Di usia 30 tahun, Dedi Kurniawan akhirnya memulai kuliah Kedokteran Gigi di Jerman. Kisahnya menonjol bukan hanya karena terlambat dibanding banyak orang, tetapi karena ia menembus sistem pendidikan yang tidak memandang umur sebagai penghalang.
Dedi kini menjadi murid tertua di antara 50 mahasiswa Kedokteran Gigi di Johannes Gutenberg University of Mainz. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa Asia pendatang di angkatannya, menurut pengakuannya kepada Kompas.com.
Perjalanan panjang sebelum masuk kampus
Perjalanannya menuju kursi kuliah tidak berlangsung singkat. Setelah lulus SMA pada 2011, Dedi tidak bisa langsung melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga, sementara jalur undangan perguruan tinggi juga tidak berpihak padanya.
Ia sempat menganggur, lalu mengalihkan impian ke dunia kerja luar negeri. Dari penghasilan sebagai salesman, Dedi mengumpulkan modal untuk masuk ke sekolah perhotelan di Bali, lalu menjalani magang dan bekerja di kapal pesiar yang melintasi Asia.
Setelah itu, ia pindah ke kapal pesiar di Eropa yang berlayar di sungai. Pengalaman hampir dua tahun di Eropa membuatnya tertarik tinggal di Jerman, lalu ia mulai belajar bahasa setempat dengan guru privat di Bekasi sebelum pandemi Covid-19 datang.
| Tahap | Lokasi | Catatan |
|---|---|---|
| Selepas SMA | Indonesia | Tertahan karena kondisi ekonomi keluarga |
| Sekolah perhotelan | Bali | Elizabeth International Hotel & Business School |
| Pekerjaan kapal pesiar | Asia dan Eropa | Pernah mabuk laut saat bekerja di kapal |
| Belajar bahasa Jerman | Bekasi dan rumah | Belajar privat lalu mandiri saat lockdown |
Ketika pandemi melanda dan ia kembali ke kampung halaman pada 2020, Dedi belajar bahasa Jerman sendiri selama hampir satu tahun. Dari situ ia menemukan jalan lewat program Bundesfreiwilligendienst atau BFD, setelah sebelumnya mendapati bahwa syarat program Freiwilliges Soziales Jahr atau FSJ sudah tidak berlaku untuk usianya.
BFD, kerja sukarela, lalu Ausbildung
Dedi mendaftar ke ICE Dresden melalui situs freiwilligendienst.de. Ia sempat berharap tidak memakai agen, tetapi pihak institusi di Jerman mengarahkan agar ia menggunakan agen mitra yang membantu kualifikasi bahasa, ujian, dan pencarian tempat kerja sukarela.
Biaya agen yang ia keluarkan sekitar Rp 5 sampai 6 juta. Ia juga mengikuti ujian kemampuan bahasa Jerman tingkat A2 bersama agen, bukan di Goethe Institut, dan mendapatkan sertifikat yang bisa dipakai untuk pengajuan visa ke Jerman.
Pada Agustus 2021, Dedi tiba di Jerman dan langsung ditempatkan di panti jompo di kota Gera. Ia mengaku pekerjaan itu berat, termasuk memandikan penghuni panti dan mengganti pakaian mereka, hingga berat badannya turun cukup banyak.
Ia menjalani BFD selama 10 bulan sebelum mendapat jalan baru lewat program Ausbildung. Program itu membawanya pindah ke Köln untuk belajar sekaligus praktik kerja sebagai asisten dokter gigi atau perawat yang membantu dokter gigi.
| Program | Durasi | Tempat | Keterangan |
|---|---|---|---|
| BFD | 10 bulan | Gera | Bekerja di panti jompo |
| Ausbildung | 2 tahun | Köln | Asisten dokter gigi |
Ausbildung yang dipersingkat karena nilai bagus
Normalnya, Ausbildung berlangsung tiga tahun. Namun karena nilai sekolah Dedi bagus, masa pelatihannya bisa dipangkas menjadi dua tahun, setelah guru-gurunya menyarankan pemangkasan satu tahun.
Dedi tetap mengejar hasil maksimal selama menjalani pendidikan itu. Ia memilih tidak memangkas terlalu banyak waktu agar tetap bisa belajar materi tahun ketiga, dan akhirnya lulus dengan nilai 1,0, nilai tertinggi dalam sistem penilaian 1,0 sampai 4,0 di Jerman.
Setelah menyelesaikan Ausbildung, ia melanjutkan ke tahap kuliah Kedokteran Gigi di Johannes Gutenberg University of Mainz. Kampus itu menjadi pilihannya setelah ia berkonsultasi dengan mahasiswa yang menilai pengajaran di sana memuaskan.
Universitas Mainz juga memberikan pengecualian dari Studienkolleg, yakni tahap penyetaraan selama satu tahun bagi warga asing sebelum kuliah di Jerman. Menurut Dedi, kampus itu hanya mensyaratkan lulusan Ausbildung dengan nilai di bawah 2,5, tanpa meminta latar belakang pendidikan terakhir secara khusus.
Untuk masuk, Dedi perlu melegalisasi ijazah Ausbildung-nya ke Universitas Mainz agar dinyatakan valid. Setelah itu, ia dinyatakan memenuhi syarat dan tetap mendapatkan nilai 1,0 saat proses pengakuan akademik tersebut.
Tak khawatir soal usia dan prospek kerja
Dedi memulai studi kedokteran gigi pada Juli 2025 dan kini sudah berada di akhir semester 2. Total masa studi yang harus ia tempuh adalah lima tahun.
Ia tidak merasa cemas soal prospek kerja meski memulai kuliah pada usia 30 tahun. Menurutnya, Jerman masih kekurangan dokter dan dokter gigi, sehingga kesempatan kerja di sana tetap terbuka lebar.
Selain soal karier, Dedi juga melihat budaya belajar di Jerman lebih fleksibel terhadap umur. Ia menyebut tidak ada stigma negatif bagi orang yang kembali kuliah di usia 50 atau 65 tahun selama mampu memenuhi syarat dan mengikuti studi.
Biaya kuliah Kedokteran Gigi di kampusnya juga relatif terjangkau. Tidak ada uang pangkal, sementara biaya semester berada di kisaran 350 sampai 367 Euro dan sudah termasuk fasilitas transportasi gratis.
