Kerja Keras Tak Selalu Berbuah Kenaikan Gaji, Dosen USU Ungkap Cara Mengubahnya

Author: Qoo Media

Bekerja lebih lama tidak selalu membuat daya beli ikut meningkat. Ketika kenaikan pendapatan kalah cepat dari biaya kebutuhan sehari-hari, pekerja dapat merasa gajinya tidak bergerak meski beban kerja terus bertambah.

Kondisi tersebut dikenal sebagai stagnasi upah atau wage stagnation. Dosen Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Dr. Monika Andrasari, S.E., M.Si., menjelaskan situasi ini lewat unggahan akun Instagram resmi USU.

Gaji naik, tetapi harga bergerak lebih cepat

Stagnasi upah terjadi ketika pendapatan pekerja tidak mengalami kenaikan berarti dalam periode panjang. Masalahnya bukan semata nominal gaji yang tetap, melainkan kemampuan gaji tersebut membeli kebutuhan yang makin menyusut.

Monika menyebut kenaikan upah dan harga barang seperti saling mengejar. Namun, harga di pasar dapat berubah lebih sering, sedangkan gaji pekerja umumnya hanya naik sekali dalam setahun.

Ia mencontohkan inflasi yang berada di kisaran 3,34 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia per Juni 2026. Angka inflasi yang stabil tidak serta-merta menghilangkan tekanan bagi pekerja apabila pertumbuhan upahnya lebih lambat dibanding pengeluaran rutin.

Dalam penjelasannya, Monika menyinggung keluhan tentang semakin sulitnya menyisihkan uang dari hasil kerja. Tekanan itu dapat terasa pada kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang harganya terus berubah.

Daya tawar pekerja bisa melemah

Menurut Monika, persoalan ini juga berkaitan dengan pasar tenaga kerja. Ketika jumlah lulusan atau pencari kerja lebih besar daripada lowongan yang tersedia, daya tawar pekerja menjadi lebih kecil.

Situasi tersebut dapat membuat pekerja menerima gaji pas-pasan atau bekerja pada posisi yang levelnya berada di bawah pendidikan yang dimiliki. Persaingan yang ketat membuat perusahaan memiliki lebih banyak pilihan tenaga kerja.

“Kalau di pasar tenaga kerja terlalu banyak nih lulusan atau (lapangan kerja) yang tersedia lebih sedikit daripada lulusan yang ada. Yang terjadi apa? Bargaining power (daya tawar) dari pihak supply jadi kecil,” kata Monika.

Penjelasan itu menunjukkan bahwa kerja keras tetap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk meningkatkan penghasilan. Kemampuan yang umum dan mudah ditemukan pada banyak pelamar cenderung memberi ruang tawar yang lebih sempit.

Kombinasi keahlian menjadi pembeda

Solusi yang disarankan Monika adalah meningkatkan nilai diri melalui kombinasi keterampilan yang lebih spesifik. Keahlian tambahan dapat membuat seorang pekerja lebih sulit digantikan dan lebih relevan dengan kebutuhan pekerjaan.

Ia menekankan pentingnya memilih kemampuan yang tidak hanya sesuai bidang pendidikan, tetapi juga melengkapi kemampuan inti. Beberapa contoh yang ia sampaikan dapat dilihat dalam tabel berikut.

Bidang Kemampuan inti Keahlian pelengkap
Ekonomi Ekonometrika Data analytics
Akuntansi Membuat laporan keuangan Excel tingkat lanjut
Komunikasi Kemampuan berbicara Content strategy dan data insight
Ilmu hukum Regulasi Kontrak digital dan teknologi

Bagi mahasiswa ekonomi, misalnya, kemampuan ekonometrika dapat dipadukan dengan data analytics. Sementara itu, mahasiswa akuntansi dapat memperkuat kemampuan menyusun laporan keuangan dengan penguasaan Excel tingkat lanjut.

Monika juga menilai pelajar komunikasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan berbicara. Pemahaman mengenai content strategy dan data insight dapat menjadi nilai tambah dalam kebutuhan industri yang terus berubah.

Di bidang hukum, penguasaan regulasi dapat dilengkapi dengan pemahaman soal kontrak digital dan teknologi. Kombinasi semacam ini membuat kompetensi pekerja lebih khusus dibanding keterampilan dasar yang dimiliki banyak orang.

Menurut laporan www.kompas.com, penjelasan Monika disampaikan melalui video unggahan akun @official.usu pada 7 Juli 2026. Ia menekankan bahwa nilai seseorang akan meningkat ketika kombinasi keahliannya semakin unik.

“Jadi kalau gaji terasa stagnan, bukan kerja kerasnya yang dikurangi tapi kombinasi skill atau strateginya yang harus diubah,” ujar Monika. Pendekatan itu menempatkan pengembangan kemampuan sebagai salah satu cara menghadapi stagnasi upah di tengah persaingan kerja.

Terbaru