Syria mengirimkan pemimpin interimnya, Ahmad al-Sharaa, ke Moskow untuk melakukan pembicaraan penting dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Fokus utama pertemuan ini adalah membahas masa depan pangkalan militer Rusia di wilayah Suriah.
Kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya dalam waktu kurang dari empat bulan. Al-Sharaa sebelumnya juga berkunjung ke Rusia pada Oktober, setelah keberhasilan serangan cepat kelompok pemberontak yang menggulingkan Presiden Bashar Assad pada Desember 2024.
Keberhasilan pemberontak tersebut terjadi tanpa adanya perlawanan signifikan dari Rusia. Moskova, yang dalam beberapa tahun terakhir lebih fokus pada konflik di Ukraina, hanya mempertahankan kehadiran militer kecil di Suriah dan memberikan perlindungan kepada Assad beserta keluarganya setelah mereka melarikan diri.
Meskipun sebelumnya berada di pihak berlawanan selama perang saudara Suriah, pemerintah interim sekarang menunjukkan sikap terbuka untuk menjalin hubungan dengan Rusia. Tujuannya adalah agar Rusia dapat membantu proses rekonstruksi negara yang hancur akibat perang dan memperluas jaringan diplomatik Suriah.
Pentingnya Pangkalan Militer Rusia di Suriah
Bagi Kremlin, mempertahankan pangkalan militer di Suriah sangat strategis. Pangkalan udara Hmeimim dan pos angkatan laut di Tartus adalah satu-satunya pangkalan Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet yang berfungsi menjaga kehadiran militer Rusia di Laut Mediterania.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menjelaskan bahwa dalam pertemuan Putin dan al-Sharaa akan dibahas seluruh isu yang berkaitan dengan keberadaan militer Rusia di Suriah. Hal ini menegaskan betapa pentingnya negosiasi untuk menyepakati kehadiran yang berkelanjutan.
Baru-baru ini, pasukan Rusia mulai menarik diri dari posisi mereka di wilayah timur laut Suriah. Wilayah tersebut masih dikuasai oleh Angkatan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin oleh Kurdi, setelah wilayah itu direbut sebagian besar oleh pasukan pemerintah dalam sebuah serangan.
Faktor Pendukung dan Pengaruh Politik
Dinamisnya situasi militer dan politik di Suriah menjadi faktor utama mengapa Rusia terus menjalin komunikasi dengan pemerintah interim Suriah. Kehadiran Rusia di asosiasi pembangunan dan stabilisasi Suriah diharapkan membuka kesempatan untuk membangun kembali negara tersebut.
Berikut ini beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam pembicaraan Rusia-Suriah:
- Status dan masa depan pangkalan militer Rusia di Tartus dan Hmeimim
- Kerjasama militer dan rekonstruksi pascaperang
- Penyesuaian strategi politik Suriah dalam percaturan internasional
- Dampak penarikan pasukan Rusia dari wilayah timur laut terhadap keamanan regional
Pertemuan ini menandai langkah penting dalam transformasi hubungan Rusia dan Suriah pasca-perang saudara dan pergantian kepemimpinan. Keberhasilan pembicaraan tersebut diharapkan dapat membawa stabilitas baru di kawasan yang lama bergejolak.





