kvitova. Pada 2011, Kvitova menjuarai Wimbledon dalam usia 21 tahun 116 hari.
Emosi, keluarga, dan sorotan para legenda Ceko
Perayaan kemenangan Noskova juga terasa emosional ketika ia menerima trofi dari Putri Wales Kate Middleton. Ia kemudian berterima kasih kepada ibunya, Ivana, yang meninggal karena kanker dua tahun lalu.
“Saya tidak akan berdiri di sini tanpa ibu saya. Terima kasih,” kata Noskova dengan suara tercekat, lalu melayangkan ciuman ke udara.
Petenis yang kini menjadi idola baru itu juga mendapat perhatian dari Petra Kvitova, yang menyaksikan final dari Royal Box. Kvitova, juara Wimbledon 2014, bahkan memberi selamat langsung kepada Noskova di dekat ruang ganti pemain.
Selain Kvitova, nama Martina Navratilova juga ikut menjadi bagian dari momen bersejarah itu. Navratilova yang lahir di Ceko dan kemudian menjadi petenis AS hadir di Royal Box untuk menyaksikan generasi penerus petenis putri Ceko.
Rutinitas, takhayul, dan kepedulian lingkungan
Di luar gelar juara, Noskova juga menarik perhatian karena kebiasaannya yang sangat teratur. Ia mengaku memiliki 20 hingga 30 poin takhayul yang dilakukan setiap hari dan nyaris tidak pernah diubah.
Rutinitas itu mencakup aktivitas pagi yang sama, menu makan siang yang sama, hingga penggunaan kamar mandi dan wastafel yang sama. Menurut Noskova, kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Di sisi lain, Noskova juga dikenal aktif sebagai sukarelawan di bidang lingkungan. Lahir di Vsetin, daerah pedesaan di Ceko yang dekat dengan hutan, ia menyebut dirinya akrab dengan isu lingkungan sejak lama.
Salah satu aksinya adalah menjadi sukarelawan di Zanzibar pada November 2025, termasuk mengajar bahasa Inggris dan geografi di sekolah. Ia juga menyatakan kepedulian terhadap kemiskinan di negara Afrika tersebut.
Noskova mengatakan bahwa setelah karier tenisnya selesai, ia ingin tetap aktif dalam kegiatan lingkungan. Dengan usianya yang masih muda, gelar Wimbledon ini menjadi awal baru yang penting, tetapi konsistensi di level tertinggi tetap akan menjadi ujian berikutnya.
Source: www.kompas.id






