Traktor Perahu Listrik ITS untuk Gambut, Sekali Isi Baterai Target 1 Hektare

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan traktor perahu listrik untuk menjawab tantangan pengolahan lahan gambut yang basah dan memiliki daya dukung rendah. Bentuknya menyerupai kapal agar dapat bergerak di atas lahan tanpa mudah tenggelam seperti kendaraan pertanian konvensional.

Inovasi ini menggabungkan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi dalam satu kendaraan taktis. Dengan baterai penuh, traktor tersebut diperkirakan dapat digunakan selama tiga hingga empat jam untuk membajak lahan sekitar 1 hektare.

Lahan gambut menjadi salah satu fokus pengembangan karena luas areanya di Indonesia belum selalu diikuti tingkat produktivitas yang optimal. Kondisi tanah yang basah membuat penggunaan alat mekanisasi pertanian biasa tidak selalu efektif.

Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati S.T., M.Sc. Eng., Ph.D. menyebut rancangan ini telah menarik perhatian Kementerian Pertanian RI. Dalam uji coba di area lahan gambut Kampus ITS, kendaraan tersebut diperlihatkan sebagai alternatif alat pengolahan tanah basah.

Dirancang Mengutamakan Torsi, Bukan Kecepatan

Tim STP Otomotif ITS merancang alat ini khusus untuk pekerjaan membajak sawah. Fokus utamanya adalah menghasilkan torsi tinggi untuk menggemburkan tanah, bukan mengejar kecepatan kendaraan.

Traktor perahu ini menggunakan motor listrik berdaya 10 kilowatt. Sistem listriknya bekerja pada tegangan sekitar 72 volt dengan arus 32 ampere dan baterai berkapasitas 140 ampere hour atau Ah.

KomponenSpesifikasiFungsi
Motor listrik10 kWMenghasilkan tenaga untuk membajak
Tegangan kerjaSekitar 72 voltMendukung sistem penggerak elektrik
Arus32 ampereMenghasilkan daya sekitar 10 kW
Kapasitas baterai140 AhPenggunaan sekitar 3–4 jam

Sistem display elektronik dipasang agar operator dapat memantau kondisi baterai, suhu, dan tegangan secara langsung. Ban karet juga digunakan untuk membantu mobilitas traktor saat perlu mengakses jalan raya.

Prof. Dr. Bambang Sudarmanta, pemimpin penelitian sekaligus Manajer STP Otomotif ITS, menjelaskan motor listrik berpotensi menekan biaya operasional dibandingkan traktor berbahan bakar fosil. Penggunaan penggerak elektrik juga ditujukan untuk mendukung pertanian rendah emisi.

“Keunggulan lainnya ialah respon torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah,” kata Bambang Sudarmanta. Respons tenaga tersebut menjadi penting karena alat harus menarik bajak di medan yang lunak dan basah.

Target Membajak 1 Hektare

Berdasarkan simulasi tim, lahan berukuran 100 meter x 100 meter memerlukan 56 lintasan saat menggunakan bajak selebar 1,8 meter. Akumulasi lintasan yang perlu ditempuh mencapai sekitar 5,6 kilometer.

Dengan perhitungan tersebut, ITS mengestimasi satu kali pengisian baterai dapat mendukung pengolahan area seluas 1 hektare. Estimasi itu masih menjadi bagian dari pengembangan yang terus divalidasi melalui pengujian.

Menurut www.kompas.com, tim sebelumnya menemukan kendala panas berlebih ketika melakukan uji coba langsung di sawah. Karena itu, sistem pendingin akan ditambahkan sebagai komponen penting pada pengembangan berikutnya.

Pengembangan Traktor Perahu Listrik ITS juga diarahkan untuk meminimalkan degradasi struktur tanah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan mekanisasi untuk pertanian di kawasan lahan basah dan gambut.

Terkait