Penembakan mematikan oleh petugas imigrasi federal Amerika Serikat kembali memicu gelombang kemarahan, kali ini setelah seorang pria tewas di Biddeford, Maine. Kasus ini menambah daftar korban menjadi 11 orang sejak Donald Trump memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden.
Insiden itu juga langsung memantik tuntutan penyelidikan independen, terutama karena korban belakangan disebut bukan target utama operasi yang dijalankan petugas Immigration and Customs Enforcement atau ICE. Di tengah kebijakan penegakan imigrasi yang agresif, kasus Maine menjadi sorotan baru atas penggunaan kekuatan oleh aparat.
Operasi berujung tembakan di Biddeford
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS atau DHS mengonfirmasi bahwa seorang petugas ICE menembak mati seorang pria di Biddeford pada Senin, 13 Juli 2026 waktu setempat. Menurut DHS, petugas sedang mengawasi alamat terakhir seorang imigran yang disebut sudah menerima perintah deportasi final.
DHS mengatakan seorang “imigran ilegal” keluar dari rumah yang diawasi menggunakan kendaraan, lalu aparat berusaha menghentikannya. Lembaga itu menyebut kendaraan tersebut berusaha melarikan diri sehingga petugas melepaskan tembakan karena khawatir terhadap keselamatan publik.
| Lokasi | Waktu | Keterangan DHS | Status penyelidikan |
|---|---|---|---|
| Biddeford, Maine | Senin, 13 Juli 2026 | Petugas ICE menembak saat kendaraan diduga berusaha kabur | FBI dan kantor Jaksa Agung Maine menyelidiki |
| Houston, Texas | Enam hari sebelumnya | ICE menembak mati Lorenzo Salgado Araujo saat menghentikan kendaraan | Kasusnya juga memicu bantahan saksi |
Namun, penjelasan resmi itu segera diperdebatkan. Senator Maine Angus King mengatakan kepada CNN bahwa korban bukan sasaran operasi ICE, sementara kelompok pembela hak imigran setempat menyebut pria itu warga Kolombia berusia 26 tahun.
King juga mengatakan para petugas ICE yang terlibat tidak mengenakan kamera tubuh. Ia menambahkan bahwa FBI akan memimpin penyelidikan atas insiden tersebut, sementara kantor Jaksa Agung Maine menyatakan pihaknya juga sedang aktif menyelidiki penembakan itu.
Kesaksian warga dan rekaman yang beredar
Penembakan terjadi sekitar pukul 07.20 pagi waktu setempat di kota berpenduduk sekitar 22.000 jiwa itu. Seorang saksi yang diwawancarai Portland Press Herald mengatakan ia mendengar suara yang awalnya dikira kembang api dari luar rumahnya.
Saksi itu lalu melihat sebuah SUV berusaha menabrakkan diri ke mobil kecil putih di persimpangan jalan. Tak lama kemudian, sejumlah petugas berseragam rompi menghentikan kendaraan dan menarik keluar pengemudinya yang sudah berlumuran darah.
“Dia masih berbicara. Dia berkata, ‘Saya sudah mencoba berhenti’,” kata saksi tersebut kepada Press Herald. Ia kemudian melihat kaki korban berhenti bergerak ketika tergeletak di jalan.
Saksi lain yang diwawancarai Biddeford Gazette mengatakan sedikitnya dua petugas ICE mengenakan rompi hijau mengepung sedan putih yang berhenti di persimpangan. Menurutnya, para petugas berteriak sangat keras sebelum terdengar sedikitnya empat kali suara tembakan.
Media sosial juga dipenuhi foto dan video yang diduga memperlihatkan detik-detik kejadian. Salah satu foto menunjukkan kaca depan kendaraan dipenuhi lubang bekas peluru.
Dalam video yang dirilis Press Herald, sebuah sedan kecil tampak perlahan berputar sementara sejumlah pria mengejarnya sambil mencoba membuka pintu mobil. Belum diketahui apakah video itu direkam sebelum atau sesudah penembakan.
Video lain memperlihatkan petugas berusaha mengeluarkan tubuh korban yang sudah tidak berdaya dari dalam mobil sebelum memborgolnya. Rekaman berbeda menunjukkan aparat federal bersama polisi setempat mengelilingi korban yang tergeletak di tanah sambil memberikan pertolongan medis.
Status korban masih diperdebatkan
Identitas korban belum diumumkan secara resmi, tetapi laporan mengenai status imigrasinya saling bertentangan. Kelompok pembela hak imigran menyatakan korban memiliki izin kerja legal di AS dan telah memperoleh nomor jaminan sosial.
Sebaliknya, NewsNation mengutip sejumlah sumber yang menyebut korban telah menerima perintah deportasi final. Senator Angus King mengatakan Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin juga menyebut pria tersebut memang telah mendapatkan perintah deportasi.
Kasus Maine menjadi penembakan kelima dari 11 insiden mematikan yang terjadi ketika korban sedang mengendarai kendaraan. DHS sebelumnya berulang kali menyatakan korban-korban penembakan oleh ICE menggunakan kendaraan mereka sebagai senjata, meski dalam sejumlah kasus rekaman video kemudian memunculkan keraguan terhadap versi resmi pemerintah.
Di Maine, penembakan ini memicu reaksi keras dari politisi Demokrat. Sekretaris Negara Bagian Maine Shenna Bellows menulis di X bahwa “Sudah waktunya ICE disingkirkan dari jalan-jalan kita.”
Mantan Senator Negara Bagian Maine Troy Jackson juga menyatakan timnya terus memantau perkembangan kasus itu. Wali Kota Biddeford Liam Fountain sebelumnya pernah menyebut konsep penegakan hukum imigrasi di kotanya sebagai sesuatu yang “sangat mengkhawatirkan.”
Fountain mengatakan Biddeford dibentuk oleh para imigran dan orang-orang yang datang mencari keamanan, pekerjaan, serta kesempatan membangun kehidupan. Di sisi lain, insiden di Maine muncul hanya enam hari setelah petugas ICE di Houston, Texas, menembak mati Lorenzo Salgado Araujo dalam peristiwa serupa.
Dalam kasus Texas itu, para saksi yang berada di dalam mobil bersama Salgado membantah klaim ICE bahwa korban menggunakan kendaraannya sebagai senjata. Juru bicara DHS kemudian mengakui Salgado sebenarnya bukan target operasi penangkapan saat itu, meski agen tetap menghentikan mobilnya karena ada penumpang yang dianggap mirip target operasi.
Source: www.cnbcindonesia.com






