Riset CT Scan Choirul Anam Tembus 48 Besar Dunia, Dorong Pemeriksaan Lebih Aman

Author: Qoo Media

Peneliti Departemen Fisika Universitas Diponegoro, Dr. Choirul Anam, M.Si., F.Med, masuk peringkat ke-48 ilmuwan dunia bidang computed tomography atau CT scan versi ScholarGPS. Pencapaian ini menempatkannya di jajaran 50 besar peneliti global dalam pengembangan teknologi pencitraan medis.

Posisi tersebut menonjol karena riset yang dikerjakan tidak hanya membahas kualitas gambar CT scan, tetapi juga keselamatan pasien. Fokus utamanya adalah menekan paparan radiasi tanpa mengorbankan ketajaman citra yang dibutuhkan dokter untuk diagnosis.

Lompatan dari Peringkat 99 Dunia

Peringkat Choirul Anam mengalami kenaikan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya. Pada pemeringkatan dengan data hingga 2024, namanya masih berada di posisi ke-99 dunia.

Periode Data Peringkat Choirul Anam Bidang
Hingga 2024 99 dunia Computed tomography
Hingga 2025 48 dunia Computed tomography

ScholarGPS menyusun pemeringkatan lintas disiplin yang merangkum peneliti dari berbagai negara. Daftar itu mencakup pihak yang melakukan riset dan pengembangan teknologi CT scan dalam periode lima tahun terakhir.

Menurut penjelasan Universitas Diponegoro yang dikutip www.kompas.com, penilaian tersebut melibatkan peneliti dari beragam keahlian. Mereka antara lain berasal dari radiologi, onkologi, kesehatan masyarakat, teknik biomedis, teknik komputer, matematika, dan fisika.

Menjaga Dosis Radiasi Tetap Terkendali

Riset Teknologi CT Scan yang dikembangkan Choirul Anam berfokus pada perangkat lunak untuk otomatisasi dosimetri radiasi dan optimalisasi kualitas citra. Dosimetri berperan dalam pemantauan serta pengelolaan tingkat paparan radiasi yang diterima pasien.

Pendekatan ini ditujukan agar paparan radiasi dapat diukur secara lebih efisien dan dikendalikan dengan presisi. Hasilnya diharapkan mendukung prosedur pemeriksaan radiologi yang lebih aman serta lebih optimal bagi pasien.

Undip menyatakan pengurangan dosis radiasi hingga tingkat seminimal mungkin dapat dilakukan tanpa mengorbankan kualitas gambar. Hal itu penting terutama bagi pasien yang memerlukan pemeriksaan berulang dan kelompok rentan, termasuk pasien anak-anak.

Pengendalian dosis menjadi salah satu isu penting dalam pemeriksaan CT scan karena teknologi ini menggunakan radiasi untuk menghasilkan gambaran organ internal. Karena itu, upaya menjaga dosis serendah mungkin tetap perlu berjalan bersama kebutuhan citra klinis yang memadai.

Citra Tajam untuk Diagnosis Lebih Cepat

Selain aspek keselamatan, optimalisasi kualitas citra menjadi bagian utama dari penelitian Choirul Anam. Visualisasi organ internal yang jelas dan tajam dapat membantu dokter radiologi mendeteksi penyakit lebih dini secara lebih tepat.

Undip menilai citra yang lebih baik dapat memudahkan tindakan medis dilakukan dengan lebih cepat dan efektif. Manfaat akhirnya diharapkan terasa pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Dalam jajaran 50 besar itu, Choirul Anam berada bersama sejumlah tokoh yang disebut sebagai pionir pencitraan medis global. Nama-nama yang tercantum antara lain Prof. Cynthia McCollough dari Mayo Clinic, Prof. Joël Greffier dari Prancis, Prof. John Damilakis dari Yunani, dan Prof. Madam Rehani dari Amerika Serikat.

Pencapaian tersebut juga menjadi penanda bahwa riset dari Indonesia dapat memperoleh pengakuan pada komunitas medis internasional. Manajemen Universitas Diponegoro menyebut prestasi itu sebagai katalisator bagi civitas akademika untuk melahirkan penelitian yang berdampak dari laboratorium di Semarang.

Undip memandang keberhasilan ini sebagai bagian dari langkah strategis kampus menuju jajaran 500 besar World Class University. Bagi layanan kesehatan, pengembangan CT scan dengan radiasi minimal dan citra tetap tajam membuka peluang pemeriksaan yang lebih aman sekaligus mendukung ketepatan diagnosis.

Terbaru