Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memimpin pertemuan tingkat menteri ketiga Mangrove Alliance for Climate (MAC) yang berlangsung dalam Abu Dhabi Sustainability Week (ADSW) 2026, di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab. Pada pertemuan ini, Zulhas menegaskan bahwa komitmen negara anggota MAC harus diterjemahkan ke dalam aksi restorasi dan konservasi mangrove yang nyata dan terukur.
MAC merupakan aliansi global yang diinisiasi oleh Indonesia bersama Uni Emirat Arab, kini beranggotakan 47 negara. Tujuan utama aliansi ini adalah mengatasi perubahan iklim dengan memperkuat program restorasi mangrove berkelanjutan yang memiliki dampak ekologis dan sosial langsung.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab, Amna bint Abdullah Al Dahak Al Shamsi, menyatakan bahwa MAC akan menyusun pedoman restorasi berbasis ilmu pengetahuan. Pedoman ini diharapkan meningkatkan keberhasilan penanaman mangrove di seluruh negara anggota MAC.
Sebagai wujud penguatan komitmen, Zulhas dan Amna menandatangani MAC Charter. Piagam ini menegaskan transparansi dan efektivitas kerja sama aliansi, serta memperluas kolaborasi dengan mitra internasional demi mencapai visi MAC.
Pertemuan ini dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara anggota seperti Australia, Kolombia, Filipina, Inggris, Jerman, Kuwait, Rusia, dan Kuba. Selain itu, mitra internasional seperti Mangrove Breakthrough memberikan dukungan dan apresiasi terhadap peran Indonesia dan Uni Emirat Arab dalam memimpin aliansi ini.
Zulhas mengonfirmasi kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri MAC berikutnya. Hal ini sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam penguatan konservasi mangrove dan upaya mitigasi perubahan iklim secara global.
Selain mengikuti pertemuan MAC, Zulhas menggelar pembicaraan bilateral dengan Utusan Khusus Uni Emirat Arab untuk Indonesia bidang energi, iklim, dan investasi. Diskusi tersebut fokus pada kelanjutan kerja sama sektor energi, serta peluang investasi di bidang pertanian dan perikanan antara kedua negara.
Pertemuan bilateral melibatkan juga Wakil Ketua MPR RI, Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, serta Staf Ahli Menko Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga. Kerja sama ini dipandang strategis dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Aksi nyata restorasi mangrove sangat krusial mengingat mangrove berperan penting sebagai penyerap karbon dan penyangga ekosistem pesisir. Aliansi MAC berupaya mendorong program yang tidak hanya efektif secara ekologis, tetapi juga memberi manfaat ekonomi sosial kepada masyarakat lokal.
Keberadaan 47 negara anggota MAC memperkuat komitmen global terhadap pelestarian mangrove sebagai solusi perubahan iklim. Dengan panduan ilmiah yang disusun, diharapkan standar restorasi mangrove menjadi lebih seragam dan hasilnya dapat dipantau dengan baik.
Indonesia dan Uni Emirat Arab menjadi motor utama dalam inisiatif global ini, memadukan kekuatan diplomasi dan keilmuan untuk aksi mitigasi iklim yang berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan target-target internasional dalam perjanjian iklim dan upaya menjaga keseimbangan lingkungan hidup.
Pengembangan konservasi mangrove secara masif membutuhkan sinergi berbagai pihak. MAC menjadi platform penting untuk menjembatani kepentingan negara anggota dan mempercepat implementasi program restorasi yang berdampak nyata.
Restorasi mangrove yang optimal dapat membantu menanggulangi risiko abrasi, memperkuat ketahanan ekosistem pesisir, dan mendukung ketahanan pangan melalui peningkatan hasil perikanan. Oleh karena itu, komitmen yang diusung oleh Zulhas dalam pertemuan MAC sangat strategis untuk masa depan lingkungan dan ekonomi masyarakat pesisir.
Dengan komitmen terukur dan dukungan dari banyak negara, diharapkan program restorasi mangrove dapat mencapai skalabilitas yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Ini penting agar peran mangrove dalam mitigasi perubahan iklim semakin optimal dan berkelanjutan.
