Dedi Kurniawan menjalani kuliah Kedokteran Gigi di Jerman dengan pengalaman yang tak biasa. Mahasiswa asal Indonesia ini belum membeli buku teori, sementara biaya semester di kampusnya berada di kisaran 350 hingga 367 Euro.
Kemudahan akses buku dan sistem pembelajaran daring tidak membuat studinya ringan. Pada semester kedua, Dedi harus menghadapi praktikum padat, ulangan mingguan, serta ujian anatomi lisan di depan profesor dan mayat.
Biaya Semester Termasuk Transportasi
Dedi menempuh studi di Johannes Gutenberg University of Mainz setelah memulai perkuliahan pada 2025 di usia 30 tahun. Menurut kisahnya kepada www.kompas.com, kampus negeri di Jerman tidak menerapkan uang pangkal untuk mahasiswa.
Biaya semester Kedokteran Gigi yang ia bayarkan berkisar 350 sampai 367 Euro dan nominalnya dapat berubah setiap semester. Pembayaran tersebut sudah mencakup fasilitas transportasi umum menuju kampus.
Nominal biaya kuliah ini tidak dibedakan berdasarkan jurusan. Mahasiswa Kedokteran, ekonomi, maupun teknologi informasi membayar biaya semester dengan skema yang sama di kampusnya.
Di kampus lain, biaya semester dapat lebih rendah karena tidak selalu disertai fasilitas transportasi gratis. Dedi menyebut ada mahasiswa yang membayar sekitar 82 Euro atau 90 Euro.
Buku Teori Bisa Dipinjam atau Diunduh
Kebutuhan buku menjadi salah satu hal yang lebih ringan bagi Dedi selama kuliah. Kampus menyediakan banyak buku yang dapat dipinjam, sementara sebagian materi juga tersedia dalam format daring untuk diunduh gratis.
“Aku sampai sekarang belum ada beli buku sama sekali,” ujar Dedi. Akses itu membantunya memperoleh bahan belajar tanpa harus membeli buku fisik ilmu Kedokteran Gigi.
Sistem belajar di kampus juga memberi ruang besar untuk belajar mandiri dari rumah. Presentasi dosen yang tidak wajib hadir dapat diakses melalui portal universitas setelah materi diunggah.
Namun, mahasiswa tetap harus datang untuk mata kuliah praktikum dan seminar. Dedi juga menilai para dosen di Jerman terbuka terhadap pertanyaan dari mahasiswa selama proses pembelajaran.
Bekal dari Ausbildung Perawat Gigi
Perjalanan Dedi menuju bangku kuliah dimulai ketika ia datang ke Jerman pada 2021 untuk mengikuti program pekerja sosial Bundesfreiwilligendienst atau BFD. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan vokasi sambil praktik kerja melalui program Ausbildung.
Ia memilih Ausbildung sebagai perawat gigi atau asisten dokter gigi selama dua setengah tahun. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang membuatnya lebih mudah memahami sebagian materi kuliah.
Meski demikian, tantangan terbesarnya tetap bahasa Jerman dan materi sains yang harus dipelajari kembali. Dedi telah lulus SMA sekitar 15 tahun sebelumnya sehingga perlu mengulang pemahaman fisika dan kimia dari awal.
Pada semester kedua, jadwalnya dipenuhi praktikum berdurasi tiga jam, termasuk pembedahan mayat, praktik di area gigi, dan praktikum fisika. Setiap praktikum fisika serta Kedokteran Gigi juga disertai ujian atau ulangan.
Nilai Semester Bukan Penentu Akhir
Program Kedokteran Gigi di Jerman berlangsung selama lima tahun. Dua tahun pertama digunakan untuk masa preklinik yang berfokus pada pembelajaran teori sebelum mahasiswa memasuki tahap klinik.
Tahap klinik terbagi menjadi dua bagian. Pada klinik pertama, mahasiswa berpraktik menggunakan gigi plastik, sedangkan pada klinik kedua mereka mulai menangani pasien.
| Tahap Evaluasi | Waktu Pelaksanaan | Catatan |
|---|---|---|
| Ujian negara pertama | Setelah 2 tahun kuliah | Menjadi bagian dari evaluasi nasional calon dokter gigi |
| Ujian negara kedua | Setelah 3 tahun kuliah | Nilainya lebih menentukan dibanding ujian semester |
| Ujian negara ketiga | Setelah 5 tahun kuliah | Hasil ujian negara tercantum pada ijazah |
Dedi menjelaskan bahwa kampusnya tidak menggunakan IPK sebagai tolok ukur setiap semester. Nilai ujian semester pada dasarnya berstatus lulus atau tidak lulus, kecuali diperlukan untuk kepentingan seperti pengajuan beasiswa.
Mahasiswa yang belum lulus ujian semester harus mengulang ujian tersebut. Sementara itu, ujian negara dapat diulang hingga tiga kali sebelum mahasiswa berisiko terkena drop out apabila tetap tidak berhasil.
Tekanan akademik itu tetap dijalani Dedi demi mengejar cita-cita lamanya menjadi dokter gigi. Baginya, kesempatan kuliah pada usia 30 tahun menjadi alasan untuk terus bertahan meski materi dan ritme belajar terasa berat.







