Target tidur delapan jam setiap malam kerap dianggap sebagai patokan mutlak untuk hidup sehat. Namun, ahli tidur mengingatkan bahwa angka tersebut tidak selalu cocok bagi setiap orang.
Durasi tidur memang penting, tetapi kualitas tidur dan keteraturan waktu istirahat dapat memberi gambaran yang lebih bermakna. Tidur 6,5 jam yang dilakukan konsisten bahkan dapat lebih baik dibanding tidur delapan jam yang terputus-putus.
Tidur Bukan Sekadar Waktu Pasif
Saat tidur, tubuh menjalankan sejumlah proses biologis penting yang tidak terlihat. Otot dipulihkan, tekanan darah menurun, dan sisa metabolisme yang berbahaya turut dibersihkan.
Karena itu, tidur yang kurang dari sisi kualitas maupun kuantitas dapat menjadi perhatian bagi kesehatan. Kekurangan tidur dan tidur berlebihan sama-sama tidak dianjurkan karena berkaitan dengan risiko kesehatan.
Kesadaran untuk memantau kualitas tidur juga meningkat seiring penggunaan jam tangan pintar. Banyak orang melacak pola istirahatnya dan berupaya mencapai angka tidur yang dianggap ideal setiap malam.
Masalahnya, angka ideal tersebut tidak dapat diterapkan secara seragam. Kebutuhan tidur seseorang dipengaruhi oleh kondisi dan rutinitas yang berbeda-beda.
Rekomendasi 7-8 Jam Tidak Berlaku untuk Semua Orang
Michael Perlis, Direktur Pengobatan Perilaku Tidur di Universitas Pennsylvania, menyebut rekomendasi medis tujuh hingga delapan jam efektif bagi banyak orang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa patokan itu tidak berlaku untuk semua individu.
Menurut Perlis, kebutuhan tidur tidak hanya ditentukan oleh satu angka. Jenis kelamin, usia, durasi terjaga yang biasa dialami, hingga beban mental dan fisik harian ikut memengaruhi kebutuhan istirahat.
Kondisi kesehatan serta kebutuhan tidur basal seseorang juga perlu diperhitungkan. Faktor-faktor tersebut membuat durasi tidur yang cukup bagi satu orang belum tentu tepat untuk orang lain.
“Karena tidak memperhitungkan jenis kelamin, usia, durasi tipikal periode bangun individu, jumlah pengeluaran mental dan fisik per hari, kesehatan, dan kebutuhan tidur basal,” ujar Perlis, seperti dikutip CNN Indonesia dari CNA. Pernyataan itu menyoroti keterbatasan penggunaan target jam tidur yang sama bagi semua orang.
Konsistensi Lebih Penting daripada Mengejar Angka
| Durasi | Pola Tidur | Gambaran Kualitas |
|---|---|---|
| 6,5 jam | Konsisten setiap malam dan pada waktu yang sama | Dapat berkualitas baik |
| 8 jam | Terfragmentasi, penuh kecemasan, dan berubah-ubah | Dapat kurang baik |
Perlis menempatkan keteraturan rutinitas tidur sebagai hal yang lebih penting ketimbang sekadar memenuhi target angka tertentu. Pola tidur yang berlangsung pada jam yang sama setiap malam dinilai dapat mendukung kualitas istirahat yang baik.
Sebaliknya, waktu tidur yang lebih panjang tidak otomatis menjadi pilihan terbaik. Tidur delapan jam dapat kehilangan nilainya bila berlangsung terfragmentasi, disertai kecemasan, atau berubah-ubah dari malam ke malam.
Pesan utamanya bukan mengabaikan kebutuhan tidur, melainkan tidak memaksakan satu patokan untuk semua orang. Perhatian perlu diarahkan pada apakah tidur berlangsung cukup berkualitas dan dilakukan secara teratur.
Dengan begitu, target tidur tidak berhenti sebagai angka pada aplikasi atau perangkat pelacak. Pola istirahat yang stabil dapat menjadi pertimbangan yang lebih relevan dibanding obsesi untuk selalu mencapai delapan jam.
